You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 257



Sesampainya di depan toilet wanita yang berdampingan dengan ruangan pesta. Wira menajamkan pendengarannya dengan saksama, keadaan begitu sepi tak ada suara orang ataupun bunyi air mengalir dari dalam sana. Lima menit berlalu pria tampan itu masih berdiri termangu di depan pintu masuk toilet dan tak mendapati siapapun keluar dari dalam sana. Semakin lama menunggu malah semakin gusar, lantaran rasa cemas mulai merayapinya dengan langkah ragu ia memberanikan diri untuk masuk.


Wira celingak celinguk. Hening, tak ada siapapun di dalamnya . “Dara… Dara sayang, di mana kamu?”


Tak ada sahutan apapun, hanya hening dan sepi disertai gema dari suaranya, Wira juga mengetuk setiap bilik toilet di sana sambil memangil nama Dara berulang kali. Penasaran, Wira juga membuka satu persatu pintu bilik, takut ternyata Dara pingsan di salah satu bilik tersebut, akan tetapi dia masih tidak menemukannya.


Wira keluar dari sana dan kembali ke ruangan pesta, mungkin saja istrinya itu pergi ke toilet lain dan berharap semoga sudah kembali lagi. “Apa Dara sudah kembali?” tanya Wira pada kerumunan teman-teman Dara.


“Belum,” sahut Freya sembari menggeleng. “Bukannya Kakak menyusulnya?” Freya balik bertanya kepada Wira.


“Dara tidak ada di toilet samping dining room ini. Kukira dia sudah kembali bergabung dengan kalian.” Kecemasan yang nyata mulai merayapi Wira, perasaanya mendadak tidak enak, tetapi dia berusaha tetap bersikap tenang dan menyembunyikan rasa cemasnya agar para tamu tak mengetahuinya. Mungkin saja efek dari rasa antusias menjadi calon ayah membuatnya mudah merasa khawatir.


“Duh, harusnya tadi kutemani Dara ke toilet,” ucap Anggi yang sepertinya mulai cemas.


“Tak mengapa, biar aku yang mencari. Mungkin saja Dara pergi ke tempat parkir untuk mengambil sesuatu di mobil.”


“Coba hubungi ponselnya Kak,”cicit Freya yang juga ikut khawatir.


“Ponselnya ada padaku.” Wira merogoh saku celananya dan menunjukkan ponsel Dara. “Kalian lanjutkan saja, aku akan mencari Dara ke tempat parkir.”


Tak berlama-lama, Wira melangkahkan kaki panjangnya lebar-lebar setengah berlari dari area privat dining room menuju area umum restoran kemudian keluar ke tempat di mana mobilnya terparkir. Tampak Pak Jono di sana yang tengah mengobrol dengan satpam hotel. Melihat tuannya datang, Pak Jono tergopoh-gopoh menyambut Wira.


“Apa Dara tadi ke sini?” sembur Wira langsung.


“Tidak Tuan, Nyonya tidak ke sini,” jawab Pak Jono dengan raut wajah bingung.


Pria jangkung memesona itu kembali ke area restoran hendak menuju ruangan pesta yang aksesnya memang melewati area umum restoran. Tepat saat kakinya masuk ke dalam area umum tersebut dibarengi keributan yang tiba-tiba terjadi di sana. Seorang wanita berlarian keluar dari arah toilet di sana sambil menjerit-jerit menggemparkan seluruh penghuni dan juga pengunjung restoran.


“Tolong… tolong… ada yang terjatuh di toilet. Ada wanita hamil terjatuh di toilet!” teriaknya histeris dengan napas tersengal.


Langkahnya terhenti, sejenak Wira tertegun di tengah keributan orang yang berhamburan.


Wanita hamil terjatuh di toilet?


Wira masih mencerna kalimat yang menyapa indera pendengarannya, lalu sesaat kemudian matanya membulat.


Dara!


Fokusnya kembali menguasai, Ia berlari seperti orang gila membelah kerumunan yang juga menuju ke arah yang sama. Sesampainya di sana alangkah terkejutnya Wira menyaksikan Dara dengan tubuh lunglainya berada di lantai dengan kepala di pangkuan cleaning servis wanita yang sepertinya mencoba menolong meskipun tampak luar biasa panik.


“Tolong beri jalan, itu istri saya!” seru Wira seraya merangsek masuk, lalu bersimpuh meraup Dara ke dalam pangkuannya dan menepuk-nepuk pipinya.


“Dara… sayang, kamu kenapa?” Dengan napas tersengal disertai kepanikan yang menyerbu, Wira mencoba tetap tenang terkendali.


“Mas, to-tolong Anakku… anak kita,” lirihnya dengan suara lemah sembari memegangi perutnya.


Wira merasakan tangannya dibasahi cairan hangat, dan saat ia mencoba melihatnya ternyata darah mulai merembes menembus gaun yang dipakai Dara. Matanya melebar, rasa takut menyerbunya tanpa ampun, secepat kilat wira bangun dan membawa Dara berayun dalam gendongannya menuju tempat parkir.