You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 168



Wira menangkup kedua sisi wajah cantik Dara kemudian mengecup bibir ranum itu sekilas.


"Terima kasih, karena sudah mengerti aku...." desahnya penuh rasa syukur yang disambut senyuman ketulusan dari sang istri tercinta.


"Apa kamu tidak marah dan dendam akan perlakuan ibu padamu? kupikir kamu akan melarangku mengingat bagaimana kasarnya ibu terhadapmu," ucap Wira menyendu.


"Tentu saja aku marah, aku hanyalah manusia biasa yang memiliki rasa sakit dan juga amarah. Akan tetapi kita harus bijak terhadap siapa rasa marah tanpa ampun dilayangkan, sementara memendam kemarahan kepada orang tua hanya membuat hati semakin menggelap dan pikiran ikut terselimuti kegelapannya. Aku sekarang berpikir, mungkin ini adalah ujian pernikahan yang harus aku lewati." Dara berucap sambil menatap netra suaminya.


Wira memeluk dan menenggelamkan tubuh mungil itu didekapannya, rasa cinta dan sayangnya semakin tak tertahankan, tumpah ruah dipersembahkan hanya untuk si binar hidupnya.


Dara paham, sebagai seorang anak suaminya itu pasti mengkhawatirkan ibunya di saat seperti ini. Seburuk apapun sifat Ratih tetap saja tak bisa didustakan bahwa suka tidak suka dan mau tidak mau, wanita itu adalah ibu mertuanya yang sudah melahirkan pria luar biasa yang kini menjadi suaminya.


Ditambah lagi sekarang dirinya juga tengah mengandung. Dara semakin memahami bahwa ada sebuah ikatan kuat antara ibu dan anak yang tercipta secara alami. Meskipun saat ini ia belum bisa menyentuh, mengecup, ataupun memeluk sang buah hati, tetapi tidak mengurangi rasa cinta dan sayang yang membuncah-buncah menyeruak di hatinya.


Begitupun juga dengan suaminya, sudah pasti keterikatan antara ibu dan anak tercipta di antara Wira dan Ratih, tak mungkin dirinya melarang sang anak yang ingin berdekatan dengan ibunya terlebih lagi di situasi seperti ini.


"Akan kusiapkan keperluan untuk menginap di rumah sakit dan sebelum berangkat sebaiknya kita makan malam dulu," kata Dara.


Kemudian ponsel Wira berbunyi, Dara mengambilkan gawai suaminya dan menyerahkannya kepada Wira. Pria tinggi kokoh itu membuka pesannya dengan Dara di sampingnya yang juga ikut membacanya.


Di sana tertera pesan dari ayahnya yang meminta tolong untuk dibuatkan bubur kacang hijau susu buatan tangan Bu Rina, karena sampai saat ini Ratih masih tak berselera untuk memakan apapun dan Haris teringat akan makanan favorit istrinya yang dulu sering dibuatkan Bu Rina di rumah besar ketika Wira belum menikah.


"Baiklah." Wira mengangguk dan mengusap kepala Dara penuh sayang, kemudian si cantik berambut panjang itu mengambil kembali nampan berisi gelas kosong bekas wedang tadi dan keluar dari kamar.


*****


Sementara itu di tempat lain, tampak Michelia memarkirkan motornya dekat sebuah toko kecil penjual ponsel bekas di daerah terpencil sekitar pantai, ia hendak menghubungi ibunya dan mencari tempat berteduh sementara dalam pelariannya.


Wanita itu celingak-celinguk melihat sekitar memastikan tidak ada yang mengikutinya dan segera masuk ke toko tersebut. Ia membeli ponsel bekas dan juga kartu seluler baru, sementara ponsel mewahnya ia matikan semenjak kabur dari rumah sakit.


"Bu, ini aku."


"Chelia, kamu di mana sekarang? tadi polisi datang kemari dan ibu juga mendengar apartemenmu digeledah. Bahkan sekarang mereka berjaga disekitar rumah. Apa yang sebenarnya terjadi," sahut ibunya diseberang telepon.


"Bu, aku tak bisa berlama-lama dengan sambungan teleponku, jadi dengarkan baik-baik. Tolong minta pada ayah untuk meredam situasi ini secepatnya seperti yang sudah sering ayah lakukan dulu untuk menutupi semua kasus yang menjerat keluarga kita. Tolong pastikan aku bebas dari semua tuduhan bagaimanapun caranya, sementara itu aku akan bersembunyi hingga situasi terkendali. Setelah ayah memastikan semuanya beres aku pasti pulang kembali," pintanya memaksa.


"Baiklah Chelia...."


"Nomor ini hanya kupakai satu kali, nanti aku yang akan menghubungi ibu satu minggu ke depan dan katakan pada ayah untuk menyelesaikan ini secepatnya!"