You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 252



Di hari libur akhir pekan ini Dara dan Wira tampak sedang berada di kamar yang letaknya berseberangan dengan kamar utama. Semua dekorasinya di dominasi oleh warna merah muda juga ungu muda yang cantik termasuk gorgen yang menghiasi jendela.


Itu adalah kamar yang mereka siapkan untuk sang buah hati tercinta. Dara begitu bersemangat menata keperluan untuk menyambut kelahiran buah cintanya dengan Wira, membuka kemasannya satu persatu setumpuk barang-barang kelengkapan bayi yang dibelinya beberapa waktu lalu, langsung dikirimkan oleh butik terbaik ke rumahnya sesuai permintaan Wira, ditambah barang-barang yang dikirimkan Ratih juga ikut bergabung si sana, bahkan kantong-kantong belanjaan tersebut memenuhi hampir seluruh ruangan kamar tersebut. Awalnya Bu Rina lah yang akan membenahi barang-barang di kamar tersebut, namun Dara berujar ingin melakukannya sendiri.


Wira juga membantu bebenah, duduk bersila ikut membuka kantong belanja yang penuh sesak di sana. Ia merasa lega, setidaknya Dara tampak tak terlalu terpengaruh dengan apa yang dituturkannya tadi malam di restoran. Meskipun begitu, masih tertangkap guratan sendu di wajah cantik istrinya yang berusaha disembunyikan darinya. Wira paham, meskipun mungkin mulut Dara mengatakan tak ingin mencari lebih lanjut lagi tentang ibu kandungnya, akan tetapi di hati kecilnya pasti berkata lain.


Ditengah-tengah kesibukan mereka terdengar derap langkah mendekat, rupanya Bu Rina yang datang dan segera menghentikan langkahnya di ambang pintu yang dibiarkan terbuka. “Tuan, Nyonya. Ada Nyonya besar datang berkunjung,” ucap Bu Rina.


“Ibu datang?” Dara yang sedang sibuk membenahi pakaian-pakaian mungil nan lucu langsung menoleh, guratan sendunya langsung sirna dan semua itu tak luput dari pengamatan Wira.


“Iya Nyonya, ibu mertua Anda sudah menunggu di ruang tamu.”


Wanita hamil itu menaruh kembali beberapa barang yang di pegangnnya ke dalam kantong belanja, ia segera melangkah keluar kamar dengan antusias, bahkan Wira yang terlewati olehnya seolah tak terlihat karena kedatangan Ratih lebih menarik minatnya saat ini.


Wira mendengus dan berdecak kesal. Menurutnya setiap kali Ratih datang, istrinya pasti akan lebih tertarik pada ibunya dibandingkan dirinya. Dokter tampan itu juga ikut keluar dari sana mengikuti di belakang Dara.


“Ibu,” panggil Dara sumringah masih dalam langkahnya begitu melihat Ratih yang sedang menyesap teh duduk di ruang tamu.


Ratih segera menaruh cangkir tehnya ke atas meja, beranjak dari duduknya dan berjalan dengan cepat menghampiri Dara karena merasa ngeri menyaksikan menantunya yang hamil besar mempercepat langkah untuk menemuinya.


“Kenapa tak mengabari akan berkunjung ke sini? biasanya Ibu selalu memberitahuku, dengan begitu aku bisa meminta Bu Rina untuk membuatkan hidangan kesukaan Ibu. Aku rindu,” celoteh Dara dengan nada merajuk yang lebih mirip seperti anak kecil.


“Kali ini Ibu sengaja tak mengabarimu dulu, karena ini kejutan,” ucap Ratih sembari tersenyum lebar.


“Kejutan?” senyuman Ratih menular pada Dara.


Sementara tanpa mereka sadari, sedari tadi seorang pria berdiri menyandarkan punggungnya di dinding dekat pintu pembatas antara ruang tamu dan ruang keluarga dengan tangan berlipat di dada tengah mengawasi mereka berdua. Keningnya berkerut, mata menyipit dan bibirnya mengerucut menyaksikan interaksi dua wanita beda generasi tersebut. “Asyik sekali, sampai-sampai aku diabaikan,” protesnya.


Kedua wanita itu langsung menoleh ke arah sumber suara membuat Ratih menahan tawanya melihat ekspresi Wira. “Kamu bukannya menyambut kedatangan Ibu tapi malah nampak cemburu,” ucap Ratih dengan sengaja menyelipkan sedikit ejekan candaan untuk menggoda putra pencemburunya.


“Aku kadang tak mengerti dengan isi kepala kalian saat bertemu, seolah mempunyai dunia sendiri yang tak melibatkanku di dalamnya,” dengusnya yang malah membuat Dara terkikik geli. Wira kemudian berjalan menuju sofa mendudukkan diri di sana disusul Dara dan juga Ratih.


“Hhh… kamu ini. Kurangi kadar kecemburuanmu itu, masa iya kamu juga cemburu sama Ibu.” Ratih terkekeh dan Wira hanya memutar bola matanya malas.


“Kedatangan Ibu hari ini untuk memberitahu kalian tentang rencana pesta baby shower untuk Dara. Pesta kecil untuk menyambut kelahiran anak pertama kalian sekaligus cucu pertama keluarga Aryasatya. Acara ini dimaksudkan agar ibu hamil tidak stress menyongsong hari-hari menjelang persalinan. Semua keperluan sudah disiapakan, hanya keluarga dekat saja yang akan diundang untuk menjaga agar Dara tidak kelelahan. Undang juga teman baik kalian untuk datang memeriahkan. Bagaimana, apakah kalian setuju?”