You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 281



Dua kali pasangan itu kembali mengulangi pergumulan dalam rangka saling memuaskan dahaga semalam. Keduanya sama-sama mendamba, mencurahkan cinta dalam luapan bergelora.


Pagi-pagi sekali keduanya sudah membersihkan diri. Kini mereka tengah sarapan bersama mengisi ulang tenaga yang terkuras di arena ski ranjang tadi malam. Beberapa menit yang lalu senampan sarapan penuh gizi menggoda selera diantar ke kamar mereka. Satu porsi croissant yang baru keluar dari pemanggang, omelet telur sayuran, juga sandwich dengan isiian daging asap lezat serta dua cangkir teh madu yang masih mengepul.


Keduanya menikmati sarapan sembari melihat hamparan salju melalui kaca besar di kamar tempat mereka menginap. Dara meneguk tehnya hingga tandas, sesaat kemudian dia meringis kala tangannya tak sengaja menekan dadanya sendiri.


“Aww,” rintihnya.


Wira yang duduk di sebelahnya langsung menoleh begitu mendengar ringisan Dara. “Kenapa? ada yang sakit? sebelah mana?” cecarnya.


“Ini… sakit banget, Mas. Sepertinya ASI-nya sudah penuh,” sahut Dara sambil memegang bukit kembarnya yang terasa kencang dan ngilu.


Sejak kemarin siang ASI-nya terus terakumulasi hingga penuh sesak pagi ini. Sudah pasti menimbulkan rasa nyeri yang tak nyaman, bahkan ada yang sedikit merembes keluar saking penuhnya.


Semalam, Wira menahan diri untuk tidak menyentuh sumber makanan Selena, Dara merasa sepertinya firasat Wira mungkin ada benarnya juga tentang menghindari mengusik bukit kembarnya ketika mereka bercinta lantaran khawatir Selena menangis bersama kakek dan neneknya di sana.


“Mau kukompres?” tawar Wira dengan nada khawatir.


“Jika begini nggak mempan dikompres. ASI-nya harus diberikan pada Selena atau dipompa barulah sakitnya akan mereda. Tapi di sini tak ada pompa untuk memerah ASI, jadi aku akan menahannya sampai kita kembali ke resort di pusat kota Zurich dan segera memberikannya pada Selena,” sahut Dara yang kembali meringis. “Oh iya, kapan baju kita diantar ke sini?”


“Baju kita sebentar lagi akan diantar. Tapi, jadwal kereta yang akan membawa kita kembali baru akan berangkat dua jam lagi, kamu yakin masih kuat menahan rasa sakitnya beberapa jam kedepan?” tanya Wira dengan nada khawatir, merasa tak tega melihat Dara yang tampak menahan nyeri.


“Jangan cemas, aku masih bisa menahannya." Dara meyakinkan suaminya meskipun raut wajahnya tak bisa menyembunyikan apa yang tengah dirasakannya.


“Kurasa, aku bisa membantu sedikit untuk meredakan sakitnya,” ujar Wira.


“Ya, biarkan aku membantu mengeluarkannya. Hanya itu caranya,” jawabnya lugas tak peduli dengan wajah Dara yang langsung merona efek dari kalimat intim yang dilontarkannya.


“Ba-baiklah.” Tak urung akhirnya Dara setuju karena dadanya semakin berdenyut nyeri. Jujur saja ini bukan pertama kalinya dia memperlihatkan bukitnya pada sang suami, hanya saja biasanya itu dilakukan dalam konteks kegiatan bercinta, sedangkan sekarang situasinya berbeda.


Dara duduk bersandar di ranjang, ia bergerak membuka bathrobe pada bagian atasnya sambil memalingkan wajahnya yang semakin memanas, sementara Wira sudah bersiap di posisinya untuk melakukan tugasnya meringankan rasa sakit istri tercinta.


“Maafkan Papa, Selena. Papa terpaksa mengusik sumber makananmu," gumamnya pelan sebelum akhirnya mulutnya mendarat di puncak bukit sang istri.


Wira melakukan tugasnya dengan lembut penuh perasaan. Menyesap dan membuang secara teratur ke dalam wadah yang sudah disiapkan. Dara merasa sangat sayang harus membuang-buang ASI milik Selena, akan tetapi rasa berdenyutnya semakin menyiksa dan hanya dengan cara mengeluarkannya sebagian untuk membuat rasa sakitnya mereda.


Awalnya semua berjalan sebagaimana mestinya, tetapi lama kelamaan Dara malah mulai merasakan efek lain imbas dari kegiatan ini. Hisapan Selena menenangkan dan melegakan, tetapi jika papanya yang melakukannya malah… terasa... menggairahkan....


Darahnya berdesir. Tanpa sadar jemarinya menyelip ke rambut Wira dan meremasnya dengan mata memejam. “Eunghh… sayang.” Dara melenguh mulai tersulut hasratnya.


Wira menghentikan kegiatannya dan mendongakkan wajah ketika mendengar suara sensual di telinganya. Dara juga menunduk, matanya menatap sayu dengan deru napas terengah.


Tak dipungkiri, sejak tadi Wira sudah bereaksi, tetapi dia meluruskan pikirannya untuk tetap berkonsentrasi pada tujuannya yaitu membuat Dara merasa lebih baik. Namun, melihat Dara yang diliputi kabut gairah, ia pun mendamba ingin kembali menyatu.


Dara melihat jam di dinding sekilas, kemudian kembali menatap Wira. “Satu jam, cukup kan Papa?" tanyanya dengan deru napas memburu.


Wira menyeringai dan mengecup bibir ranum Dara. “Kita bermain cepat,” bisiknya mesra.