
"Jangan khawatir, Anggi cuma butuh waktu." Wira mengecup puncak kepala Dara dan mengusap-usapa bahunya untuk menenangkan.
"Iya Mas, aku paham kok dengan reaksinya. Wajar kalau dia marah karena mungkin Anggi merasa aku telah membohonginya selama ini." Dara menghirup dan mengembuskan napasnya teratur untuk membuat dirinya merasa lebih tenang.
"Jangan terlalu banyak beban pikiran, ada aku tempatmu bersandar dan bernaung. Kita sama-sama berbagi beban, seperti tentang traumaku yang juga kubagi denganmu." Wira membelai lembut surai panjang Dara penuh sayang.
"Aku tahu. Mas selalu bisa diandalkan," sahut Dara dengan senyuman penuh rasa syukur yang tersungging di bibirnya.
"Aku akan ke ruangan rektor serta dosen pembimbingmu. Kamu tidak usah ikut, tunggu saja di kelasmu sambil menunggu sahabatmu kembali," titahnya.
"Baiklah Mas."
Dara mengangguk patuh. Tanpa membuang waktu lagi Wira bergegas menuju ruangan rektor universitas tersebut. Sepanjang lorong menuju tempat yang dituju tak henti-hentinya para gadis mencuri-curi pandang kepadanya. Namun, meskipun begitu ekspresi Wira tetap dingin dan datar seolah perhatian mereka hanyalah angin lalu dan butiran debu.
*****
Wira dengan sopan menyampaikan maksud kedatangannya dan juga menjelaskan statusnya dengan Dara. Tak lupa Wira membawa bukti konkret yaitu buku nikahnya dengan Dara sebagai bukti yang mengesahkan bahwa mereka adalah pasangan suami istri yang diakui secara agama dan negara. Sang rektor menyambutnya dengan hangat. Apalagi setelah berbicara panjang lebar ternyata rektor tersebut adalah salah satu teman baiknya Haris, ayah Wira.
"Nak Wira jangan cemas. Kami di sini akan berusaha untuk menjamin keamanan istrimu selama pembelajaran berlangsung agar tidak menggangu kehamilannya. Sampaikan salamku untuk ayahmu," ujar pria paruh baya itu.
"Terima kasih Pak. Jika diperbolehkan saya juga ingin bertemu dengan dosen pembimbingnya, hanya ingin memastikan semuanya secara detail agar saya merasa tenang," pintanya setengah memaksa.
"Silahkan. Tentu saja boleh, dosen pembimbing jurusan biologi namanya Rifki, kantornya ada di ujung lorong bangunan ini," jelasnya.
*****
Wira menghentikan langkahnya ketika sampai di sebuah ruangan yang terletak di ujung lorong panjang bangunan tersebut. Ruangan dengan pintu kayu berwarna coklat mengkilap itu tampak sejuk dan asri karena di depannya terdapat puluhan pot yang ditanami berbagai jenis tumbuhan.
Pria tinggi memesona itu mengetuk dan tak lama kemudian terdengar suara gagang pintu diputar. Pintu terbuka menampakkan sosok Rifki di ambang pintu.
"Selamat pagi," sapa Wira.
"Selamat pagi juga, silahkan masuk." Rifki mempersilahkan Wira dengan sopan. Wira melangkah masuk dan kini mereka duduk berhadapan. Jujur saja Rifki terkejut dengan kunjungan Wira ke ruangannya yang tiba-tiba di saat hari masih pagi.
"Orang sibuk seperti Anda pagi-pagi berkunjung ke sini sudah pasti ada hal yang sangat penting bukan? ada yang bisa saya bantu Pak Wira?" tanya Rifki ramah.
"Tentu saja. Jika bukan karena hal penting tidak mungkin aku membuang-buang waktuku hanya untuk sekedar menyapa. Langsung saja, aku ingin menanyakan apakah fakultas MIPA tempat Dara belajar menyediakan fasilitas untuk ibu hamil?"
"Ibu hamil?" Kedua alis Rifki hampir bertaut menjadi satu ketika ia mengerutkan keningnya tanda tak mengerti.
"Ya. Fasilitas untuk ibu hamil, aku ingin memastikan agar Dara tetap merasa aman dan nyaman ketika menuntut ilmu di sini," ucap Wira tegas.
"M-maksud Anda? saya tak mengerti?" Rifki semakin tak mengerti dengan arah pembicaraan Wira.
"Dara tengah hamil muda sekarang. Dia sedang mengandung anakku, buah cinta kami." Calon ayah itu memberikan penekanan di setiap kata-katanya, sedangkan Rifki membeku seperti sebongkah es di kutub selatan setelah mendengar penuturan Wira.