You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 228



"Boleh masuk."


Wira yang tengah mengancingkan kancing terakhir piyama Dara teralihkan perhatiannya ke arah sumber suara. Pintu yang didorong dari luar itu terbuka sedikit dan tampak Raisa melongokkan kepalanya dengan tangan di gagang pintu.


"Masuklah, Sa."


Setelah memastikan pakaian Dara terpasang rapi, Wira menutupkan selimut hingga sebatas perut buncitnya dan mengusap kepala Dara penuh sayang. Sejak tadi dia membersihkan tubuh Dara dan mengganti pakaiannya dengan gerakan sepelan mungkin karena tak ingin tidur pulas istrinya terganggu. Beruntung obat untuk mengatasi sesak yang diberikan Raisa mempunyai efek kantuk yang cukup hebat, tentu saja dosis dan jenis obatnya sudah disesuaikan serta terjamin keamanannya untuk diberikan kepada ibu hamil.


Raisa melangkah masuk, mendaratkan bokongnya di sofa melengkung berwarna coklat tua yang berada di sudut kanan ruangan disusul Wira yang juga ikut duduk di sana.


"Coba jelaskan padaku, apa yang menyebabkan kondisi istrimu mendadak menurun drastis? tadi aku menemukan sisa-sisa cairanmu di bagian paling pribadinya. Tapi tenang saja, saat tadi aku melonggarkan dan membuka selimutnya untuk memeriksa secara keseluruhan tak ada orang lain selain aku. Yang lainnya kuminta untuk menunggu di luar gorden, karena aku tahu kamu adalah makhluk paling pencemburu yang pasti tak mengijinkan tubuh polos istrimu terlihat oleh tim lainnya meskipun untuk keperluan medis," tutur Raisa dengan mata memicing mencela.


Saat di ruangan khusus tadi, Raisa menyuruh yang lainnya untuk kembali bergabung setelah selesai memeriksa dan memasangkan kembali selimut ke tubuh Dara meskipun agak longgar, hanya tangan kiri Dara yang dibiarkan bebas untuk dipasangkan jarum dan selang infus.


"Thanks, Sa." Wira mengulum senyum tipis karena apa yang dikatakan Raisa memang benar adanya.


"Tapi beda ceritanya jika istrimu mampu bertahan hingga saat melahirkan nanti, kamu harus memukul mundur rasa posesifmu karena istrimu akan dikerumuni oleh para dokter juga perawat ketika persalinan berlangsung, dan tentu saja bagian paling pribadinya tak bisa ditutupi dalam prosesnya," sambung Raisa kembali seraya menekankan setiap kata-katanya memberi penjelasan serta pengertian kepada temannya yang super posesif itu.


"Cih, dasar pencemburu gila!" umpat Raisa. "Sekarang ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi hingga Dara mengalami sesak napas secara tiba-tiba."


Pria tampan berwajah lelah itu menunduk dalam seraya menarik napas dan terdiam sejenak, kemudian ia mulai menuturkan kejadian beberapa jam ke belakang kepada Raisa.


Tanpa Wira dan Raisa sadari, di sela-sela perbincangan panjang mereka, Dara mulai terusik dari tidurnya. Matanya masih terpejam, tetapi telinganya mampu menangkap sayup-sayup suara dua orang yang sedang berbincang-bincang. Awalnya suara itu samar, lama kelamaan semakin jelas tertangkap di indera pendengarannya walaupun matanya masih sulit terbuka.


Ternyata mereka sedang membicarakan tentang kondisinya, Dara dapat mendengar jelas itu adalah suara Raisa dan juga suami tercintanya. Inginnya dia bangun dan membuka mata, akan tetapi tubuhnya terasa begitu lemah walaupun hanya untuk sekadar menggerakkan kelopak mata. Di tengah-tengah usahanya untuk terbangun, rasa kantuk hebat kembali menerjangnya serupa pusaran yang menyedotnya dengan kuat hingga akhirnya ia menyerah membiarkan cendera kembali memeluknya.


"Wira, aku memintamu untuk menjaga kondisinya hingga semua bisa dipastikan. Bukan membuatnya merasa kesepian dan diabaikan karena pendapat sepihakmu dengan dalih demi kebaikan anak dan istrimu, itu malah memicu stress. Lonjakan dari rasa sedih lalu berubah sangat bahagia yang terlalu tiba-tiba malah menyebabkan tensinya naik drastis. Alih-alih ingin melindunginya malah berakhir memperburuk keadaan bukan?" Raisa memijat pelipisnya dengan embusan napas berat.


"Aku baru menyadarinya. Pemikiranku selama ini ternyata salah. Aku terlalu takut jikalau Dara tak mampu menanggung beban mengenai kondisinya walaupun itu hanya perkiraan sementara." Wira menjawab dengan nada penuh sesal.


"Meskipun Dara masih sangat muda, tetapi aku percaya dia tak selemah perkiraanmu. Seorang wanita akan berubah menjadi lebih kuat ketika mereka mengemban amanat dipercaya untuk menjadi seorang ibu. Kamu harus yakin akan hal itu. Besok pagi aku akan melakukan tes secara menyeluruh, semoga hasilnya semuanya baik."