
Dara tak henti-hentinya menciumi malaikat kecilnya, pancaran sukacita menguar menyeruak penuh sesak di kamar VVIP tersebut. Bayinya sangat mirip dengan suaminya, hanya warna rambutnya saja yang sama dengannya.
Hari ini mereka sudah diperbolehkan pulang, dan sejak kemarin Dara sudah bisa menyusui Selena secara langsung tanpa harus diperah lagi. Tiga minggu mereka habiskan di rumah sakit. Berat badan Selena sudah bertambah dan berada di angka normal, kondisi pernapasan juga hal-hal lain yang berkaitan dengan observasi bayi prematur tak menunjukan masalah apapaun.
Tak lupa Raisa juga mengharuskan Dara memakai kontrasepsi dan memperingatkan agar jangan dulu mengandung lagi dalam kurun waktu dua tahun ke depan. Mengingat Dara melahirkan melalui jalan operasi serta sempat adanya masalah dalam kehamilannya, Raisa menyarankan jika mereka ingin memiliki momongan lagi, sebisa mungkin harus terencana dan terprogram dengan baik untuk meminimalisir gejala serupa di kehamilan berikutnya.
Pintu kamar terbuka dan masuklah pria tampan memesona yang tak lain adalah Papa Selena. Wira menghambur dengan cepat dan duduk di tepian ranjang merengkuh bahu sang istri kemudian mengecup keningnya. “Anak Papa ada di sini rupanya?” Ia mengangsurkan jemarinya membelai kepala Selena.
“Tadi perawat membawanya ke sini untuk kususui, pipinya semakin montok sekarang,” sahut Dara dengan senyuman yang tak henti mengembang di wajah.
“Ayo, kita bersiap untuk pulang.”
*****
Rumah besar Wira kini riuh dengan tangisan bayi setiap harinya, terasa begitu hidup. Dara meminta Bu Rina untuk menempatkan box bayi Selena di kamar utama, agar lebih mudah menyusui Selena yang biasanya meminta setiap dua atau tiga jam sekali tanpa harus bolak balik ke kamar sang anak. Sekarang usia Selena sudah tiga bulan lebih, dia sudah mulai bisa berguling miring dan tengkurap meskipun masih dalam gerakan perlahan.
Di penghujung sore ini Wira begitu bersemangat memacu mobilnya ingin segera sampai di rumah. Dia rindu malaikat kecilnya juga istrinya, apalagi malam ini adalah jadwal buka puasanya setelah tiga bulan lebih tak menyatu dalam gairah dengan Dara. Pelayan menyambut di depan pintu begitu juga dengan Bu Rina.
“Di mana anak dan istriku?” tanyanya kepada Bu Rina.
“Nyonya dan Nona Selena ada di ruang bermain, Tuan.”
“Terima kasih Mira. Berkat dirimu, kini kebahagianku sempurna,” ucapnya penuh ketulusan.
Wira kembali melanjutkan langkahnya cepat dengan kaki panjangnya, samar-samar dari kejauhan terdengar celotehan Dara yang tengah mengajak putri mereka berbicara.
“Selena, Papa pulang,” panggil Wira di ambang pintu. Bayi lucu yang sedang tengkurap itu segera menoleh ketika mendengar suara papanya memanggil, ia tersenyum senang menggemaskan hingga gusinya terlihat membuat siapapun tak tahan ingin menciuminya.
“Halo Papa, selamat datang.” Dara yang sedang berbaring di sisi Selena segera bangkit dan menyambut kedatangan suaminya. Wira menghampiri lalu mengecup istri dan anaknya bergantian.
Mereka bertiga bermain di ruangan tersebut hingga menjelang makan malam. Sejak tadi Wira terus melempar tatapan penuh arti kepada Dara membuat istrinya itu merona, seperti anak perawan yang akan menjalani ritual malam pertama.
Selepas makan malam, Dara menyusui Selena hingga kemudian bayi itu tertidur, sementara Wira tengah mandi mengguyur tubuhnya, mempersiapkan diri untuk kembali menjejali kehangatan Dara. Ia sudah rindu memenuhi istrinya dengan dirinya, mendengar desahannya juga wajah cantiknya yang merona ketika mereka meraih puncak asmara.
Wira keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit rendah di pinggangnya. Jujur saja Dara selalu terpesona dengan prianya meskipun mereka sudah sering bergesekan kulit. Tubuh tinggi tegap, berpadu wajah rupawan, disertai otot perut yang terbentuk sempurna membuatnya berdesir ingin memasrahkan diri di bawah kungkungan tubuh itu.
Dara berdehem untuk memecah kecanggungan yang tiba-tiba menyerbunya, entah kenapa dadanya terus berdebar kencang kala mengingat malam ini mereka akan kembali bergelora, saling mencurahkan cinta dan hasrat yang sempat tertahan.
“Ehm, a-aku... mau membersihkan diri dulu,” cicitnya yang kemudian berjalan sembari tertunduk melewati tempat Wira berdiri.
“Aku menunggumu, istriku.” Wira mengedipkan sebelah matanya genit dengan tatapan mesum untuk mengantarkan Dara yang terbirit-birit masuk ke kamar mandi.