
"Akhh," pekik Dara terkejut saat Wira menarik lengannya hingga wajahnya mendarat tepat di dada bidang pria itu dengan kancing kemeja yang sudah terbuka separuh.
Setengah tubuhnya terjatuh di atas tubuh Wira yang berbaring terlentang, Dara hendak bangkit, tetapi secara tiba-tiba Wira membalik posisi mereka sehingga kini Dara berada di bawah kungkungannya dan tangannya mencengkeram pergelangan tangan gadis itu dengan kuat. Mungkin akibat demam tinggi yang dialaminya, membuat Wira berhalusinasi dan mengira yang ada di hadapannya sekarang adalah Almira.
"Mira, kenapa kamu tega melakukan itu padaku huh? apa salahku padamu, apa!" Wira berteriak, suaranya serak sarat akan kepedihan yang mendalam. Sorot matanya memancarkan isi hatinya yang merasa bersalah, terluka, serta kesepian.
"Kakak, sadarlah! Ini aku, bukan mbak Mira!" Dara meronta-ronta berusaha melepaskan diri, tetapi tentu saja tubuh kurusnya takkan mampu membuat Wira bergeming.
Namun, tanpa diduga Wira mencium Dara dengan kasar dan kuat karena mengira yang diciumnya adalah Almira, sebuah ciuman yang sarat akan kemarahan dan juga rasa rindu. Dara membulatkan matanya karena tiba-tiba bibirnya dibungkam oleh bibir pria yang berada di atas tubuhnya itu.
Dara gelagapan, bahkan hampir kehabisan napas karena Wira semakin memperdalam ciumannya tanpa jeda, sedangkan bagi gadis itu ini adalah yang pertama kali baginya. Dia belum pernah mempunyai pacar apalagi berciuman, Dara yang tak berpengalaman hanya berusaha bagaimana caranya menghirup udara sebanyak-banyaknya karena Wira terus memagutnya tanpa henti.
Paru-parunya mulai memberontak dan sisa-sisa napasnya terasa mencekik lehernya, Dara menggigit bibir Wira berharap agar pria itu menyudahi apa yang sedang dilakukannya dan itu berhasil. Napas Dara tersengal, dadanya naik turun, lalu menghirup udara dengan rakus saat Wira melepaskan pertautan bibirnya. Tetapi, tak dipungkiri jantungnya berdetak menggila ketika ciuman panjang tadi berlangsung.
"Kakak, ini aku Dara, sadarlah!" Dengan napas yang masih tersengal, Dara berteriak sekencang-kencangnya.
Suara teriakan Dara akhirnya berhasil menarik kembali kesadarannya, Wira terkesiap saat menyadari tubuhnya menindih Dara dan mencengkeram pergelangan tangan gadis itu sekuat tenaga, ia melepaskan cengkeramannya lalu segera bangkit dan turun dari ranjang.
Wira berdiri bermaksud ke kamar mandi untuk menjernihkan pikirannya. Namun, baru beberapa langkah saja tubuh tingginya limbung dan hampir ambruk.
Awalnya, Dara yang juga turun dari ranjang hendak melayangkan protes, tetapi karena melihat Wira yang hampir terjatuh, dengan cepat gadis itu menahan tubuh pria itu agar tidak ambruk ke lantai dan memapahnya kembali ke tempat tidur.
Dara sebenarnya ingin meluapkan kemarahannya karena Wira mencuri ciuman pertamanya secara tiba-tiba. Akan tetapi, melihat kondisi Wira dalam keadaan sakit dan lemah, ia mengurungkan niatnya dan akan menunda peperangannya di lain waktu.
"Kakak sedang sakit, jadi jangan keras kepala! Biarkan aku membantu." Dara menata bantal agar Wira bisa bersandar dengan nyaman di atas ranjang.
"Aku akan menyeka tubuh Kakak untuk membersihkan keringat dingin dan juga bisa untuk meringankan demam, jadi tolong Kakak b-buka kemejanya." Dara melemparkan pandangannya ke arah lain saat mengucapkan kalimatnya.
Wira hendak menolak, tetapi tubuhnya yang kini melemah tidak demikian, akhirnya ia mengangguk dan membiarkan Dara membersihkan badannya walaupun sebenarnya mereka berdua dilanda kecanggungan yang luar biasa.
*************
Sambil menunggu update, baca juga novelku yang lainnya.
Selamat membaca 💜.