
Tak terasa kini Dara sudah berada di depan ruangannya Wira, tanpa dikomando kakinya ternyata melangkah secara spontan dari halaman belakang poli radiologi tadi menuju tempatnya kini berdiri. Rasa marah, sedih, dan juga iba bersatu padu menjadi satu. Entah rasa mana yang akan diutarakannya terlebih dahulu saat bertemu muka dengan Wira.
Dara hendak mengetuk, tetapi ternyata pintunya tidak tertutup sempurna. Indera pendengarannya dapat menangkap dengan jelas suara Wira dan juga orang lain yang sedang bercakap-cakap di dalam sana membuatnya urung untuk masuk dan malah terpaku di depan pintu.
"Kusarankan sebaiknya segeralah berkonsultasi dengan psikiater sebagai salah satu usaha agar bisa keluar dari bayang-bayang kecelakaan itu. Sudah beberapa bulan terakhir ini setiap kali jadwalmu mengoperasi selalu digantikan oleh dokter lain. Sejenius apapun, saat seorang dokter tak kuasa melihat darah maka tamatlah sudah karirnya. Kamu juga pasti sudah mengetahui tentang Dewan direksi rumah sakit yang mulai mempertanyakan kredibilitasmu sebagai seorang dokter."
"Aku tahu, akan kupikirkan." Terdengar suara Wira yang menyahuti temannya.
"Kuharap kamu mengikuti saranku secepatnya, jangan ditunda lagi. Mengenai rasa traumamu terhadap darah hanya aku dan Fatih yang tahu. Jadi jangan khawatir dan segeralah mengambil keputusan. Hubungi aku, akan kukenalkan dengan psikiater terbaik yang bisa menjamin penuh privasi pasiennya."
"Terima kasih, akan kuhubungi nanti," jawab Wira.
"Baiklah, aku pergi."
Terdengar derap sepatu yang mendekati pintu, Dara segera menjauh dari sana dengan langkah cepat dan setelah di rasa jaraknya cukup jauh ia menghadap ke tembok sambil berpura-pura menerima panggilan telepon agar tidak tampak mencurigakan. Ketika si dokter temannya Wira itu tampak semakin jauh, barulah Dara menghentikan kepura-puraannya.
Setelah mendengar percakapan Wira dengan temannya tadi hatinya merasa sakit, ternyata selama ini Wira selalu menanggung bebannya sendirian tanpa pernah berbagi. Lantas, haruskah ia tetap merasa marah sedangkan pada kenyataannya kondisi pria itu sangat menyedihkan.
Dara berusaha menetralkan semua luapan emosi yang berkecamuk di dadanya, menahan diri agar air matanya tak mencuri kesempatan untuk merebak di netra indahnya. Ia kembali mendekati pintu ruangan Wira, mengkondisikan air mukanya agar tampak biasa seolah tak mendengar apapun, lalu tangannya bergerak mengetuk pintu tersebut.
Tok tok tok....
"Masuk," terdengar suara Wira dari dalam sana.
Dara menghela napasnya teratur kemudian memutar gagang pintu tersebut, Wira menoleh ke arah pintu dan saat melihat Dara yang datang seberkas senyum terbit di wajah tampannya,ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Dara.
"Apakah ini kejutan?" tanyanya.
Saat melihat wajah Wira semua rasa marah yang sempat bercokol di hati Dara terpukul mundur, apalagi ketika mengetahui bahwa suaminya itu ternyata tidak baik-baik saja membuatnya merasa iba, hingga akhirnya hanya ada rasa sayang luar biasa yang makin menyeruak di relung hatinya.
"Aku datang karena merindukan seseorang." Dara berusaha tersenyum walaupun dadanya sesak menahan tangis.
Wira melirik jam tangannya dan setahunya ini masih jam kuliah Dara. Ia menyipitkan matanya dan sedikit membungkukkan badannya agar sejajar dengan Dara.
"Iya, sesekali aku ingin menjadi anak nakal yang membolos untuk menemui kekasihnya," sahutnya dengan senyuman merekah walaupun matanya mulai berkaca-kaca, kemudian memeluk tubuh kokoh itu dengan erat.
"Aku merindukanmu Mas, sangat," ucapnya sedikit serak dengan mata terpejam.
Wira tersenyum senang dan balas mendekap tubuh mungil Dara ke dalam lingkupannya. "Kamu harus dihukum karena membolos."
Dara terkekeh, kemudian mengurai pelukannya dan tangannya bergerak membelai rahang tegas itu penuh kasih sayang, ia lalu berjinjit dan mengecup bibir Wira. "Aku menyayangimu suamiku."
"Kenapa tiba-tiba begini? apa kamu sedang merencanakan sesuatu?" Wira memicingkan matanya sambil merajuk.
"Mas tidak suka ya kalau aku merindukan suamiku sendiri?" Dara mengerucutkan bibirnya.
"Ahahaha... tentu saja bukan begitu, aku sangat menyukainya. Hanya saja tempat ini tidak tepat, karena bersamamu di sini malah membuatku ingin melahapmu sekarang juga."
"Dasar mesum!" Dara memukul pelan dada bidang Wira.
"Tapi kamu juga menyukainya bukan?" godanya.
"Ya, aku menyukainya," sahutnya sambil kembali mengecup bibir Wira dengan sengaja.
"Jangan memprovokasiku, jika bukan di tempat kerja kamu tidak akan selamat," geramnya karena gemas kepada Dara.
"Coba saja kalau berani!" tantangnya.
"Sayang, jangan terus menggodaku. Sebentar lagi jam kerja usai, dan lihat saja sesampainya di rumah aku akan menyantapmu bulat-bulat."
"Aku menantikan. Selesaikan pekerjaan Mas, aku akan menunggu di sini."
"Tunggu sebentar lagi anak nakal!" ucapnya gemas karena Dara terus menggodanya tanpa henti.