
Semilir angin malam terasa semakin dingin menyapu permukaan kulit. Wira segera mengajak Dara untuk masuk ke dalam mobil di kursi penumpang. Ia memakaikan jaket dan juga menuangkan teh jahe madu dari termos yang tadi disiapkan Bu Rina.
"Minumlah untuk menghangatkan tubuh dan juga meredakan mual. Wajahmu bahkan sedingin es dan juga pucat." Wira mengusap-usap pipi Dara dengan lembut disertai tatapan khawatir.
"Aku nggak apa-apa Mas. Sungguh." Dara berusaha menenangkan Wira.
"Ini ada kudapan kecil untuk sekadar mengganjal perutmu. Kamu pasti belum makan malam kan?" Wira membuka kotak bekal berwarna orange dari dalam paper bag dan memberikannya pada Dara.
"Maaf Mas, sudah membuatmu khawatir." Dara menatap suaminya penuh rasa bersalah.
"Lain kali jangan diulangi. Aku hampir mati rasanya. Jika ada sesuatu yang membebanimu katakanlah padaku, jangan dipendam dan mengambil keputusan seorang diri. Seperti katamu, bukankah kita harus saling berbagi entah itu suka maupun duka karena itulah gunanya manusia hidup berpasangan di dunia ini," jelas Wira sambil menatap istrinya lekat-lekat.
"Sebenarnya apa yang terjadi? tidak mungkin tiba-tiba kamu pergi berkendara sejauh ini tanpa seizin dariku jika tak ada hal yang mengganggumu. Kudengar ibuku mengunjungi kampus tadi siang. Apakah dia mengatakan sesuatu padamu," tanya Wira sambil mengelus puncak kepala Dara.
Dara mendesahkan napasnya seperti berusaha menyiapkan diri lalu kemudian menyandarkan dirinya di dada Bidang ternyaman di dunia yang disambut rangkulan oleh suaminya itu.
"Beberapa hari belakangan dan juga tadi siang terjadi hal-hal yang jujur saja membuatku tertekan. Akan kukukatakan semuanya padamu Mas. Tapi untuk sekarang biarkan aku memelukmu seperti ini." Dara mengeratkan pelukannya seolah takut kehilangan.
"Aku akan berterus-terang, entah Mas percaya atau tidak padaku nantinya. Setelah mendengarnya semua keputusan ada padamu dan aku akan menerima apapun itu," ujarnya masih dalam pelukan Wira.
Wira mengangkat dagu Dara agar mendongak padanya hingga netra mereka bersirobok. "Kenapa bicara begitu. Apakah aku tidak cukup layak sebagai seorang suami sehingga kamu meragukan rasa percayaku padamu hmm?"
Dara menggeleng pelan lalu mengangsurkan punggung tangannya membelai rahang kokoh Wira. "Aku selalu percaya padamu Mas," jawabnya.
"Mas, sekarang aku ingin pulang. Aku rindu rumah. Tapi bagaimana dengan motorku? bahkan bensinnya juga kosong."
"Jangan cemaskan motormu, kupastikan besok pagi motor bersejarah itu sudah terparkir di garasi. Tapi sebelum kita pulang bisakah kamu menungguku sebentar? aku ingin menyapa kakakmu," pintanya.
"Tentu saja. Mbak juga pasti merindukanmu Mas," sahut Dara sambil tersenyum manis.
"Sementara menunggu makanlah kudapan itu. Aku tidak akan lama." Wira mengecup puncak kepala Dara kemudian keluar dari mobil dan kembali memasuki area pemakaman.
Pria itu berziarah ke makam Arif terlebih dahulu kemudian setelahnya ia duduk bersila di rerumputan dekat nisan Almira.
"Mira. Aku datang," ucapnya sedikit tersendat. Wira berusaha menetralkan napasnya karena dadanya terasa sesak.
"Bolehkah aku mengatakan ini padamu? Aku... sejujurnya aku ingin meluapkan segala rasa sakitku padamu atas luka yang telah kamu torehkan. Aku merasa gagal menjadi seorang suami ketika mengetahui selama menjalin ikatan denganku istriku selalu menyimpan rasa mendalam untuk cinta lamanya. Kamu tahu seperti apa wujud hatiku kala itu? Remuk redam. Ditambah dengan kepergianmu luka itu semakin dalam dan menganga."
Wira terdiam sejenak. Keheningan membentang, hanya terdengar suara jangkrik yang bersenandung saling bersahutan.
"Aku sempat marah pada takdir yang telah menyeretku dalam pusaran badai semacam itu. Tapi Mira, tahukah kamu? sekarang aku sangat bersyukur pernah dipertemukan dan sempat merajut kisah denganmu. Berkat dirimu kini aku bersatu dengan Dara. Si binar indah penerang jiwa, pengobat hati yang terluka. Setelah kupikirkan lagi mungkin Tuhan ingin kita melalui alur perjalanan takdir tak biasa untuk dipertemukan dengan belahan jiwa yang sesungguhnya."
Tangan Wira mengusap batu nisan Almira sebelum kembali menyambung kalimatnya.
"Untuk itu Mira, permintaan maafmu waktu itu sudah kuterima dengan lapang dada. Kuberdo'a semoga kamu selalu berbahagia di sana. Tak usah khawatir tentang Dara, aku berjanji akan menjaganya semampuku seumur hidupku."