You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 174



Suasana mengharu biru menguar memenuhi seluruh penjuru kamar. Haris yang baru saja terbangun langsung disuguhi pemandangan yang menghangatkan hati.


Pria paruh baya itu bergerak menghampiri dan bergabung bersama memeluk orang-orang yang dikasihinya, semuanya terasa begitu lengkap dan sempurna ketika sebuah keluarga bisa saling menerima satu sama lain.


Di tengah-tengah suasana yang membuncah bahagia terdengar suara ketukan di pintu dari perawat yang bertugas mengantarkan sarapan untuk pasien, mereka semua akhirnya mengurai pelukan dengan senyuman yang tersungging di wajah masing-masing.


"Ibu sarapan dulu, setelah makan nanti aku periksa kembali kondisi Ibu," ucap Wira yang duduk di tepian ranjang.


"Ibu ingin segera pulang, Ibu rindu rumah," ujar Ratih.


"Setelah selesai sarapan nanti aku akan memeriksa lagi kondisi Ibu secara keseluruhan. Jika semuanya baik, siang ini Ibu boleh pulang. Sebaiknya makanannya dihabiskan agar cepat pulih."


"Ibu mau makan sekarang? biar kusuapi," tawar Dara penuh harap.


Ratih tertawa kecil dengan ringan melihat Dara yang begitu bersemangat kemudian mengusap puncak kepala Dara. "Ibu bisa sendiri, Nak. Sekarang sudah tak selemas kemarin. Kamu sendiri juga harus segera makan, cucu ibu di dalam sana pasti sudah menunggu sarapannya."


"Wira, segera ajak istrimu untuk mencari makanan yang diinginkannya, bukankah Dara tadi ingin makan bubur ayam? ada Ayah yang menjaga Ibu di sini, jadi kalian pergilah." Ratih berkata sambil mengulas senyum.


Wira mengangguk dan segera mengajak Dara keluar, walaupun istrinya itu seolah enggan meninggalkan ruangan tersebut.


*****


Dara memesan satu mangkuk bubur ayam komplit, satu porsi cakwe dan kroketnya beserta seporsi pisang keju. Tak lupa ia juga memesan teh madu lemon hangat sebagai minuman untuk membasuh mulutnya.


Sedangkan si dokter tampan memesan kopi premium tanpa gula favoritnya beserta roti toping daging cincang yang ditumis menggunakan minyak wijen, bawang bombai dan paprika membuat aromanya menggoda di hidung dan menggelitik perut kosongnya.


"Kamu yakin akan menghabiskan makanan sebanyak ini?" tanya Wira sembari meringis karena menu sarapan yang dipesan Dara cukup untuk dua sampai tiga orang.


"Aku laper banget Mas, pokoknya aku mau makan semua ini. Ini bukan aku lho yang makannya banyak, tapi dedeknya," sahutnya merajuk dan menjadikan si jabang bayi sebagai alasan.


Wira terkekeh dan tersenyum tampan menampakkan deretan gigi putihnya. Mengusap sisi wajah Dara dengan mesra dan merapikan rambut panjangnya.


"Iya deh Mama tercantik di dunia, dedeknya yang mau. Kalau masih kurang kamu boleh pesan lagi sebanyak yang kamu inginkan," jawab Wira penuh sayang.


"Dedeknya mau makan sekarang Papa," pinta Dara manja sembari mengusap-usap perutnya.


Wira yang duduk di samping Dara langsung mengambil sendok dan menyendok satu suapan penuh bubur ayamnya ke depan mulut Dara. Si cantik berambut panjang itu tanpa ragu lagi langsung membuka mulutnya, membiarkan suaminya mencurahkan kasih sayang hingga tumpah ruah dan Dara mengunyah makanan yang diinginkannya dengan ekspresi gembira luar biasa seperti anak kecil yang mendapatkan mainan yang diidamkannya.


Orang-orang yang juga sedang sarapan di sana menatap iri kepada pasangan itu, bahkan ada seorang wanita yang asalnya duduk berseberangan dengan pasangannya langsung berpindah jadi bersebelahan dan meminta si pria untuk melakukan hal serupa seperti yang dilakukan Wira kepada Dara.