
Sepasang matanya yang terlihat berbinar terlihat sederhana dan tidak sederhana pada saat yang bersamaan. Dia mengedipkan mata padaku dan tersenyum, lalu mengambil napas dalam-dalam dan buru-buru menundukkan kepalanya lagi. Aksinya membuatku amat tidak nyaman. Pemandangan itu terlihat seolah-olah aku membully dan mengalahkan dirinya yang lemah.
Jerry menyerahkan bunga dan kado ulang tahun padaku, lalu mencium pipiku dengan lembut tanpa mempedulikan pandangan orang sekitar. Setelah beberapa saat, barulah dia menyadari kejanggalan dari emosi kedua orang tuaku. Dia pun segera menanyakan apa yang terjadi.
Yah, tidak ada hal yang bisa dirahasiakan selamanya, apa lagi Jerry memang berhak tahu bahwa aku dan Vivi adalah anak yang saling tertukar. Aku dan dia sudah berpacaran selama dua tahun dan akan segera menikah. Orang-orang mengatakan kami adalah pasangan serasi. Kami sama-sama kuliah di luar negeri dan memiliki masa depan yang menjanjikan. Keluarganya cukup kaya. Orang tuanya menjalankan perusahaan tour dan travel, sementara orang tuaku menjalankan sebuah hotel. Kedua keluarga kami juga menjalin hubungan kerja sama dalam beberapa tahun terakhir. Aku susah payah belajar manajemen bisnis perhotelan juga supaya bisa membantu usaha orang tua.
Sebelumnya aku selalu mengira aku dan Jerry akan hidup bahagia untuk selamanya, tetapi kemunculan Vivi dan masalah tertukar membuatku jadi amat tidak percaya diri dan tidak yakin akan hal ini. Namun, semua ini tidak seberapa, hal yang benar-benar aku takuti adalah kehilangan kasih sayang orang tua.
Saat aku membawa Jerry keluar, dia terus menghiburku. Dia menasehatiku untuk tidak perlu khawatir, anggap saja semua ini sebagai takdir.
Ketika aku kembali ke rumah, suasana canggung di dalam rumah lagi-lagi menyelubungiku. Ayah memberikanku sebuah kertas bertuliskan sederet alamat.
"Wenny, ini alamat orang tua kandungmu. Kami sudah berdiskusi dengan mereka. Ke depannya Vivi akan tinggal di rumah kita, Ayah dan Ibu tidak berencana untuk membiarkannya pulang lagi. Selama lebih dari 20 tahun terakhir, Vivi telah banyak menderita, Ayah dan Ibu mau menebus semua itu."
Vivi duduk di sofa dengan kepala tertunduk, masih menunjukkan tampang penakut dan lemah. Ketika Ayah mengatakan bahwa dia telah banyak menderita, dia bahkan menarik lengan Ayah erat-erat.
Keheningan yang lama membuat Vivi yang dari tadi diam saja mulai bergidik. Tubuhnya bergidik parah seolah menyembunyukan sebuah ketakutan yang sangat hebat. Dia semakin mengeratkan pegangannya pada Ayah, kemudian aku akhirnya mendengar suaranya setelah sekian lama, "Aku benar-benar tidak mau kembali ke sisi mereka lagi. Ayah, Ibu, tolong pikirkan solusi. Aku tidak mau menikah dan melahirkan anak di usia begitu muda. Yanti Suhena pasti tidak akan mau melepaskan aku begitu saja. Aku tidak mau menjalani kehidupan seperti itu lagi, tolong..."
Tangisan Vivi lemah dan gemetar, membuat orang merasa iba padanya. Ibu menyeka air mata dan memeluknya, sementara Ayah mengelus dahinya dengan tak berdaya. Aku tidak tahu seperti apa kondisi "keluarga" Vivi, tetapi aku sepertinya dapat menebak bahwa “Yanti Suhena” mungkin adalah ibu angkatnya, yaitu ibu kandungku. Kini dia menyebut nama Yanti Suhena secara langsung, ini menunjukkan bahwa dia memang sudah lama ingin melarikan diri dari keluarga itu.
Ayah dan Ibu terus terdiam, tangisan digantikan dengan kesedakan. Aku paling takut dengan respon diam tanpa jawaban. Seringkali saat seperti ini adalah saat-saat terjadinya pengorbanan diri. Seseorang harus mengorbankan diri untuk memecahkan masalah, dan aku adalah sasaran terbaik.
Demi membalas budi orang tua karena telah membesarkanku, aku tidak punya pilihan selain mengorbankan diriku sendiri.
"Ayah, Ibu, biarkan aku saja yang pergi. Aku akan minta Jerry untuk mengantarku ke sana besok. Aku akan melihat situasi di sana dulu, lalu memberi kalian solusi."
Kecemasan pada tatapan Ayah berangsur-angsur menghilang, lalu digantikan dengan maksud menghibur, "Ayah dan Ibu tidak punya maksud lain. Meskipun Vivi sudah pulang, tapi kalian berdua sama-sama adalah putri kami. Kami tidak akan meninggalkan siapa pun."
Aku mengangguk dan bangun, "Kalau begitu, aku balik ke kamar dulu. Tidak mudah bagi kalian untuk bisa reuni, kalian bisa ngobrol-ngobrol dulu."