You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 106



Foto di ponsel itu memperlihatkan Dara yang dirangkul oleh Rifki. Wira menatap tajam foto tersebut, bohong jika ia tidak cemburu, seandainya suasana hatinya sekarang dipertontonkan secara live mungkin serupa arena gladiator yang hendak membantai korbannya tanpa pengampunan.


Dara juga ikut melirik ke arah gambar yang sedang dipertontonkan ibu mertuanya kepada suaminya, gadis itu meremas sisi pinggang Wira untuk menarik perhatiannya agar pria itu menatapnya.


"Itu tidak benar! Mas juga tahu kan kalau dia itu pak Rifki dosen pembimbingku. Kejadian sebenarnya karena aku hampir terjatuh dan beliau lah yang menolongku, Freya dan Anggi juga ada di sana," jelas Dara kepada Wira masih dengan isakan yang tertahan.


Matanya menatap Wira seolah memohon perlindungan serupa kucing kecil yang terlantar dan ketakutan. Wira masih tak bergeming, ia merasa dejavu, ingatan buruknya saat Almira berpelukan dengan Giovani ikut meracuni isi pikirannya saat ini.


Ratih semakin merasa di atas awan, sepertinya foto tersebut berhasil mempengaruhi putranya saat melihat reaksi Wira yang terdiam dengan raut wajah datar.


"Bohong kamu! Tak kusangka gadis ingusan sepertimu bahkan tak merasa cukup hanya dengan satu lelaki. Memang betul-betul sesuai, dasar rendahan!" cerca Ratih kembali kepada Dara.


"Aku bukan orang semacam itu, Tante. Memang benar aku hanya anak pungut, tetapi yang Tante tuduhkan padaku semuanya tidak benar," pekik Dara dengan bibir bergetar menahan tangis dan rasa sesak di dadanya.


"Masih ingatkah aku meminta izin hari itu untuk pergi bersama sahabatku? hanya saja pak Rifki tiba-tiba ingin ikut bersama kami, aku sama sekali tak punya hubungan apapun dengannya. Mas paling tahu aku dan sudah pasti anak ini adalah anakmu, kamu percaya padaku kan Mas?" Tangis Dara kembali pecah, hatinya menyembilu dituduh seperti itu oleh Ratih.


Bola mata cantiknya yang tengah menumpahkan sumber airnya menatap lamat-lamat iris Wira seolah memberi sinyal bahwa apa yang diucapkannya tak ada kebohongan di dalamnya, jika Wira juga tidak percaya kepadanya lantas ia harus bagaimana? Dara sebatang kara dan hanya Wira tempatnya bernaung.


Pria tinggi itu masih termenung. Berkaca dari kejadian Almira dulu karena dikalahkan rasa marah membuatnya kehilangan untuk selama-lamanya. Meskipun hatinya terluka, tetapi kepergian Almira masih menyisakan sesal dihatinya. Jika saja saat itu ia mampu mengontrol emosinya, mungkin kejadian naas tersebut bisa dihindarkan.


Apalagi ketika mengingat Dara tengah berbadan dua saat ini. Seluruh sudut di relung hatinya menghangat, ia tak ingin terjadi hal buruk kepada ibu dan si jabang bayi jika Dara terlalu tertekan dan stress, untuk itu Wira memilih lebih mempercayai ucapan Dara daripada ibunya.


"Aku percaya, aku percaya padamu sayang." Sorot matanya yang sempat datar dan dingin, seketika berubah lembut saat pandangannya kembali fokus kepada Dara, membuat Dara tersenyum lega dalam sedu sedannya.


"Wira! Dimana akal sehatmu? bisa-bisanya kamu mempercayai kata-kata dia begitu saja. Atau jangan-jangan kamu sudah di guna-guna olehnya? kamu pasti melakukan itu kepada putraku kan? heh cepat mengaku anak pungut!" Ratih tak habis pikir, setahunya putranya itu adalah orang yang sangat pencemburu, tetapi bagaimana bisa Wira lebih percaya kepada Dara dibanding dirinya.


"Ibu, bisakah kita berhenti dulu untuk sekarang? aku lelah. Jadi pulanglah dulu Bu, besok aku akan datang ke rumah besar untuk memperjelas tentang hal ini," usirnya halus.


Saat ini Wira tak ingin memperpanjang perseteruannya karena melihat kondisi Dara yang masih terguncang.


"Di mana sopan santunmu Wira Aryasatya!" bentak Ratih kepada Wira.


"Aku mohon dengan sangat Bu silahkan pulang, dan lain kali jangan pernah membawa orang asing seenaknya memasuki kediamanku." Tunjuknya kepada Michelia.


"Aku akan ke kamarku, Dara butuh istirahat, maaf."


Setelah selesai mengucapkan kata-katanya Wira menghela Dara untuk memasuki kamar utama tanpa mempedulikan teriakan Ratih yang menggema dan melengking di belakangnya.