You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Bab 6



Pada saat seperti ini, aku sempat berpikir ingin mati. Aku tak pernah menyangka diriku akan dilecehkan pria jorok di ruangan yang tak pernah kudatangi dan di desa yang benar-benar asing bagiku. Jeritan dan tangisan tidak ada gunanya sama sekali. Dalam kegelapan, tangan pria yang jorok dan kasar mencakarku dari pergelangan kaki sampai ke pangkal kakiku. Aku bahkan berpikir ingin bunuh diri dengan menggigit lidah atau membenturkan kepalaku ke dinding belakang.


Untung saja, pada detik berikutnya, seseorang menarikku keluar dari jurang maut.


Lampu di ruangan tiba-tiba menyala. Lampu berkedip sejenak di langit-langit sebelum menerangi seluruh ruangan. Dengan mata yang memerah dan membengkak, aku memelototi pria di depanku dengan ketakutan. Dia juga menatapku dengan kaget. Wajahnya yang gelap dan mesum membuat aku sepenuhnya lepas kendali. Aku menjerit dan meringkuk, tidak lupa menarik selimut untuk menutupi bagian pakaianku yang sudah compang-camping.


Pria itu melompat turun dari tempat tidur dan menunjuk ke arahku dengan tatapan kesal, "Kamu, kamu... siapa kamu!"


Pada saat ini, aku telah kehilangan akal sehat. Aku menangis dan berteriak seperti orang gila, sama sekali tidak menyadari Jerry dan Yanti berdiri di pintu.


Selalu ada banyak kebetulan di dunia ini. Beberapa hal yang seharusnya tidak terjadi malah terjadi, beberapa hal yang seharusnya tidak terlihat malah disaksikan dengan mata kepala sendiri.


Jerry tercengang. Otot-otot anggota tubuhnya merespons lebih cepat daripada otaknya. Dia bergegas menuju pria yang melecehkanku dan langsung berkelahi dengannya.


Yanti menepuk kakinya sendiri sambil berteriak keras, "Kekonyolan apa ini! Apa-apaan ini!" Dia segera datang ke sisiku, membungkus tubuhku dengan selimut, lalu melingkarkan lengannya yang berisi di bahuku, dan menarikku ke sisi tempat tidur, "Jangan nangis lagi, ikut aku!"


Setelah berganti pakaian, aku masih tenggelam dalam ketakutan akan mimpi buruk yang baru saja aku alami. Aku berkeringat dingin dan bergemetar tak terkendali, hanya terus berjongkok di sudut dapur. Di halaman luar pintu, Yanti mengambil tongkat kayu dan memukuli pria itu sekali demi sekali hingga pria itu kabur dari rumah.


Yanti menyeret Jerry yang kesals ke dalam rumah. Kepala Jerry tertunduk, seluruh tubuhnya seolah terpaku di depanku. Sudut matanya terlihat memar, rambut berantakan, jas mahalnya robek, celana serta sepatunya juga penuh dengan lumpur.


Aku rasa dia kembali dengan berjalan kaki. Bahkan tersesat pun dia masih berusaha jalan ke sini untuk menemani aku. Tapi nasib malah selalu mempermainkan orang, bisa-bisanya aku dihadapi hal seperti ini.


Yanti berdeham canggung, "Dia bujangan tua di desa kami, cukup kaya. Dulu dia sudah pernah ribut mau menikahi Vivi. Kurasa dia tidak tahan jadi menyelinap masuk dari jendela. Siapa tahu malah ketemu kamu..." Yanti mendorong punggung Jerry, "Kamu hibur dia dulu."


Begitu Yanti pergi, Jerry berjongkok di sudut dinding. Kepalanya masih tertunduk, terlihat seperti sedang menahan atau memendam emosi.


Aku tahu apa yang membuatnya kesal. Dia kesal karena dia menyaksikan aku dilecehkan oleh pria asing dengan mata kepalanya sendiri. Dia pernah bilang, baginya...aku seperti teratai yang belum mekar. Aku selalu menjaga keperawananku untuk diberikan kepadanya pada malam pernikahan kami, tapi sekarang...


Meskipun aku dan pria barusan tidak benar-benar berhubungan intim, tapi pemandangan barusan telah sepenuhnya menghancurkan bunga teratai di hati Jerry.


Ini bukan salahku, juga bukan salah Jerry. Tapi tak dapat disangkal bahwa hal ini telah membentuk sebuah hambatan di hatinya.


Aku mengulurkan tangan dan menyentuh bahunya. Dia mengangkat kepala. Kerumitan tatapannya membuatku kesulitan menebak isi hatinya.


"Bisakah kamu peluk aku... " kataku padanya dengan rendah diri. Aku membutuhkan pelukannya. Selama dia memelukku, aku tidak akan merasa begitu sedih.


Pelukan Jerry terasa kaku dan dingin. Diriku yang sensitif dapat menyadari bahwa jarak asing yang tak tertuturkan perlahan terbentuk dan tumbuh di antara kami.


Aku tidak tidur semalaman. Keesokan harinya, Ayah mengutus sopir untuk menjemput kami pulang. Ketika aku dan Jerry hendak masuk ke mobil, Yanti tiba-tiba datang dengan membawa sebungkus barang bawaan, kemudian langsung membuka pintu depan dan berteriak, "Aku ikut kalian pergi! Vivi tidak kasih penjelasan apa pun, jadi aku akan nginap di rumah kalian sampai kalian memberiku jawaban yang memuaskan!"


