You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Bab 11



Aku pergi ke rumah Jerry dengan membawa sekeranjang buah. Aku awalnya datang untuk menjenguk sekaligus minta maaf, siapa tahu aku bahkan tidak diperbolehkan bertemu dengannya.


Cindy tidak mengizinkan aku masuk. Dia bilang Jerry baru saja tertidur, demamnya baru sedikit reda, dia harap aku tidak mengganggunya.


Aku sudah pernah datang ke rumah Jerry beberapa kali. Sebelumnya Paman Hersey dan Tante Cindy masih amat ramah padaku. Hari ini mereka malah memperlakukanku layaknya wabah.


Setelah meninggalkan rumah Jerry, aku langsung mengirim pesan kepadanya, tapi tetap saja tidak ada balasan. Aku hanya bisa meyakinkan diri sendiri bahwa dia perlu istirahat sekarang, dia pasti akan langsung membalasku ketika bangun nanti.


Aku mulai khawatir tentang keberadaan masalah 2 miliar. Aku mencari teman-teman sekeliling untuk pinjam uang, tapi mereka semua pura-pura sibuk dan tidak punya uang. Hanya ada seorang sahabatku yang memberikan 100 juta kepadaku, padahal aku tahu dia sendiri tidak punya banyak uang.


Orang-orang pada bilang bahwa orang dewasa akan mengalami keruntuhan mental di saat meminjam uang. Aku akhirnya dapat memahami kata-kata itu dengan baik. Di sini aku melawan rasa malu dan segan untuk meminjam uang, tidak peduli seberapa banyak kata-kata jaminan yang aku sampaikan, aku bahkan menjadikan diriku sendiri sebagai jaminan, teman-teman yang biasanya bergaul bersama denganku langsung menjadi sensitif begitu mengungkit tentang uang.


Aku paham dan bisa menerima hal ini. Kalau digantikan dengan diriku, aku pun tidak tentu akan pinjam.


Lampu jalan mulai menyala di bawah langit gelap. Aku tidak sadar bahwa aku sudah duduk di dalam mobil selama lebih dari tiga jam dan juga menelepon selama lebih dari tiga jam untuk meminjam uang.


Cuaca di luar semakin dingin. Hujan gerimis juga mulai turun. Dalam perjalanan pulang, mataku terasa lelah dan kering. Aku lupa berapa kali aku sudah menangis. Ini pertama kalinya aku begitu depresi karena masalah uang.


Begitu sampai di rumah, aku melihat lampu di lantai dua menyala. Entah pembantu atau Ibu yang sudah pulang. Ketika aku membuka pintu, aku langsung mencium bau sop daging sapi.


Vivi muncul di hadapanku dengan mengenakan baju tidur pink pucat yang bersih, kemudian tersenyum lembut, "Ibu suruh aku pulang malam ini, rumah sakit tidak terima membiarkan terlalu banyak pendamping menetap." Aku mengangguk, "Kamu masak sop?"


Pada saat ini, Tante Rani berseru dengan tidak sabar, "Sarang burung sudah siap. Aku taruh di atas kompor. Kalau tidak ada urusan lain, aku pulang dulu."


Aku melirik ke arah dapur. Terlihat Tante Rani menyeret empat sampai lima kantong sampah hitam yang besar. Sepertinya Vivi menyuruh Tante Rani melakukan banyak pekerjaan.


Vivi mengulurkan tangan dan menarik lenganku sambil tersenyum manis, "Ke depannya aku panggil kamu Kakak, ya?" Aku mengangguk tercengang, kemudian ditarik secara paksa ke sisi meja makan olehnya, "Kamu belum makan, kan? Kamu pasti kelelahan selama beberapa hari ini."


Jika yang dikatakan pria itu benar, lalu Vivi di hadapanku ini masih suci atau sudah ternodai?


Mangkuk sup mengepul panas. Vivi berkata padaku, "Ibu sudah bilang ke aku, katanya kamu mengusulkan agar aku bisa tetap menjaga hubungaku dengan Yanti." Aku mengangguk, "Ya, karena aku rasa Yanti sebenarnya hanya ngambek. Kalau semuanya bisa duduk tenang dan membicarakannya dengan baik, masalah ini mungkin tidak akan terlalu sulit diselesaikan."


Vivi menyendok sesendok sup. Matanya tertuju pada sendok dengan tenang, "Kenapa kamu yakin kalau dia hanya ngambek? Apa kamu pernah hidup dengan dia? Atau karena... kamu putri kandungnya, jadi kamu bisa tebak apa yang ada di pikirannya?"


Aku terdiam mendengar kata-kata Vivi. Vivi yang lemah lembut seketika menghilang dan digantikan dengan Vivi yang seram dan mempertanyakanku.


Aku seketika agak panik. Dia melanjutkan, "Kenapa aku harus berdamai dengan Yanti? Apakah hanya supaya kalian bisa menyelesaikan masalah ini sesegera mungkin, kemudian dia bisa ambil 2 miliar dan pergi tanpa mengganggu kita lagi?"


Aku mengernyit, tidak mengerti apa yang dia maksud.


Vivi tersenyum, "Kalau aku membiarkan masalah ini berlalu begitu saja, lalu siapa yang mau bayar penderitaan yang aku tanggung selama lebih dari 20 tahun itu?"


Sekarang aku baru mengerti dengan jelas bahwa emosi Vivi yang tak terkendali dan sikapnya yang tidak kooperatif dalam beberapa hari ini mungkin bukan karena dia merasa Yanti tidak pantas mendapat kompensasi, melainkan karena dia ingin melihat semua orang saling bertengkar. Dengan demikian, barulah dirinya yang tersiksa selama 21 tahun dapat merasa terhibur.


Dia mau balas dendam, balas dendam pada Yanti dan aku.


Keringat dingin mengucur dari punggungku. Vivi tersenyum lagi, "Oh ya, Yanti telepon aku sore tadi. Dia mengutukku lagi tanpa alasan jelas." Aku berusaha menyembunyikan kepanikanku, "Lalu..." Vivi mengambil garpu untuk menusuk salad di piring, "Aku bilang kita tidak akan memberinya sepeser pun!" Vivi menatapku sambil memakan potongan kubis ungu dengan gerakan anggun.


Pada saat ini, terdengar ketukan keras di pintu. Aku buru-buru berjalan ke layar CCTV. Samar-samar aku melihat ada sebuah sosok sedang mengetuk pintu, serta sebuah sosok tanpa kaki tergeletak di lantai.


PoV:


Senang sekali kamu suka karyaku. Jika mau lanjut dulu\, silakan baca karyaku di Fiz*zo ( Waktu cari\, jangan tambah "*") Udh ada lebih 70 bab dan semuanya gratis ya.