
Di kediaman Wira, tampak Bu Rina dan para pelayan sedang sibuk mempersiapkan makan malam. Selagi menunggu, Dara bersantai di ruang keluarga sembari menonton siaran berita di televisi. Kabar tentang tertangkapnya Michelia menjadi trending topik semua laman berita, entah itu di seluruh saluran televisi, media sosial dan juga surat kabar.
Di layar besar berukuran 55 inci tersebut, menayangkan siaran tertangkapnya Michelia kemarin sore, tampak wanita lusuh itu digiring masuk ke mobil polisi dengan kedua tangan terborgol. Sosok tampan suaminya juga ikut tertangkap kamera, tetapi fokus Dara teralih ke arah tangan kanan Wira yang tampak berdarah ketika kamera membidiknya dari jarak dekat. Ia terkesiap, menaruh remot yang sedang dipegangnya dan melangkah dengan cepat ke ruang kerja.
Dara langsung menuju ke sana dengan tergesa-gesa. Wira menoleh ke arah pintu ketika mendengar bunyi derap langkah semakin mendekat disertai suara istrinya yang terus memanggilnya.
"Mas... Mas Wira...."
Wira menaruh kembali berkas yang sedang dikeluarkan dari tas kerjanya bertepatan dengan istrinya yang langsung masuk dan menghampirinya. Dara menyentuhkan telapak tangan lembutnya di sisi wajah Wira dan menatapnya cemas.
"Kemarin, saat kejadian itu... saat tangan Mas terluka dan berdarah, apakah rasa menakutkan itu datang lagi? aku sampai melupakan hal itu karena terlalu kaget dan panik," cecarnya. Sarat akan kecemasan yang kental di dalamnya.
Wira termenung sejenak, dia juga tampak terkejut seraya pandangannya tertuju ke tangan kanannya yang di balut perban dan Ingatannya kembali ke sore kemarin.
"Tunggu... kemarin saat darah mengucur dari tanganku, aku merasa baik-baik saja. Bahkan aku bisa membalut sendiri lukaku." Wira juga masih tampak kebingungan ketika menjelaskannya.
Biasanya jika hendak beraktivitas yang berhubungan dengan benda cair berwarna merah tersebut, ia akan melakukan video call sejenak dengan Dara untuk menguatkan dirinya, akan tetapi kemarin sore dia bisa mengatasinya sendiri dengan tenang tanpa teringat akan bayangan buruk itu di benaknya.
"Jadi kemarin, gangguan kecemasan itu tidak datang lagi?" tanya Dara penasaran.
"Benarkah?" Bola mata indah Dara yang berkilauan bergulir menatap dalam, diiringi sebuah senyuman terbit di wajah cantiknya dengan sudut matanya yang mulai berkaca-kaca. Ia berjinjit, mengecupi wajah tampan suaminya penuh sayang dan melingkarkan lengannya memeluk tubuh kokoh itu.
"Syukurlah, semoga bayangan buruk itu tidak datang lagi dan Mas benar-benar sembuh kembali seperti sedia kala," desahnya penuh kelegaan.
Wira mengerjapkan matanya seolah tak percaya, lengan kirinya membalas pelukan istrinya masih dengan pandangan yang tertuju ke arah tangan kanannya yang terluka.
"Semoga saja sayang, semoga aku benar-benar sudah terbebas dari semua bayangan buruk itu," gumamnya penuh syukur dengan berbagai macam luapan kebahagiaan tersirat dari nada suaranya.
Untuk sesaat mereka masih dalam posisi saling memeluk satu sama lain, kemudian Dara mengurai pelukannya dan kembali bertanya. "Bagaimana dengan hujan, apakah Mas masih merasakan kecemasan yang berlebihan saat berkendara ketika hujan?"
"Untuk hal itu aku belum tahu pasti. Jika hujan turun aku masih melakukan sesuai saran psikiater, lebih memilih berhenti dan menepi hingga reda, atau memanggil Pak Jono untuk datang dan menggantikanku mengemudi. Mungkinkah aku harus mencari tahu sendiri, mencoba berkendara menembus hujan?" Wira berkata penuh semangat dengan harapan yang semakin merebak.
"Mas yakin mau melakukannya?" Dara bertanya untuk memastikan.
"Aku harus memastikannya. Jika hujan turun, aku akan mencobanya," sahutnya penuh tekad.
"Aku percaya Mas pasti bisa melawan semua bayangan buruk itu." Dara menyemangati penuh ketulusan agar suaminya semakin yakin serta percaya diri.