
Mereka menyantap hidangan makan malam dalam suasana romantis nan syahdu. Dara menaruh gelas jus jeruk yang separuh isinya sudah berpindah tempat ke dalam lambungnya, lalu mengambil selembar tisu yang tersedia di meja untuk menyeka mulutnya. Dia tampak begitu puas dan gembira, selagi menunggu hidangan penutup disajikan, Wira kembali membuka pembicaraan setelah memastikan Dara selesai menelan makanannya.
“Ehm… sayang, ada sesuatu yang ingin kutanyakan.”
“Iya Mas, ada apa?” jawab Dara.
“Apakah kamu sungguh sayang padaku?” tanya Wira dengan nada serius.
Dara merasa keheranan, kenapa tiba-tiba suaminya bertanya demikian. “Tentu saja, kenapa Mas mempertanyakan hal yang sudah pasti jawabannya….” sahut Dara dengan raut wajah penuh tanya yang tergambar jelas.
“Kamu tahu, bagaimana caranya menyayangiku ?” tanyanya lagi masih dengan ekspresi yang sama, juga iris coklatnya yang melempar tatapan datar tak terbaca.
“Sebenarnya apa maksud dari semua pertanyaan ini, apakah Mas meragukanku?” Dara tampak tersinggung dengan pertanyaan yang dilontarkan kepadanya.
“Aku tak pernah meragukanmu, hanya saja apa yang kamu lakukan kemarin di belakangku itu sama saja dengan menyatakan bahwa dirimu tak sayang padaku,” ucapnya tegas.
Dara langsung membeku, menundukkan pandangannya, meremas tangannya yang saling bertautan dan menggigit bibirnya. Dara mengira Wira tak mengetahui mengenai hal tersebut, karena sejak kemarin suaminya tak pernah menyinggung tentang kejadian di mana dirinya berniat untuk pergi mencari alamat keluarganya tanpa persetujuan, kendati bahasa tubuh Wira ketika pulang bekerja sempat berbeda dan tampak curiga padanya. “Ma-maaf….” lirihnya seraya menunduk dalam.
“Tahukah kamu? jika kamu benar menyayangiku janganlah membahayakan kondisimu sendiri. Hanya itu yang kuminta," ucap Wira pelan namun menekankan setiap kata-katanya.
“Aku mengaku salah. Tapi, semua itu kulakukan bukanlah tanpa alasan. Mas memintaku terus bersabar hanya saja aku sudah tak mampu menahannya lagi, andai Mas tahu betapa panjang penantianku untuk menemukan titik terang tentang jejak asal usulku, kuharap Mas mengerti alasanku melanggar pesanmu,” jelas Dara hati-hati sembari memberanikan diri untuk membalas tatapan tajam Wira walaupun dengan takut-takut.
“Kebenaran apa? tentang apa?” Dara memicingkan matanya tak mengerti.
“Tentang orang tuamu.”
Deg….
Dara terkesiap, mengerjapkan matanya kebingungan seperti orang linglung.
“O-orang tuaku… maksudnya Mas sudah mengetahui sesuatu? t-tapi kenapa menyembunyikannya dariku, aku yang paling berhak tahu bukan?” tampak guratan emosi mulai menyala.
“Aku baru mengetahuinya beberapa hari yang lalu, rencananya akan kusampaikan padamu setelah persalinan nanti, tapi saat kutahu dengan nekatnya dirimu ingin pergi mencari sendiri, kuputuskan untuk menyampaikannya padamu sekarang. Maaf, karena telah mencoba menyembunyikan sesuatu lagi darimu, aku hanya tak ingin suasana hatimu memburuk setelah mendengar kenyataannya," tutur Wira.
“Sebelumnya sudah pernah kubilang, seperti apapun masa laluku akan kuterima. Aku tak pernah berharap kisah masa laluku berbalut cerita manis, bukankah para anak yang berakhir di panti asuhan kebanyakan berawal dari kisah sedih? namun, meskipun begitu aku tetap ingin mengetahuinya, tentang siapa keluargaku,” jelas Dara tanpa ragu.
Tatapan Wira kembali melembut, dia meraih tangan Dara yang terjalin di atas meja dan meremasnya, menyalurkan kekuatan dan juga rasa sayangnya kepada Dara. “Kadang kala aku tak menyangka, di balik tubuh rapuhmu tersimpan jiwa setegar batu karang. Akan kuceritakan semuanya padamu, sekarang juga.”
“Katakanlah padaku sepahit apapun kenyataannya, aku siap mendengarnya.”