
"Syukurlah... syukurlah...."
Wira terus menggumamkan kata-kata yang sama, tak urung sebutir bening luruh tanpa di suruh yang sedari tadi mendesak di pelupuk mata dan mencekat di tenggorokan.
Hingga akhirnya Isak tangis dan sedu sedan tumpah tak terbendung dari pria tinggi kokoh yang selalu tampak tangguh itu. Sekujur tubuhnya bahkan masih gemetaran dibalut ketakutan dan keterkejutan, menahan kengerian andai obat itu telah ditelan oleh sang belahan jiwa.
Dara sebenarnya masih keheranan akan perubahan mood suaminya yang begitu tiba-tiba, ia mengangsurkan tangannya mengelus punggung lebar favoritnya dengan gerakan teratur.
"Mas Wira, sayang. Ada apa hmm?" tanya Dara lembut dengan Wira yang masih merengkuh tubuhnya erat.
Wira tak menjawab. Masih larut dalam tangisnya, bahkan air matanya menetes membasahi pundak Dara. Ia memeluk dan menghidu dengan rakus wangi tubuh istrinya. Memastikan bahwa Dara memang nyata masih ada dalam pelukannya, bergesekan kulit dengannya, merasakan kehangatan tubuh mungil itu didekapannya dan bukanlah ilusi semata.
Lama mereka dalam posisi itu, kemudian setelah beberapa saat isakannya mereda dan Wira melonggarkan pelukannya. Telapak tangannya menangkup kedua sisi wajah cantik yang selalu mengisi relung hatinya dan ia menundukkan wajahnya.
Dikecupnya lembut kening istrinya cukup lama yang diterima dengan sukacita oleh jiwa dan raga Dara, kemudian bibirnya turun berlabuh mengecup bibir ranum yang merah merekah itu sekilas.
"Di mana... di mana semua obat dari rumah sakit?" tanyanya.
"Ada di meja riasku Mas. Kenapa?" jawab Dara yang balik bertanya.
"Ada yang harus kupastikan," sahutnya. Kemudian Wira melangkah ke meja Rias dan mengambil bungkusan berwarna putih berlogo rumah sakit.
Ia mendudukkan dirinya di sofa disusul Dara yang masih kebingungan dengan situasi yang melanda suaminya karena sejak tadi Wira masih belum menjelaskan apapun padanya.
Wira membuka bungkusannya dan memeriksa satu persatu isinya. Ada empat jenis seperti biasa, dua botol vitamin dan satu jenis obat mual memang sesuai dengan yang diresepkan Raisa karena tadi siang Wira sempat membaca kertas putih itu sebelum diserahkan ke apotek.
Lalu ia membuka kemasan obat yang terakhir hingga berserakan di atas meja. Benar saja isinya memang obat peluruh kandungan, seingatnya harusnya yang satu lagi adalah obat untuk membantu meredakan muntah, tetapi kenapa berubah menjadi obat yang berbahaya semacam ini.
Pasti ada sesuatu yang tidak beres dan ada seseorang yang sengaja ingin mencelakai istriku, batinnya.
"Mas...."
Dara sedikit mengguncangkan lengan Wira dan menatap penuh tanya karena sejak tadi suaminya tak kunjung memberi penjelasan.
"Sayang. Untuk kedepannya mengenai pengambilan obat dan vitaminmu biar aku saja yang melakukannya. Agar aku bisa memeriksa kembali dan jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi."
"Memangnya kenapa Mas, ada apa dengan obatnya?" Dara mengerutkan dahinya samar.
Wira mengembuskan napasnya kemudian menatapnya lembut dan menggenggam kedua tangan Dara.
"Sepertinya ada yang sengaja ingin mencelakaimu. Untung saja belum sempat diminum. Kamu tahu fungsi dari obat ini?" Wira menunjuk ke arah obat yang berserakan itu.
Dara menggeleng karena memang tak paham tentang obat-obatan.
"Ini adalah obat yang bisa membahayakan bayi kita dan juga dirimu. Obat peluruh kandungan," ucap Wira pelan.
Dara terperangah. Matanya membelalak dengan mulut sedikit menganga tak percaya serta sekujur tubuhnya bergidik ngeri. Pantas saja Wira panik seperti orang gila, rupanya hal inilah penyebabnya.
"Ba-bagaimana bisa? si-siapa yang telah tega ingin berbuat jahat pada bayiku yang tak berdosa ini," Dara tergagap masih dalam arus keterkejutannya kemudian secara refleks lengannya memeluk perutnya sendiri.
"Akan kuselidiki karena ini adalah hal yang fatal. Takkan kuampuni siapapun pelakunya!"