You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 82



Setelah menghabiskan makan malamnya Dara segera kembali ke dalam kamar, ia menuju ruang ganti dan memilih-milih pakaian untuk dikenakannya kerena terlupa sejak tadi hanya memakai bathrobe bahkan saat di ruang makan. Wira masuk menyusul, menghampiri Dara dengan membawa segelas air dan beberapa butir vitamin di tangannya.


"Sayang minum vitamin dulu," Wira menyodorkan gelas dan vitamin yang dibawanya.


"Untuk apa?" Dara menatap keheranan, kenapa tiba-tiba Wira menyuruhnya meminum vitamin.


"Ini untuk menjaga stamina, aku memilih yang komposisinya terbuat dari bahan-bahan herbal sehingga aman untuk dikonsumsi. Jadi minumlah, untuk membantu memulihkan tenagamu dan juga baik untuk daya tahan tubuhmu." Wira mengulas senyum tampannya.


"Mmm... begini sebenarnya, duh gimana cara ngomongnya ya?" Dara bergumam sambil menggigit kukunya gusar dan sesekali menatap Wira.


"Kenapa? ada apa? apa kamu sakit?" tanya Wira khawatir.


"Begini, sebenarnya aku... aku tak bisa minum vitamin atau obat apapun dalam bentuk tablet dan kapsul, jika sakit biasanya aku meminta resep obat dalam bentuk puyer atau sirup. Entah kenapa aku tak bisa mengkonsumsinya, kerongkonganku seolah tertutup rapat saat berusaha menelannya," sahut Dara sambil tertunduk malu dengan wajah merona.


Wira tertegun sejenak, tetapi kemudian tergelak kencang. Ia menaruh gelas dan juga vitamin yang di bawanya ke atas meja kecil yang terdapat di ruang ganti.


"Ahahaha... jadi selama ini kamu cuma bisa minum obat puyer dan sirup? heyy... seperti anak TK saja," ledeknya sambil mengacak rambut Dara membuat istrinya itu cemberut dan menatap sebal kepadanya.


"Apa itu lucu? jangan sentuh-sentuh rambutku!" serunya galak


"Ngambek ya? aku cuma bercanda karena kamu begitu menggemaskan sayang." Wira memeluk Dara dari belakang dan mengecup mesra tengkuknya membuat bulu kuduk gadis itu meremang.


"Ya sudah, Besok kucarikan suplemen yang berbentuk sirup. Kamu lagi ngapain hmm? ada apa dengan kekacauan ini?" Wira bertanya karena melihat isi lemari yang sebagian telah tercecer ke lantai, ia menopangkan dagunya di pundak Dara.


"Aku sedang mencari pakaian ganti, tanpa sadar sejak tadi aku hanya memakai bathrobe," sahutnya mulai melunak. Perlakuan mesra Wira selalu sukses membuatnya melemah.


"Tapi kenapa Mas tidak mengingatkanku untuk berpakaian sebelum makan tadi? para pelayan pasti melihat jejak merah yang bertebaran bekas bibirmu yang berbahaya itu, haish... malunya." Dara menjambak rambutnya sendiri sambil berdecak kesal.


"Biarkan saja mereka melihat, lagipula aku suka melihat hasil karyaku. Eh... tapi tunggu, kurasa kamu tidak perlu berganti pakaian karena sebentar lagi itu tak akan berguna?" Wira mengurai pelukannya dan membalikkan posisi Dara jadi berhadapan dengannya, ia memeluk pinggang ramping Dara hingga merapat kepadanya.


"Maksudnya?" tanya Dara sambil memicingkan matanya.


"Karena aku tidak berniat untuk membiarkanmu berpakaian sepanjang malam ini sayang," Wira tersenyum dan menatapnya penuh arti.


Dara melebarkan matanya saat paham dengan apa yang di maksud Wira, dan tanpa menunggu lama Wira sudah mendaratkan kembali bibir panasnya di bibir ranum Dara.


Wira mendesakkan Dara hingga membentur lemari dan ciuman panas pun tak terelakkan. Dara sebetulnya masih merasa lemas, tubuhnya baru saja diisi ulang dan energinya belum sepenuhnya pulih, tetapi sentuhan ahli Wira malah kembali menenggelamkannya dalam lautan gairah penuh janji.


Mereka kembali mengulanginya seperti tak kenal lelah, keduanya kehausan ingin mereguk manisnya madu asmara sebanyak-banyaknya yang mereka bisa seolah tak ada hari esok.