
"Nyonya...."
Bu Rina mengetuk pintu kamar majikannya. Di tangannya menenteng beberapa paper bag berwarna krem dengan logo merek butik dari perancang ternama di ibukota.
Ceklek....
Pintu terbuka, menampakkan nyonya mudanya yang berbalut bathrobe warna salem dengan handuk rambut berwarna senada yang membungkus surai indahnya, sepertinya Dara baru saja selesai membasuh diri sepulang dari kampus sore ini.
"Ya, Bu Rina. Ada apa?"
"Ada kiriman untuk Nyonya. Sopir yang mengantarkannya ke sini dari rumah besar, katanya ini beberapa gaun yang dipesankan Nyonya Ratih untuk Anda," terang Bu Rina.
"Kenapa banyak sekali? seingatku sewaktu di butik kala itu, aku hanya meminta dibuatkan satu gaun saja yang sesuai ukuranku dan satu set jas untuk Mas Wira." Dara mengernyitkan keningnya samar.
"Tadi sopir juga menyampaikan pesan kepada saya. Nyonya Ratih sengaja mengirim beberapa agar Anda bisa lebih leluasa memilih gaun mana yang ingin dipakai untuk pesta, semuanya sudah disesuaikan dengan ukuran Anda. Bolehkah saya masuk? untuk mengangkut semua ini ke dalam, Nyonya." Bu Rina meminta izin dengan sopan untuk menaruh barang-barang yang dibawanya.
"Ah, maaf. Masuklah." Dara membuka pintunya lebar-lebar dan Bu Rina segera melakukan tugasnya, menaruh semuanya di meja ruang ganti.
"Saya permisi Nyonya." Bu Rina undur diri.
"Terima kasih," sahut Dara yang kemudian menutup pintu.
"Ya ampun... ini banyak sekali," gumamnya.
Dara menarik kursi dan melihat satu persatu paper bag termasuk yang berisi jas mahal untuk Wira. Pertama-tama yang dilakukannya adalah mengeluarkan dan menggantungkan setelan untuk suami tercinta agar tetap rapi, kemudian setelah itu barulah ia mengeluarkan gaun-gaun cantik yang sudah pasti membuat para wanita terkagum-kagum dengan desainnya.
Ada yang berwarna merah, gaun selutut dengan model berlengan panjang berkerah tinggi. Ada juga yang berwarna biru toska, gaun panjang semata kaki dengan bagian punggung yang lumayan terbuka. Satu lagi berwarna putih, gaun panjang semata kaki tanpa lengan dengan tali pita panjang yang diikat di bagian belakang.
Dara bingung sendiri. Semua gaun itu tampak indah, membuatnya bimbang harus mengenakan yang mana di hari spesial pesta pengumuman pernikahannya. Ia memutuskan mencobanya satu persatu untuk memilih gaun mana yang nanti akan dikenakannya.
Pilihan pertamanya jatuh pada gaun yang berwarna putih, ia membolak-balikkan baju tersebut dengan ekspresi luar biasa gembira ketika kembali mengingat bahwa ibu mertuanya yang memilihkan semua ini untuknya, merasa dirinya begitu diperhatikan dan disayangi oleh sosok seorang ibu yang selalu didambakannya.
"Dara... sayang...." panggilnya.
"Aku di sini Mas," sahut Dara sedikit berteriak agar suaminya mendengar bahwa dirinya tengah berada di ruang ganti.
Dara masih menghadap cermin, sudut matanya menangkap sosok tampan yang masuk ke ruang ganti dari pantulan cermin di hadapannya.
"Mas, boleh minta tolong? aku kesusahan menggapai resletingnya," pinta Dara.
Wira segera menghampiri dan berdiri di belakang Dara kemudian membantu istri tersayangnya berpakaian.
"Gimana Mas? gaun yang ini cocok sama aku nggak?" tanya Dara, terdengar nada tak percaya diri dari suaranya.
"Cantik, sangat cantik." Wira mengamati pantulan Dara di cermin dengan tatapan memuja.
"Duuh... sepertinya berat badanku semakin bertambah. Aku kelihatan gendut sekarang," keluhnya dengan wajah cemberut.
"Wanita yang sedang hamil dan berat badannya bertambah itu normal. Seperti apapun dirimu, bagiku kamu selalu menjadi yang tercantik," rayunya yang kemudian memeluk dari belakang lalu menopangkan dagunya di pundak Dara.
Keresahan memang lumrah terjadi kepada para wanita muda yang baru saja mengandung. Raisa pernah menjelaskan hal-hal semacam ini panjang lebar padanya, dukungan suami berperan sangat penting agar sang istri tetap dalam suasana hati yang stabil demi kesehatan si ibu dan bayi yang dikandungnya di tengah perubahan-perubahan yang terjadi pada fisiknya.
"Pasti bohong," rajuk Dara dengan bibir mengerucut.
Wira terkekeh dan makin mengeratkan pelukannya. "Mana mungkin aku berbohong, gaun manapun yang dipakai nanti akan selalu terlihat cantik jika istriku yang memakainya."
"Benarkah?" Dara tersenyum kembali dan semburat merah mulai merebak di tulang pipinya mendengar pujian dari prianya.
"Tapi ngomong-ngomong, apa kamu butuh bantuanku juga untuk membuka gaunnya? karena aku lebih bersemangat untuk melucuti ini dari pada memakaikannya padamu, sayang," desahnya serak disusul kecupan mesra sekilas di leher Dara.