
Mentari sudah menyelesaikan tugasnya hari ini menerangi Bumi dan segera digantikan oleh kelamnya sang malam yang mulai berangsur menyelimuti. Sulur cahayanya di langit senja melambai-lambai menyerukan salam sampai jumpa esok pagi hingga menciptakan semburat jingga nan molek memercik di ufuk barat.
Tiga puluh menit berlalu Dara masih belum keluar dari kamar, Wira yang sudah tampan dan rapi sejak tadi menunggu dengan sabar di ruang tamu utama. Dara mengatakan agar suaminya itu menunggu di luar kamar selagi dia berdandan agar terasa seperti kencan sungguhan layaknya para pasangan muda yang hendak berkencan di akhir pekan, di mana sang pria akan menunggu gadisnya dengan sabar sambil menahan kerinduan sebelum akhirnya bersua.
Dara memakai gaun terusan selutut berwarna biru muda serupa birunya langit yang berpadu dengan awan tipis hingga mengasilkan warna biru yang begitu teduh dan sedap dipandang mata. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai melambai-lambai, dia juga menyapukan bedak serta kawan-kawannya di wajah cantiknya dengan riasan yang tak berlebihan namun begitu menawan.
Ia melirik jam tangan mewah berawarna putih yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, resfleks Dara membekap mulutnya sendiri, saking antusiasnya dengan kencan makan malam ini dia berdandan hampir menghabiskan waktu satu jam lamanya.
“Haish ya ampun… ternyata dandanku lama,” gerutunya. Dara beranjak dari kursi depan meja rias, mengambil tas cangklongnya dan segera keluar dari kamar.
Dari kejauhan tampaklah suami tampannya yang tengah mondar mandir di ruang tamu, Dara mempercepat langkahnya dengan tetap berhati-hati. “Mas, maaf ya aku kelamaan,” ucapnya berat merasa tak enak hati karena membuat suaminya menunggu lama.
Wira yang asalnya membelakangi arah datangnya Dara langsung membalikkan badan ketika mendengar derap langkah mendekat yang dibarengi suara merdu tulang rusuknya.
“Nggak apa-apa kok, sa_”sahutnya mengambang. Ucapannya masih menggantung di udara, dia terdiam terpaku di tempatnya berdiri, mulutnya sedikit menganga, sorot matanya memancar memuja, netranya bergulir mengamati dan melahap rakus rupa ragawi istrinya yang begitu cantik memesona.
Tak dipungkiri Dara tersipu dipandangi sedemikian rupa, rona merah mulai merambat di permukan kulit wajahnya yang seputih susu nyaris pucat, membuatnya menjelma semakin menggemaskan, ditambah perut buncitnya membuat aura Dara makin menguar menyilaukan.
Wira mendekat dengan tatapan yang tak bisa lepas dari Dara, mengulurkan tangannya dan langsung disambut oleh tangan halus berjemari lentik kekasih hatinya yang sedang tersenyum tersipu dan merona.
"Lebih dari suka... sangat suka," jawab Wira tanpa ragu, membuat senyuman bahagia tersungging begitu indah di wajah cantik Dara bak lukisan para maestro dunia.
“Ayo, kita berangkat sekarang, Nona," ajak Wira dan mereka segera berangkat menuju tempat makan malam yang sudah direncanakan.
*****
Keduanya sudah sampai di restoran yang dituju, sebuah restoran mewah berdesain interior klasik yang menyajikan beragam menu makanan dari berbagai penjuru dunia.
Wira sudah mereservasi restoran langganannya sejak kemarin, pilihan tempat duduknya jatuh pada meja yang berada di lantai dua samping jendela kaca raksasa restoran tersebut, menyuguhkan kelap kelip indahnya lampu-lampu ibukota berselimutkan langit malam yang bergelayut manja di angkasa. Tak lupa, Wira juga berpesan kepada koki agar makanan yang hendak disajikan untuk Dara dibuat dan disesuikan dengan instruksi darinya.
Dara melihat sekeliling dengan wajah berlumur sukacita, pencahayaan temaram membuat suasana romantis semakin terasa begitu kental menyeruak, juga beberapa buket bunga serta lilin yang menghiasi membuat atmosfer teramat syahdu.
Bunyi kursi yang ditarik dan digeser menyedot perhatian Dara yang tengah berpesta pora dalam balutan kekaguman, membuatnya memusatkan perhatian ke arah sumber suara. Rupanya Wira yang menarik kursi untuknya, dengan sopan dan elegan pria tampan itu mempersilakan pemilik hatinya untuk duduk di kursi tersebut. "Silakan duduk, Nona."
"Terima kasih, pelayan restoran," sahut Dara yang kemudian terkikik geli dan hal itu menularkan rasa yang sama kepada Wira yang ikut tergelak.