
Setelah beberapa saat menunggu, terlihat Wira sudah kembali bersama dengan Anggi dan Freya di belakangnya. Dara berpura-pura meringis, agar tidak ketahuan bahwa dirinya tengah berbohong saat ini.
"Terima kasih," ucap Wira. Kemudian dia menerima barang bawaan Dara beserta ranselnya yang dibawakan kedua sahabatnya itu lalu menaruhnya di bagasi.
"Cepat sembuh ya cantik," ucap Anggi dan juga Freya berbarengan.
Dara mengangguk. "Aku pulang dulu ya."
"Iya, hati-hati di jalan ya Dara, Kak Wira."
Freya dan Anggi melambaikan tangannya, dan Wira segera mengemudikan mobilnya dari area parkir outbound menuju pintu keluar.
Sejak tadi, tak ada obrolan apapun di antara keduanya, Dara terdiam sambil sesekali menggigit kukunya pertanda dia resah, gadis itu takut ketahuan bahwa dirinya sedang berbohong saat ini.
Dasar bodoh! Umpatnya dalam hati.
Kira-kira baru sekitar empat puluh lima menit kendaraan melaju, turunlah hujan di tengah-tengah perjalanan mereka. Awalnya hanya hujan ringan, tetapi lama kelamaan air yang turun semakin deras tumpah ruah.
Wira menepikan mobilnya, Dara yang sejak tadi terdiam melirik ke sebelahnya dan dibuat kaget mendapati Wira yang terlihat tidak baik-baik saja. Wira menelungkupkan wajahnya diatas setir sementara tangannya gemetaran menggenggam erat sisi kemudi berbentuk bulat itu. Dara membuka sabuk pengaman dan membenarkan posisi duduknya, kemudian menepuk bahu Wira pelan.
"Kakak, Kak Wira, ada apa?" Dara memiringkan wajahnya sedikit menunduk ingin mengintip ekspresi Wira.
"Ka- Kakak kenapa?" Dara terkesiap dan panik melihat Wira yang seperti itu. Dia menangkupkan kedua telapak tangannya di sisi wajah tampan yang semakin memucat seperti tidak di aliri darah.
"Aku-aku... tak bisa mengemudi jika hujan turun," sahutnya terbata.
"Sejak kapan, sejak kapan ini terjadi? bukankah dulu Kakak tidak ada masalah dengan turunnya hujan saat mengemudi?" Dara kembali bertanya.
"Se-sejak kecelakaan itu. Bayangan ke-kecelakaan Almira yang terjadi di bawah guyuran hujan waktu itu, selalu datang menghantuiku setiap kali hujan turun di perjalanan," jawabnya lemah.
Wira menjawab dengan bibir yang juga ikut gemetar. Entah kenapa telapak tangan Dara yang menyentuh wajahnya seolah berseru kepadanya untuk menyerah dari egonya dan menyuruhnya berterus terang tentang kelemahan dirinya dihadapan Dara.
Dara semakin panik, kemudian tangannya turun memegang tangan Wira yang gemetar sejak tadi dan ternyata terasa begitu dingin sedingin es. Gadis itu melihat sekitar, mereka menepi masih di sekitaran hutan belantara, sementara malam sudah mulai datang merayap. Hujan turun dengan lebatnya entah kapan akan reda, jika tetap berdiam di tempat sepi itu, Dara juga ketakutan akan perampok ataupun orang jahat yang melintas, ditambah keadaan Wira yang terlihat semakin mengkhawatirkan.
Akhirnya ia memutuskan untuk mengemudikan mobil itu, minimal hingga mereka sampai di jalanan yang ramai, Dara memang pernah mengikuti sekolah mengemudi, hanya saja dia jarang memakai keahliannya itu. Gadis itu membuka dompetnya untuk memeriksa SIM mobil yang dimilikinya, beruntung dia selalu membawanya kemanapun.
"Kak, biarkan aku mengemudi. Di sini terlalu sepi, bahkan kendaraan yang melintas pun sangat jarang, aku takut tempat ini tidak aman sementara hari sudah mulai malam. Kita juga harus mencari tempat beristirahat untuk memulihkan kondisimu." Dara menepuk-nepuk pipi Wira dan pria itu hanya mengangguk lemah.
Dara turun dari mobil dan meminta Wira berpindah tempat duduk, kemudian dia berjalan memutar membuat sebagian rambut dan pakaiannya basah terkena cipratan air hujan.
Dara masuk ke dalam mobil medudukan dirinya dibelakang kemudi, lalu menyalakan mobil tersebut dan melajukannya perlahan dengan hati-hati karena sudah lama tidak memacu si kuda besi lagi. Sambil merapalkan do'a dalam hati, agar perjalanannya lancar tak ada hambatan.