You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 170



Halo my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak kalian setelah membaca berupa like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like, vote poin serta koinnya dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis.


Selamat membaca....


😘💕**


*****


Dokter tampan itu kembali tepat saat Dara menyuapi Ratih di sendok terakhir. Wira sedikit terkesiap, terdiam di ambang pintu ketika menyaksikan pemandangan yang tak terduga.


Dara menolehkan kepalanya ke arah pintu dan senyum manisnya langsung terbit ketika melihat pria pujaan hatinya di sana, menularkan raut senyum yang sama di wajah tampan suaminya itu. Wira mendekati ranjang dan duduk di tepiannya.


"Bagaimana keadaan Ibu sekarang?" tanya Wira.


"Sudah tak selemas tadi. Tapi setelah makan bubur terasa kembali mengantuk, Ibu ingin tidur lagi saja," jawab Ratih pelan, tak ada nada yang tinggi yang biasa membalut setiap kalimatnya.


"Minum dulu Tante." Dara menyodorkan segelas air putih kemudian setelah selesai ia mengatur kembali posisi tempat tidur Ratih menjadi berbaring disusul Wira yang menyelimuti ibunya.


"Selamat beristirahat Bu," ucap pria jangkung itu.


Ratih mengangguk dan mengulas senyum tipisnya sebelum kelopak matanya kembali terpejam. Wira mematikan lampu utama dan menyisakan penerangan temaram di sudut ruangan agar suasana istirahat ibunya lebih nyaman


Dua sejoli itu duduk di sofa panjang yang terdapat di dalam ruangan tersebut. Jam di dinding menunjukkan sudah pukul sembilan malam.


"Ayah mana Mas?" tanya Dara.


"Ayah berangkat dengan sopir menemui penyidik dan juga polisi untuk menyerahkan berkas tambahan atas laporan kita tentang Michelia. Tadinya aku yang akan pergi, tapi Ayah memintaku untuk menjaga ibu saja di sini denganmu," sahut Wira sembari menyelipkan untaian rambut panjang Dara ke telinganya.


"Sepertinya Ibu sudah terlelap. Mas juga harus segera tidur, seingatku sejak kemarin Mas belum beristirahat dengan benar," ucapnya khawatir.


Dara mengambil selimut tipis ukuran sedang yang dibawanya dari rumah, merebahkan dirinya di sofa besar itu dan membuka kedua tangannya. "Ayo tidur Mas," pintanya lembut.


"Selamat tidur bayi besarku," ujar Dara sembari terkekeh.


Wira sedikit melonggarkan pelukannya dan mendongakkan kepalanya. "Jadi, bagimu suamimu ini adalah bayi?" Wira menyipitkan matanya ketika bertanya.


"Iya. Soalnya Mas itu kalau di tempat tidur manjanya minta ampun, kalau maunya belum dituruti pasti merengek seperti bayi," ejeknya sembari tertawa kecil.


"Kalau begitu kamu harus memperlakukanku layaknya bayi sekarang. Aku ingin tidur, tapi bukankah sebelum tidur para bayi akan mendapatkan jatah nutrisinya?" bisiknya menggoda.


"Maksudnya?" Si cantik yang tengah hamil itu memicingkan matanya menatap Wira.


"Maksudku, biasanya sebelum tidur para bayi harus dipastikan mendapatkan haknya agar tidurnya pulas. Jadi sekarang akupun menginginkan hal serupa," ujarnya menyeringai.


"Hak apa?" Dara masih belum memahami arah pembicaraan Wira.


"Hak ini sayang, aku meminta jatahku." Tunjuk Wira dengan tatapan mesum ke arah gunung kembar Dara yang semakin hari tampak semakin berisi dan ranum.


"Mas!" pekiknya dengan mata melotot mencela ke arah Wira dan kini wajah cantiknya sudah dipenuhi semburat merah.


"Kan tadi kamu sendiri yang bilang kalau aku ini bayi. Jadi sekarang biarkan aku menjadi bayimu, kalau tidak boleh aku gak mau tidur!" Wira merajuk.


"Yang benar saja, ini di rumah sakit. Cepat tidur jangan banyak alasan!" seru Dara.


Meskipun dengan suara pelan Dara menekankan setiap kata-katanya. Ia kembali menengelamkan pria berwajah tampan itu dipelukannya dan mengusap-usap punggungnya.


"Aku ingin menyesapnya sebentar saja. Boleh ya...." desah Wira memelas dipelukan Dara dan dengan sengaja telapak tangannya membelai buah dada istrinya itu. Ia terus menggoda tanpa malu sedikitpun, Wira sangat suka ketika melihat wajah cantik Dara merona merah jika membahas tentang hal-hal intim.


"Nggak boleh! Sekarang tutup mata dan tidur. Mas jangan gaduh, nanti ibu terbangun." Dara mulai geram dan mengerucutkan bibirnya kesal karena suaminya menggodanya di tempat yang tidak tepat.


Wira tertawa renyah, walaupun dengan nada galak istrinya itu malah terlihat semakin menggemaskan di matanya. Lalu ia mengeratkan pelukannya dan memejamkan matanya. "Baiklah, Selamat tidur sayang."