You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Bab 10



Aku bantu Yanti mengantar Herman pulang. Begitu memasuki halaman, aku langsung mencium bau tinja yang datang dari dalam rumah.


Pemandangan dalam rumah sungguh tidak enak dipandang. Tinja dan urin di lantai beton bahkan sudah mengeras. Roti kukus yang semula diletakkan di tepi ranjang juga berserakan di lantai.


Aku jalan berjinjit ke tepi ranjang. Yanti mendudukkan Herman sambil mengerang, "Kalau kamu mau, kamu bisa tidur di kamar sebelah. Kalau tak mau, cepat pergi dari sini."


Aku agak terkejut. Aku kira dia tidak akan membiarkanku pergi begitu saja.


Yanti membersihkan debu dari ranjang dengan kemoceng, "Mengenai hutang Vivi, aku akan perlahan memperhitungkan hal itu padanya. Dan mengenai apa yang sudah keluarga kalian janjikan, jangan kalian lupakan begitu saja. Kalau bukan karena ada masalah dengan si tua ini, aku pasti akan berjuang mati-matian melawan keluargamu. Tapi aku baru saja menyadari beberapa hal dalam perjalanan pulang. Aku tidak boleh terlalu terburu-buru, kalau tidak, aku pasti akan menjadi pihak yang dirugikan. Vivi tidak akan bisa kabur. Namanya masih ada di kartu keluarga kami. Saat pulang nanti, kasih tahu dia, kalau dia tidak berhati nurani, maka jangan salahkan aku tidak berbaik hati juga. Dia tumbuh besar dengan minum air asiku. Dia ditakdirkan untuk berhutang padaku dalam kehidupan ini!"


Dari kata-kata Yanti, aku merasa Yanti memang sengaja mempersulit Vivi.


Aku pun tidak tahan dan bertanya, "Bagaimana kalau Vivi tidak mengakui kalian sejak awal? Apakah keributan hari ini mungkin akan terjadi?"


Tubuh Yanti yang bungkuk tiba-tiba membeku. Dia melambaikan tangannya ke arahku, "Cepat pulang dan diskusikan dengan Ayahmu yang lemah itu, kapan dia mau transfer 2 miliar t uke aku.”


Waktu sudah menunjukkan pukul 07.30 pagi ketika aku kembali ke kota. Aku tidak istirahat sepanjang malam dan langsung bergegas ke rumah sakit lagi. Melalui celah pintu bangsal, aku melihat Vivi duduk di sebelah Ayah. Dia dengan hati-hati meniup bubur panas di sendok, lalu menyuapi Ayah.


Ibu yang mengiris apel di samping melihat pemandangan di depan dengan tatapan ramah. Ketika aku mengetuk pintu dan masuk, raut muka Ayah sontak berubah, "Di mana si ****** itu? Dia pasti masih ngotot menetap di rumah, kan!"


Aku menggelengkan kepala, "Jangan khawatir, Ayah, aku sudah bawa dia pulang. Jaga kesehatanmu dulu."


Suara Ayah terdengar tegas, “Aku tidak akan mungkin kasih dia 2 miliar!"


Melihat emosi Ayah meledak lagi, Ibu meletakkan pisau buah dan mendorongku keluar, "Wenny, temani Ibu cari perawat, sekarang sudah waktunya ganti obat."


"Bu, apa kamu tidak takut kalau Yanti tidak akan pernah puas? Bagaimana kalau kita tunggu sampai Ayah agak tenang baru kita..."


"Sudah jadi seperti apa Ayahmu sekarang? Apa kamu ingin melihat dia jatuh sakit lagi karena emosi berlebihan? Beberapa hari ini aku khawatir Yanti akan datang ke rumah untuk cari masalah lagi, jadi aku sudah bilang ke pihak rumah sakit agar Ayahmu bisa dirawat lebih lama di rumah sakit. Kamu cepat pikirkan solusi untuk menyelesaikan masalah Yanti, baik itu tanda tangan surat perjanjian atau apa pun, suruh dia berjanji bahwa dia akan menghilang setelah menerima uang dari kita."


Aku selalu merasa cara ini tidak benar, "Bu, aku rasa kita mungkin harus suruh Vivi yang mendiskusikan hal ini dengan Yanti. Setelah berinteraksi dengan Yanti dalam beberapa hari ini, aku merasa dia sebenarnya cuman marah pada Vivi."


Ibu memelototiku, "Apa siksaannyaterhadap Vivi belum cukup parah? Apa kamu rasa wanita ****** sepertinya dari desa miskin punya hati nurani dan perasaan? Kalau kamu tidak menyingkirkan orang seperti itu sesegera mungkin, apa kamu mau tunggu sampai hakim yang mengadilinya? Terlebih lagi, susah bagi hakim untuk menangani masalah rumah tangga. Orang seperti Yanti ini, selama dia tidak mendapat apa yang dia inginkan, dia pun akan ribut terus sepanjang hidupnya!" Tengah berbicara, Ibu mulai tersedak, “Kamu tidak tahu ketika aku mendengar Vivi cerita tentang kehidupannya di pedesaan, aku benar-benar..."


Aku agaknya sudah dapat memahami kebencian Ibu terhadap Yanti. Dia benci kenapa bukan dirinya yang menanggung semua penderitaan itu saja, kenapa malah putrinya yang tersiksa begitu parah. Meskipun aku tidak tahu apa yang diceritakan Vivi kepada Ibu, tapi aku kiranya dapat menebak kalau semua itu pasti hal-hal yang menimbulkan iba dan rasa kasihan.


"Tapi, Bu, kamu juga sudah lihat sikap Ayah barusan. Dia tidak bersedia memberi Yanti uang itu. Kita berdua tidak mungkin bisa mengumpulkan 2 miliar."


Ibu ragu-ragu sejenak, kemudian mengusulkan sebuah ide, "Wenny, bisakah kamu pinjam dari Jerry dulu? Setelah emosi Ayahmu reda dan kas kita kembali berputar, baru kita kembalikan ke Jerry."


Aku sama sekali tidak menduga kalau Ibu akan menyuruhku meminjam uang dari Jerry. Dua miliar memang bukan angka besar bagi Keluarga Hersey, tapi aku rasa tidak senonoh meminjam uang sebesar itu dari mereka di saat aku belum menikah dengan Jerry.


Ibu semakin merasa bahwa ini adalah solusi yang bagus. Aku bisa melihat bahwa dia sangat ingin menyingkirkan Yanti yang merepotkan ini sesegera mungkin. Dia merasa Yanti datang memang hanya untuk memeras uang. Selama kita bisa memberikan uang yang cukup, semuanya pun akan kembali damai dan tenteram.


Ibu menyuruhku menelepon Jerry sekarang juga, menyuruhku meminjam uang darinya di hadapannya.


Aku tidak tahu harus berkata apa. Meskipun cuman pinjam untuk sementara waktu, tapi aku tetap saja sulit menyampaikan hal ini.


Panggilannya terhubung. Namun, orang yang menjawab telepon adalah ibu Jerry, Cindy Lyndiana. Dia bilang Jerry terbaring di tempat tidur karena demam tinggi.