You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 278



Berbagai macam menu sarapan tengah disajikan oleh para koki di ruang kumpul keluarga di area resort tempat mereka menginap. Selagi menunggu sarapan siap, Haris membaca laporan perusahaan di laptopnya, Ratih dan Dara masih berada di kamarnya masing-masing tengah berganti pakaian, Bu Rina sedang membereskan peralatan bekas memandikan Selena, sementara Wira tengah duduk di sofa panjang, berselonjor kaki di sana sambil menonton televisi dengan Selena yang sudah wangi di pangkuannya.


Semalam kegagalan memadu kasih terjadi kembali. Di saat pemanasan baru saja berlangsung, Ratih mengetuk kamar mereka sambil menggendong Selena yang menangis lantaran Wira lupa belum menyerahkan ASI perah untuk putri kecilnya yang masih berada di lemari pendingin di dalam kamarnya. Dara melompat Dari tempat tidur ketika mendengar suara ibu mertua juga anaknya, dia menyambar kaos Wira yang terongok di lantai dan memakainya serampangan sedangkan Wira dengan lunglai kembali memakai celana panjangnya.


Dara yang merasa kikuk mengambil Selena kembali untuk disusui walaupun Ratih mengatakan hanya hendak mengambil ASI perah. Dara sudah tak bisa lagi berkonsentrasi untuk bermesraan, ia merasa tak enak hati dan juga malu jika membiarkan anaknya menangis meraung sementara dirinya malah mendaki naik-naik ke puncak kenikmatan.


Televisi menyiarkan berita pagi internasional. Selena yang berada dipangkuan Wira bergumam-gumam lucu, tangannya menggenggam erat telunjuk sang papa dan menggoyang-goyangkannya disertai kakinya yang bergerak-gerak menggemaskan pertanda dia senang.


“Seneng banget Anak Papa pagi ini,” ucap Wira yang kemudian mengecup pipi gembul buah hatinya.


“Kenapa Selena tak mau berbagi Mama dengan Papa, hmm? Papa juga butuh disayang Mama.” Mungkin efek dari kekurangan asupan vitamin ranjangnya membuat pria tampan itu mengajak bayi empat bulan untuk mengobrol dan bercakap-cakap dengannya menumpahkan curahan hatinya.


“Kamu takut Papa mengganggu sumber makananmu?” tanyanya lagi. Bayi itu menanggapinya dengan celotehan gemasnya dan tersenyum senang menampakkan gusinya seolah tengah menertawakan penderitaan sang Papa.


“Kamu membuat Papa berkarat, Nak," keluh Wira, lalu sebuah cubitan mendarat di pinggangnya.


“Mas!” geram Dara pelan dengan mata membulat. Dara duduk di samping Wira dan mengambil alih Selena ke pangkuannya dengan bibir cemberut.


“Tapi yang benar saja! Bisa-bisanya Mas membahas hal seperti itu dengan bayi!”


Wira terkekeh dan merangkul keduanya. "Akhh… bendunganku yang sudah terakumulasi penuh hampir jebol rasanya,” desahnya frutrasi membuat Dara terkikik geli.


“Tapi sepertinya Selena hanya terbangun ketika aku mencoba mengusik sumber makanannya, mungkinkah kita harus melakukannya tanpa mengganggu area tersebut?” Wira menyipitkan matanya dengan tatapan mesum penuh minat kepada Dara.


“Berhenti memikirkan tentang mendayung ranjang! Sekarang watunya sarapan, Mas harus segera mengisi perut. Bukankah nanti siang kita mau pergi ke tempat ski? Ayo, kita makan sekarang.” Dara mengalihkan topik dan bergegas menuju meja yang telah selesai di isi dengan berbagai macam hidangan sarapan menggugah selera, ia segera bermanuver begitu melihat ekspresi tatapan Wira sudah hampir menyerupai macan lapar yang menginginkan daging segar sekarang juga.


Kendati dengan embusan napas berat, Wira ikut bangkit dari duduknya. “Hhhh… walaupun ski adalah kegiatan favoritku, tapi saat ini aku lebih suka mendaki sesuatu yang membuatku berkeringat dengan ledakan kenikmatan di ujungnya,” gumamnya sembari mengekor melangkah gontai mengikuti Dara di belakang, wanita cantik bersurai panjang itu menghentikan langkah dan berbalik badan ketika gumaman Wira terdengar di telinganya.


“Mas!"


"Iya, sayang," ujar Wira menggoda.


"Mulutmu!” seru Dara seraya membeliak.