You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 236



Hari demi hari bergulir berganti. Sore ini Dara baru saja pulang selepas melakukan pemeriksaan rutin kehamilannya. Tak terasa kini kandungannya tepat menginjak usia delapan bulan, Raisa menetapkan hari perkiraan kelahiran buah hatinya sekitar lima minggu lagi. Kondisi bayi di dalam rahimnya bergerak aktif dan sehat, hanya saja berat badannya kembali naik di atas rata-rata disertai tekanan darah yang kembali tidak stabil dalam kurun waktu tiga minggu terakhir.


Dara mulai kepayahan, perutnya semakin membuncit dan membesar seiring usia kandungannya yang bertambah. Sekarang ia menjadi lebih mudah lelah dan kakinya juga sedikit bengkak, serta posisi tidurnya yang makin hari semakin serba salah juga tak nyaman disertai rasa gerah berlebihan.


Anjuran Raisa dalam upaya menjaga kondisinya berusaha dipatuhinya dengan baik. Mulai dari asupan makanan, mengikuti senam hamil, sebisa mungkin menghindari stress meskipun tak sepenuhnya, juga menjaga diri agar jangan sampai kelelahan semuanya dilakoni dengan sungguh-sungguh.


Dara menaruh tas cangklongnya di meja, kemudian mendaratkan bokongnya di sofa ruang keluarga. Menyandarkan punggungnya di sandaran kursi empuk itu di susul Wira yang duduk di sebelahnya. Dara yang kepayahan dengan perut besarnya berusaha mencari posisi duduk ternyaman, sebagai suami siaga Wira membantu agar istrinya mendapatkan posisi duduk senyaman mungkin di sofa tersebut.


"Ahh... pegalnya," keluh Dara sembari mengusap-usap bokongnya yang kini sering terasa tak nyaman, kemudian tangannya terulur berpindah mengusap-usap kakinya yang sedikit membengkak.


"Tunggu sebentar," ucap Wira yang kemudian berdiri dan berlalu ke bagian belakang rumah dengan cepat.


Tak berselang lama, suami tampannya itu kembali dengan membawa sebaskom air hangat yang menguarkan bau harum aromaterapi. Dia bersimpuh bertumpu pada satu lututnya di hadapan Dara.


"Rendam dulu kakinya supaya terasa lebih nyaman dan rileks. Ini air hangat yang sudah kucampur dengan minyak esensial." Dengan lembut dan penuh perhatian Wira meraih kaki si pujaan hati agar masuk ke dalam wadah tersebut namun tangan halus Dara menahannya


"Jangan Mas, biar aku saja. Aku jadi merasa bersikap tak sopan membiarkan suamiku menyentuh kakiku." Dara berusaha bangkit dengan susah payah agar bisa duduk tegak.


"Sayang, kumohon. Biarkan aku melakukannya," pintanya.


Wira mengulas senyumnya dan menatap istrinya dengan bangga, mendekatkan wajahnya mengecup kening Dara dan mengusap kepalanya penuh sayang. "Aku melakukan ini dengan iklhas, baktimu padaku sudah sangat lebih dari cukup. Anggap saja ini salah satu bentuk kasih sayangku untukmu yang telah rela mengandung anakku. Jadi, biarkan aku melakukannya, oke."


Ragu-ragu akhirnya Dara mengangguk dan membiarkan Wira meraih kedua kakinya. Begitu telapak kakinya menyentuh air hangat tersebut, rasa menyenangkan langsung menjalar hingga ke seluruh raganya serta wangi aromaterapi yang semerbak lembut membantu tubuh dan pikirannya menjadi lebih rileks.


Wira juga melakukan pijatan ringan dengan sangat lembut dan hati-hati hingga sebatas betis membuat Dara mendesah keenakan dengan mata terpejam. "Mhhh... enak banget, Mas."


"Kamu suka?"


Dara membuka mata, menganggukkan kepalanya sembari tersenyum senang. "Iya, suka banget."


Di tengah-tengah kegiatan mereka, ponsel di saku celana Wira bergetar serta berdering nyaring. Wira menghentikan pijatannya dan segera merogoh isi sakunya melihat siapa yang memanggil, tetapi secara refleks dia berdehem ketika melihat nomor yang tertera di layar.


"Ehm... sebentar ya sayang. Lanjutkan merendam kakinya, aku terima telepon dulu. Ini dari rumah sakit," ucapnya.


"Oke Mas."