You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 64



Dihatinya terus bertanya-tanya, apakah cinta yang dicurahkannya selama ini masih kurang sehingga tak mampu menggeser posisi Giovani sepenuhnya dan hanya mendapat separuhnya saja. Apakah dirinya serakah jika menginginkan rasa yang utuh dan tak terbagi dengan orang lain.


Hampir dua jam Wira menyendiri tenggelam dalam kubangan hati yang retak, sebutir bening mengalir dari sudut matanya, cerminan luka yang terasa menyembilu luar biasa. Bahkan di akhir hayatnya, orang yang menolong dan berkorban untuk Almira adalah Giovani, bukan dirinya. Seolah semesta tengah mengejeknya, bahwa Almira dan Giovani memang jodoh yang sesungguhnya, sehidup semati, bukan dengannya.


Tetapi dengan semua kenyataan yang kini telah diketahuinya, apakah Almira sudah tak mempunyai tempat lagi dihatinya sebagai wanita yang pernah paling dicintainya? Tentu saja masih, hanya saja kini sekeping hati itu tak utuh lagi, karena separuhnya telah dibawa pergi oleh Almira berbalut cinta yang terluka dan menyisakan separuhnya lagi dengan sayatan dan perban dimana-mana.


Jarum jam menunjukkan pukul dua pagi. Wira beranjak dari ruangan balet, membiarkan benda-benda yang tadi berserakan di lantai lalu menguncinya kembali. Wira membuka pintu kamar perlahan dan masuk ke dalam dengan langkah gontai.


Di ranjang besar itu tampak Dara yang sudah tertidur pulas dengan damainya, Wira menghampiri dan duduk di tepian ranjang sambil menatap lamat-lamat gadis yang sudah terlelap itu. Perasaannya yang tadi gundah gulana perlahan membaik saat dirinya menatap wajah cantik yang menyejukkan hati, seolah keseluruhan diri Dara ibarat obat yang dibuat khusus untuknya.


Namun, sesaat kemudian raut wajahnya kembali sendu. Ia meragu, rasa yang tiba-tiba hadir untuk Dara apakah ini cinta? Jika benar, bukankah ini terlalu cepat? Ataukah ini hanya rasa nyaman karena dia mendapatkan ketenangan saat bersama dengan gadis itu, dan juga apakah ia masih mampu mencintai? Sementara hatinya sudah tak utuh lagi, serta luka akibat cinta yang terbagi itu menyisakan trauma. Dia takut, jika kembali jatuh cinta, dirinya akan terluka lagi.


Wira memutuskan tidur di ruang kerjanya untuk menjernihkan kembali pikirannya, ruang kerja itu tersambung dari kamar utama yang ditempatinya. Dia duduk dan menyandarkan dirinya di kursi kerjanya dan mencoba memejamkan mata, dan berharap saat terbangun esok hari semua ini hanyalah mimpi.


*****


Sudah hampir dua bulan, setiap pagi Dara kembali sarapan sendiri di meja makan, sejak hari itu Wira berangkat kerja ketika fajar belum menyingsing dan pulang ke rumah saat menjelang tengah malam, sehingga mereka sangat jarang bertemu muka, bahkan beberapa hari terakhir dia sama sekali tidak pulang ke rumah.


"Itu, apa Pak?" Dara melihat seorang pelayan yang menyerahkan paper bag kepada pak Jono.


"Ini pakaian ganti untuk tuan, tadi tuan menghubungi saya dan meminta untuk membawakannya ke rumah sakit, Nyonya," sahut pak Jono.


Dara termenung sejenak, kemudian meminta pak Jono menyerahkan paper bag itu kepadanya. "Biar aku saja yang mengantar, sebelum berangkat ke acara diskusi, aku akan mampir ke rumah sakit."


"Baik Nyonya." Pak Jono menyerahkan paper bag berisi pakaian itu kepada Dara dan dia melanjutkan kembali pekerjaannya.


*****


Siang ini Wira kembali datang ke ruangan bank darah, di mana ruangan itu adalah tempat menyimpan darah dari para pendonor untuk pasien-pasien yang membutuhkan transfusi. Wira masuk ke salah satu ruangan khusus yang ada di sana dan meminta dibawakan beberapa sampel darah dengan alasan untuk dipelajari pada perawat yang berjaga, si perawat membawanya ke ruangan pribadi Wira dan menaruhnya di sana. Setiap hari itulah yang dilakukannya, mencoba untuk melawan rasa takutnya saat melihat benda cair berwarna merah tersebut.


Wira menarik napasnya dan mengembuskannya berulang kali, setelah dirasa tenang dia membuka kotak yang berisi beberapa ampul sampel darah di tabung kaca berukuran kecil. Saat melihat cairan berwarna merah tersebut, tangannya kembali gemetar dengan kepala yang berdenyut, diikuti keringat dingin yang membanjiri. Seperti sebelumnya, ketika melihat darah, maka bayangan Almira yang bersimbah darah di pangkuannya kembali menguasai isi kepalanya.


Di tengah-tengah situasi yang menghantuinya, tiba-tiba pintu ruangannya terbuka menampakkan Dara di ambang pintu. Saat melihat gadis muda itu tersenyum kepadanya, semua hal yang tadi mengganggunya seketika hilang begitu saja, berganti dengan rasa tenang dan tentram yang melingkupinya karena kehadiran Dara di hadapannya