You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 166



Halo my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak kalian setelah membaca berupa like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like, vote poin serta koinnya dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis.


Selamat membaca....


*****


Dokter tampan itu membuka jas putihnya dan menaruhnya di sofa yang terdapat di ruangan VVIP tersebut. Ia memeriksa kembali kondisi Ratih secara keseluruhan dan juga memastikan selang infus terpasang dengan baik.


Wira menarik sebuah kursi ke dekat ranjang dan duduk di sana. Digenggamnya tangan sang ibu yang masih belum belum sadar dari pingsannya. Wajah dan bibir Ratih tampak memucat, hanya saja Wira merasakan telapak tangan ibunya berangsur menghangat tak sedingin tadi.


Ratih memang kadang sering memaksakan kehendaknya kepada Wira dan tak menggubris pendapat anak serta suaminya, acap kali menentang dan lebih mementingkan pendapat teman-teman sosialitanya. Namun sebagai seorang anak, seperti apapun tabiat buruk sang ibu, di hati Wira tetap tertanam rasa hormat, cinta dan sayang kepada wanita yang telah melahirkannya itu.


Terdengar suara pintu yang dibuka beserta derap sepatu di ambang pintu, Wira menoleh dan ternyata ayahnya yang datang dengan raut wajah cemasnya yang langsung menghampiri di mana istrinya tergolek lemah.


"Bagaimana kondisinya?" Tanpa menunggu lagi Haris langsung bertanya kepada putranya.


"Semuanya baik Yah, hanya saja tensi serta asam lambungnya agak naik dan juga sepertinya ibu mengalami shock," sahut Wira.


"Syukurlah. Ayah sangat terkejut karena ini pertama kalinya ibumu sampai pingsan seperti ini," desahnya lega.


"Akupun sama terkejutnya Yah. Ibu tak pernah sampai tak sadarkan diri seperti ini," timpal si jangkung berwajah tampan itu.


Kemudian, Haris juga memindai keadaan putranya yang tampak kusut masai dengan guratan lelah yang menghiasi wajah tampannya.


"Wira, pulanglah Nak. Kamu tampak lelah," ucap Haris sembari menepuk-nepuk bahu putra tersayang kebanggaannya.


Wira menggeleng pelan, "Aku akan pulang kalau ibu sudah siuman. Aku takkan tenang jika belum melihat ibu membuka mata."


Haris mengangguk penuh pemakluman, itulah sebabnya ia sangat menyayangi Wira dan selalu mendukung apapun keputusan yang diambil putranya itu, karena selama ini bagaimanapun keras kepalanya Ratih tak pernah menyurutkan rasa hormatnya sebagai anak yang semestinya kepada orang tuanya.


Wira dan Haris sama-sama mengembuskan napas lega secara bersamaan ketika melihat Ratih akhirnya siuman.


Ratih menoleh mengedarkan pandangannya dan dilihatnya sang suami juga putra tampannya berada tepat di samping ranjangnya.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Haris sembari menggulirkan tangannya membelai kepala wanita yang sudah tidak muda lagi itu.


Ratih hanya mengulas senyum tipis sembari menatap Haris dan kemudian pandangannya teralih ke arah Wira yang menggenggam tangannya.


"Bu...." Wira berucap masih dengan tetap menggenggam tangan ibunya.


Ratih masih tak bersuara, hanya tersenyum sekilas dan kemudian tangannya bergerak mengelus kepala putranya memberi isyarat bahwa dia baik-baik saja.


"Akhh... aku lupa belum memberitahu Dara tentang hal ini," kata Wira.


"Sebaiknya kamu sampaikan secara langsung jika ingin mengabarkan tentang keadaan ibumu. Jika lewat telepon khawatir dia terkejut dan berefek tidak baik padanya, ingat istrimu itu sedang hamil," ucap Haris mengingatkan.


"Kalau begitu aku akan pulang dulu dan memberitahu Dara, nanti aku akan kembali."


"Kamu tidak usah kembali ke sini Nak, biar Ayah yang menunggui ibu. Temanilah istrimu dan pastikan dia tetap aman, kita harus tetap waspada karena Michelia masih blm tertangkap. Ayah khawatir dia akan mencoba mencelakai Dara lagi."


Wira mengangguk tanda menyetujui usulan ayahnya kemudian bersiap untuk pulang dan tak lupa berpamitan kepada Ratih juga Haris.


"Bu, aku pulang dulu. Yah, jika ada apa-apa jangan lupa segera menghubungiku."


Haris mengangguk begitupun juga Ratih yang mengangguk lemah sambil mengulas senyumnya masih enggan untuk berbicara. Setelah beberapa saat Wira meninggalkan ruangan perawatan, tangis Ratih langsung pecah dipelukan suaminya.