You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 268



Wira kembali bekerja pada hari ke tiga semenjak Dara siuman. Bu Rina diminta untuk menemani Dara di rumah sakit selama waktu kerjanya, tak lupa Ratih pun hampir setiap hari datang menjenguk menantu serta cucunya.


Di sela-sela waktu istirahatnya, Wira akan berada di kamar perawatan Dara atau pergi ke ruang NICU untuk memandangi buah hatinya melalui kaca besar tembus pandang yang terpampang di bagian luar ruangan tersebut, berdiri berlama-lama di sana dengan mata berbinar bahagia.


*****


Setelah enam hari berlalu Dara sudah diperbolehkan pulang, sedangkan Selena masih belum diizinkan meninggalkan ruang NICU. Dara mengeluh tak ingin terpisah jauh dari putrinya mengingat ia juga harus memberi ASI secara teratur dan berkala, akhirnya Wira memutuskan menyewa sebuah kamar VVIP khusus di rumah sakit untuk Dara hingga Selena bisa dibawa pulang.


Seluruh keluarga besar Aryasatya juga teman-teman satu fakultas Dara berdatangan berkunjung, memberi ucapan selamat atas kelahiran penerus keluarga. Hadiah buah tangan untuk Selena juga memenuhi hampir separuh kamar ruang perawatan Dara, membuat Pak Jono harus bolak-balik dari rumah sakit ke kediaman tuannya untuk mengangkut barang-barang tersebut agar tidak penuh sesak di sana.


*****


Sore ini Freya datang kembali ke rumah sakit selepas jam kampusnya usai. Sudah beberapa kali dia datang untuk mengunjungi Dara dan juga karena ketagihan ingin melihat si cantik nan lucu Selena. Namun, kali ini dia datang sendiri tanpa Anggi, biasanya mereka selalu datang bersama, tetapi karena Anggi sedang mempunyai urusan mendesak akhirnya Freya ke rumah sakit sendiri saja.


Di selasar rumah sakit menuju ruangan VVIP Freya berpapasan dengan Fatih yang tampak kusut dengan langkah gontai. Pemuda itu menyeret langkahnya tak bertenaga, bahkan embusan napasnya terdengar nyaring hingga sampai ke telinga Freya, wajahnya mendung kelabu persis seperti awan hujan yang menunggu petir menyambar.


Si tomboi menghentikan langkahnya dan memperhatikan pemuda berjas putih itu, melipat kedua tangannya di dada kemudian bersandar di dinding dengan mata yang masih tertuju kepada Fatih.


Ternyata, dia tampan juga ya kalau lagi mode galau gini. Freya bergumam dalam batinnya.


Namun, sepertinya Fatih sedang berada di dunia lain sehingga tak menyadari keberadaan bidadarinya di sana, tengah memandanginya dengan saksama sambil terkikik geli.


Fatih hampir berlalu melewati Freya, si tomboi itu dibuat gemas karena Fatih terus melamun dalam langkahnya.


“Ehm… ehm. Calon dokter lesu amat, butuh obat kuat kayakanya nih,” celetuk Freya seraya menepuk pundak Fatih.


Wajah si pemuda yang asalnya kelabu itu cerah seketika kala mendengar suara si pujaan hati mengalun merdu menyapa indera pendengarannya, awan mendungnya seakan rontok bak butiran debu yang langsung tertiup angin entah kemana. Ia menghentikan langkah dan berbalik badan dengan senyuman luar biasa bahagia menghiasi wajahnya.


“Kok kamu ada di sini, Frey? ucapnya berbasa basi padahal jatungnya tengah berolahraga saking bahagianya, apalagi ini adalah pertama kalinya Freya menyapanya terlebih dahulu.


“Ah… itu karena_” ucapannya menggantung di udara, tiba-tiba semburat merah malah merebak di wajah Fatih. “Jadi, sejak tadi kamu memperhatikanku ya?” ujarnya senang.


“Dih, ngapain merhatiin kamu, cuma gak sengaja liat aja," elaknya. Freya tiba-tiba merasa canggung, diiringi wajahnya yang perlahan memanas. Si tomboi itu menepuk-nepuk pipinya sendiri dan memalingkan pandangannya ke arah lain karena merasa tertangkap basah telah memandangi seseorang.


Semua reaksi Freya tak luput dari pandangan Fatih, entah mendapat keberanian dari mana, Fatih tiba-tiba menggenggam tangan Freya dan menariknya untuk mengikutinya. “Ayo, ikut aku. Ada yang ingin kubicarakan.”


Freya seperti terhipnotis dan berjalan patuh tanpa membantah, meskipun dia bingung sendiri, mengapa tubuhnya menurut saja saat Fatih mengajaknya pergi.


Apakah sekarang ini, aku berubah jadi murahan? Pikirnya.


*****


Pukul lima sore Wira langsung menuju ke kamar Dara begitu pekerjaannya selesai dan Bu Rina segera undur diri dari sana tak ingin menganggu waktu pribadi tuan dan nyonyanya.


“Mas, aku ingin ke ruang NICU, aku rindu putriku,” pinta Dara memelas manja saat Wira baru selesai membersihkan diri.


“Baik ratuku, tapi nanti setelah makan malam. Sebentar lagi makananmu akan diantar kemari.” Wira duduk bersisian di tepian ranjang dan mencuri kecupan di bibir ranum sang istri membuat Dara terkekeh karenanya, Dara menyandarkan diri di dada bidang Wira dan membiarkan prianya merengkuhnya dalam dekapan hangatnya.


“Cepatlah sembuh, aku merindukan kehangatanmu,” goda Wira berbisik mesra ke telinga Dara.


“Ish… Mas ini.” Dara mencubit lengan Wira gemas yang disambut gelak tawa dari pria tampan itu.


Di saat mereka sedang bersenda gurau, terdengar ketukan yang begitu ribut dan gaduh. Wira mengurai pelukannya lalu bergegas membuka pintu. Begitu pintu terbuka, tampaklah Freya yang napasnya tersengal dengan wajah panik.


“To-tolong Kak, Fa-Fatih… ping-pingsan di taman!”