
Wira masih terduduk di kursi apotek, menyugar rambutnya frustrasi dengan raut wajah luar biasa muram.
"Jangan menyalahkan diri. Aku sangat paham. Walaupun gadis yang dipersunting masih belia, tapi saat berdekatan dengan istri yang dicintai sudah pasti semua suami takkan mampu menahan diri untuk menebar benih dan bercocok tanam bukan?" Raisa berucap penuh pemakluman mencoba menghibur Wira yang kentara merasa bersalah.
Wira mengangguk tipis disertai senyuman getir. Ia kembali menegakkan punggungnya membetulkan posisi duduknya. "Apalagi yang harus kuperhatikan tentang kondisi Dara selain hal yang disebutkan tadi?"
"Dukungan penuh suami sangat berperan penting di masa kehamilan. Pastikan menjaga moodnya agar selalu bahagia, usahakan berat badannya jangan sampai naik drastis melebihi batas normal sebagai salah satu upaya pencegahan. Dari grafik pemeriksaan menunjukkan jika istrimu mengalami kenaikan berat badan yang cukup signifikan walaupun sekarang masih dalam batas yang wajar." Raisa menarik napas sebelum melanjutkan penjelasannya.
"Juga mengenai kegiatan ranjang, saat ini masih memungkinkan untuk dilakukan jika memang sangat mendesak karena perihal gejala yang mengarah ke sana baru perkiraan saja, tapi tetap harus dilakukan dengan lembut dan hati-hati. Akan tetapi jika nanti ternyata istrimu positif mengidap preeklamsia, maka aktivitas ranjang harus diliburkan selama masa kehamilan." Raisa menjelaskan secara terperinci hal-hal yang harus diperhatikan Wira.
"Akan kuingat semuanya. Jika ada hal terlupa berkaitan tentang kondisi Dara, jangan lupa untuk mengabariku secepatnya. Aku akan berusaha memantau kondisinya sebaik mungkin sesuai arahan darimu," ucap Wira penuh tekad.
"Pasti. Jika ada hal penting yang terlewat, aku akan langsung menghubungimu. Namun, yang paling kucemaskan adalah kondisi psikis istrimu nantinya jika kemungkinan terburuknya berakhir kehilangan bayinya. Entah dia bisa menanggung beban semacam itu atau tidak. Maka dari itu sampaikanlah secara perlahan jangan sampai menakutinya. Jika dia stress malah bisa jadi pemicu hal-hal yang tak diinginkan. Kita berusaha semaksimal mungkin agar keduanya tetap berada dalam pelukanmu."
"Aku mengerti. Makasih Sa," sahut Wira diiringi anggukan kemudian beranjak pergi dari sana.
*****
Hamparan hijau kebun teh membentang sejauh mata memandang. Tetesan embun pagi menggulirkan jejak basahnya di ranting dan dedaunan. Sejuk dan segarnya udara puncak di pagi hari dibiarkan menerobos bebas bertandang masuk ke sebuah kamar besar bernuansa putih melalui jendela yang dibuka lebar-lebar.
Sang surya ikut menebarkan pesona paginya yang hangat membelai bumi dan seisinya, membuat langit pun riang gembira menyambut hadirnya si cahaya menyilaukan yang mulai menapaki panggungnya di angkasa.
Di jendela tersebut tampak seorang pria tampan berdiri termenung dengan tatapan sendu, binarnya meredup didera ketakutan dan kengerian membayangkan sumber cahayanya direnggut dari sisinya.
Di belakangnya mengekor pengurus villa, membawa senampan penuh sarapan untuk tuan dan nyonyanya, meletakkannya di meja kemudian segera undur diri dari sana.
Mata Dara langsung tertuju pada sosok Wira yang berdiri di depan jendela. Biasanya jika mencium aroma kopi kesukaannya suaminya itu akan langsung menoleh, tetapi kali ini Wira tetap terdiam terpaku menatap lurus ke hamparan kebun teh di hadapannya.
Prianya itu sudah tampak segar, memakai celana jeans berwarna hitam dipadu sweater wol berkerah tinggi juga berwarna hitam, melekat sempurna membalut tubuh tinggi tegapnya. Rambut hitamnya sedikit basah masih meninggalkan jejaknya sehabis mandi, disertai aroma maskulin memikat hati yang selalu menguar dari tubuhnya.
Dara menaruh kopi di meja depan sofa sederhana yang ada di kamar itu. Melangkah menghampiri dan ikut berdiri di samping Wira kemudian menyandarkan diri di sisi tubuh tinggi itu.
"Mmhh... udaranya segar. Aku suka...."
Suara Dara yang bergumam disampingnya memecah lamunan Wira. Ia menoleh ke samping kanannya dan mendapati istrinya sudah bersandar di sisi tubuhnya. Ia tersenyum lalu tangannya terulur meraih pinggang Dara semakin merapat kepadanya disusul sebuah kecupan penuh cinta mendarat di puncak kepala Dara.
"Kenapa Mas melamun?" tanya Dara dengan tatapan lurus ke arah dedaunan teh yang berkilauan, berasal dari embun pagi yang berpadu dengan sinar matahari.
"Aku tak melamun. Hanya sedang menikmati segarnya udara pagi yang jauh dari polusi dan hiruk pikuk Ibukota. Oh iya, apakah sarapannya sudah siap? aku lapar." Wira berusaha mengalihkan pembicaraan agar Dara tidak bertanya lebih lanjut.
"Tuuhhh...." Tunjuk Dara ke arah meja depan sofa. "Kopi dan sarapan Anda sudah siap tersaji, Tuan. Ayo kita makan, sengaja kubawa hidangan untuk kita ke sini karena ingin sarapan di kamar sambil menikmati pemandangan kebun teh."
"Siap laksanakan, Nyonya. Ayo makan sekarang, jangan membiarkan putri kita menunggu lama jatah sarapannya."