Tidak ada yang bisa menghentikan Yanti, dan Yanti juga sama sekali tidak memberi kami kesempatan untuk menghentikannya. Alhasil, mobil pun melaju kembali ke kota.


Kata ‘anak’ yang dimaksud Yanti adalah aku, tetapi karena masalah tertukar, nasib aku dan Vivi pun sepenuhnya tertukar. Aku tahu semua ini tidak adil bagi Vivi, dan aku terlalu beruntung karena bisa mendapatkan apa yang sebenarnya milik Vivi. Terkadang ketika aku menghadapi wajah Vivi, aku merasa seolah-olah akulah penyebab kejadian ini. Tapi aku tidak pernah merebut atau mencuri apa pun, nasib yang mengatur semua kejadian tertukar ini.


Aku memandang ke luar jendela, bersumpah puluhan ribu kali di dalam hati bahwa aku tidak akan pernah menginjakkan kaki di tanah ini lagi sepanjang hidupku. Jerry menggandeng tanganku erat-erat. Aku tidak berani menoleh melihatnya, karena aku takut aku akan menemukan jejak keraguan di matanya.


"Itu... Kalau kamu pergi ke kota dengan kami, siapa yang jaga Paman Herman?" tiba-tiba Jerry berbicara kepada Yanti.


Yanti mematahkan puntung rokok dengan kuku panjangnya yang penuh kotoran hitam, kemudian memasukkan sisa rokok ke dalam saku, "Aku sudah taruh roti kukus dan air di ranjang. Tante Wulan di sebelah akan menjengkuknya sekali-kali." Yanti tersenyum, "Dia tak akan mati, dia masih punya dua tangan. Tempat buang air juga sudah kuletakkan di sisi ranjang. Tak akan mati dia."


"Baguslah kalau begitu..." Jerry mengangguk, nada suaranya penuh kekhawatiran.


Setibanya di kota, Ayah sangat terkejut dengan kemunculan Yanti, tapi Ayah tetap bersikap sopan, mempersilakan Yanti masuk ke dalam rumah.


Yanti berdiri di depan pintu rumah, menoleh untuk memandangi bunga dan tanaman di halaman yang telah dirawat denan baik. Ini semua hasil kerja keras Ibu. Ibuku, Jenni Winata, telah menjadi ibu rumah tangga sepanjang hidupnya. Dia selalu menjaga rumah tetap rapi dan bersih, baik bagian dalam rumah maupun halaman.


Yanti memuji, "Orang kaya di kota memang berbeda! Ini vila yang sering disebut di TV, kan! Wow! Rumah kalian juga bertingkat. Keren sekali. Pantas Vivi tidak mau pulang lagi. Rumah kami kotor! Sangat kotor! Dulu saat kami pelihara babi, keadaannya lebih kotor lagi!"


Yanti tertawa terbahak-bahak, sementara Ayah mengernyit. Dia agaknya sedang merasa kasihan pada Vivi. Putrinya yang putih dan cantik seharusnya hidup bahagia dan riang, tetapi malah tinggal bersama babi yang makan sisa-sisa makanan.


Kami memasuki rumah. Saat Yanti melepas sepatunya, bau yang tak terdeskripsikan sontak menyebar di depan pintu.


Ada dua lubang di kaus kaki Yanti. Jempol kaki dengan kuku yang terlalu panjang mencuat keluar. Ada pula dua bercak warna berbeda di bagian tumit. Terlihat jelas bahwa kaus kakinya sudah terlalu lama. Karena sering dicuci, warnanya luntur dan kainnya bahkan sudah mulai berbulu.


Aku seharusnya tidak bersimpati padanya, tetapi kini aku harus mengakui bahwa sesuatu yang berada jauh di dalam darah secara tidak sadar membuatku merasa sedikit emosional.


Ayah mempersilakan Yanti untuk beristirahat di sofa ruang tamu. Jerry mengikutiku kembali ke kamar. Pintuku terlihat setengah tertutup, sepertinya ada orang yang masuk ke kamarku.


Benar saja. Lemariku jelas pernah dibuka orang, mungkin Ibu, mungkin juga Vivi. Beberapa pakaian santai dan gaun sutraku juga sudah tidak terlihat.


Aku mengambil baju baru dari lemari. Jerry berkata di belakangku, "Aku akan cari kesempatan untuk memberi tahu ayahmu apa yang terjadi tadi malam, supaya dia tidak suruh kamu urus masalah ini lagi ke depannya."


Aku buru-buru menggelengkan kepala, "Tidak usah, sekarang urusan Vivi sudah cukup membuatnya pusing, urusanku biarkan berlalu saja. Bukankah aku baik-baik saja sekarang."


Jerry ragu-ragu, "Tapi..." Dia tidak melanjutkan, mungkin dia tidak mau mengungkit masalah kemarin lagi.


“Aku keluar dulu, ganti bajumu!” Dia mundur dan berjalan keluar dari kamar. Saat pintu ditutup, hidungku seketika terasa perih.


Hal yang terjadi tadi malam juga meninggalkan trauma mendalam padaku.