You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 238



Mobil sport warna hitam mengkilap edisi terbatas itu keluar dari parkiran rumah sakit selepas jam makan siang. Wira memacu kendaraannya menuju alamat kerabat Dara, setelah ditelusuri ternyata alamat tersebut masih satu daerah dengan panti asuhan yang menampung Dara dulu, kira-kira sekitar sepuluh kilometer dari sana.


Tempatnya berada di sebuah gang sempit yang kawasannya agak kumuh. Wira memarkirkan mobil mewahnya di depan gang tersebut, kemudian bertanya mengenai alamat tersebut kepada orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar.


"Mbak, maaf. Saya mau bertanya tentang alamat ini, benarkah lokasinya di sekitar sini?" tanyanya kepada seorang wanita yang hendak masuk ke dalam gang sembari menggendong anaknya yang masih balita.


Wanita yang kira-kira berumur tiga puluh tahunan itu bukannya menjawab pertanyaan Wira, ia malah sibuk memindai dokter tampan itu dari ujung kepala hingga kaki. Matanya menyapu rakus seluruh rupa ragawi yang terpahat sempurna di hadapannya hingga membuatnya terkagum-kagum terpesona, baru kali ini dia menyaksikan ketampanan menyilaukan mata secara langsung selain di televisi, media sosial, dan juga majalah.


Wira mengernyitkan dahinya karena yang ditanyai malah seperti terkena hipnotis, ia mengibaskan tangannya di depan wajah wanita itu sambil berkata, "Ehm... Mbak, kenapa Mbak?" maaf sekali lagi saya ingin bertanya mengenai alamat ini."


Wira menunjukkan kertas di tangannya tepat di depan wajah wanita yang melongo itu, dan suara deheman Wira akhirnya berhasil menariknya dari pusaran kekaguman.


"Ah... i-ini benar alamatnya di sekitar sini. Masuk ke gang ini kira-kira seratus meter nanti belok kanan ada rumah bercat hijau dan di depan rumahnya terdapat tanaman Bunga Kenanga. Mau saya antar?" tawarnya sembari sudut matanya mencuri-curi pandang ingin melahap pemandangan mendebarkan dari seseorang yang tengah bertanya kepadanya.


"Jika tidak merepotkan silakan. Saya sangat berterimakasih," sahut Wira sopan.


"Tidak merepotkan sama sekali. Mari saya antar," ucap wanita itu bersemangat dan Wira segera mengikuti di belakangnya.


*****


"Ini Rumahnya."


Mereka sudah sampai di tempat tujuan, Wira kembali memeriksa tulisan yang tertera di kertas, mencocokkannya dengan lokasi tersebut dan semuanya benar. Wira mengucapkan terima kasih dan wanita yang mengantar tadi segera berlalu dari sana meski tampak tak rela.


"Ya ampun, gantengnya...." gumamnya sendiri sambil melangkah pergi.


Tok tok tok. "Permisi...."


Hening, sunyi, tak ada sahutan ataupun tanda-tanda kehidupan di dalam sana. Ia kembali mengetuk namun kini lebih keras dari yang tadi.


Tok tok tok


"Iya, sebentar." Terdengar sahutan lemah dari dalam sana dan itu membuat Wira bernapas lega, setidaknya masih ada penghuni di dalamnya, ia ingin segera mendapat kejelasan informasi tentang orang tua kandung Dara.


Kriet....


Pintu reyot itu terbuka menghasilkan bunyi yang khas. Tampaklah seorang wanita tua bertubuh kurus dengan rambut yang mulai memutih menyambut di ambang pintu.


"Cari siapa ya Nak?" tanyanya keheranan. Kenapa tiba-tiba datang pria parlente dengan tampilan berkelas atas ke gubuk tuanya.


"Saya mencari alamat ini, apa benar di sini?" Wira menunjukkan tulisan di secarik kertas yang dibawanya.


"Iya benar di sini. Tapi, ada keperluan apa ya?" Si ibu itu tampak gusar, terakhir kali ada orang tak dikenal datang ke rumahnya yang ternyata adalah penagih hutang, hutang yang dibuat oleh anak-anaknya yang tak bertanggung jawab.


"Saya datang kemari untuk mencari informasi mengenai seseorang. Tentang Anandara, istri saya," jelas Wira.


Wanita tua itu terkesiap lalu membulatkan matanya kemudian berkata dengan tergagap, "A-Anandara?"