You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 149



Fatih duduk dan menyandarkan punggungnya di sofa melengkung yang terdapat di dalam rumah kontrakannya. Aroma desinfektan khas rumah sakit langsung menguar begitu memasuki ruangan tersebut.


Freya menyusul duduk di sebelah Fatih dan menghubungi seseorang untuk datang, sepertinya gadis tomboi itu menelepon rekan-rekan komunitas trailnya.


"Gimana sekarang, udah enakan?" tanya Freya yang kemudian menaruh tas cangklongnya di atas meja lalu duduk lebih mendekat kepada Fatih.


"Lu-lumayan," sahut Fatih dengan mata terpejam disertai buliran keringat yang berembun di pelipisnya.


Pemuda itu sepertinya belum sepenuhnya sadar dari efek keterkejutannya akibat dibawa melaju bak Alex Marquez yang memacu kuda besinya di arena sirkuit Red Bull Ring Grand Prix Styria.


"Mobilmu biar temanku yang membawanya kemari. Melihat kondisimu sepertinya tak mungkin bisa berkendara. Hadehhh... bisa-bisanya mabuk perjalanan cuma karena naek motor ngebut. Orang-orang pada umumnya mabuk perjalanan itu kalau naek bus, naek pesawat, atau kapal laut!" cerocos Freya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku belum pernah berkendara secepat itu sebelumnya. Ini adalah yang pertama kalinya bagiku. Aku...." ucapan Fatih terjeda kemudian ia meletakkan telapak tangannya untuk menutupi mulutnya seperti menahan sesuatu.


"Kamu kenapa lagi?" Freya memicingkan matanya.


"Aku... aku...." Belum juga selesai berbicara Fatih bangun dengan cepat dan berlari ke kamar mandi. Ia bahkan bersimpuh di sisi closet nyaris tak punya kekuatan untuk berdiri.


Freya ikut menyusul ke kamar mandi dan lagi-lagi memijat tengkuk Fatih yang kembali muntah-muntah lebih mirip wanita ngidam.


"Ya ampun. Tahu begini aku gak akan ngebut," cicit Freya yang ikut meringis melihat keadaan Fatih.


Setelah selesai Freya memapah Fatih yang pucat pasi untuk berbaring di atas ranjang kemudian ia duduk ditepiannya. Rumah kontrakan itu memang tidak besar, tetapi terbilang luas untuk ditinggali seorang diri.


Freya mengedarkan pandangannya. Rumah itu terdiri dari satu ruangan utama yang cukup besar dengan perabotan berupa satu set sofa melengkung, satu tempat tidur, satu set home teather serta meja multifungsi. Setelah diperhatikan meja tersebut sepertinya bisa dipakai untuk makan dan juga belajar.


Tak ketinggalan di sana juga dilengkapi satu kamar mandi lengkap dan juga dapur bersih sederhana. Semua barang dan furniturnya tertata rapi dan juga ruangan itu sangatlah bersih sesuai dengan Fatih yang memang menggeluti bidang kesehatan.


"Ibu... ibu...." Terdengar Fatih yang memanggil-manggil ibunya seakan mengigau efek dari rasa sakit yang menderanya dan suara rintihan Fatih membuyarkan Freya yang tengah mengamati sekitar.


Pemuda berwajah manis berperawakan tinggi tegap itu tengah merengek seperti bayi membuat Freya terkikik geli.


"Hei... sadarlah." Freya menepuk-nepuk pipi Fatih dan itu berhasil menyadarkannya


"Di sini nggak ada ibumu. Dih, udah gede juga kayak orok! Di mana kotak obat dan kayu putih. Nggak mungkin kamu tak punya benda-benda semacam itu mengingat dirimu adalah seorang calon dokter," cecar Freya sambil melipat tangannya.


"Ada di laci lemari bawah televisi," sahutnya lirih.


Freya segera beranjak dan mengambil benda yang di maksud. Ia kemudian mencari gelas ke dapur mengisinya dengan air hangat. Ia berloncatan ke sana kemari tanpa sungkan seperti di rumahnya sendiri karena bagi Freya berinteraksi dengan laki-laki bukanlah hal yang aneh mengingat teman-teman komunitas motornya hampir sembilan puluh persen adalah laki-laki.


"Ini, diminum dulu obatnya." Freya menyodorkan segelas air hangat dan juga sebutir obat. Fatih duduk dan bersandar di kepala ranjang kemudian menerima gelas serta obatnya.


"Kamu yakin ini obat yang tepat," tanya Fatih ragu-ragu.


"Tentu saja itu obatnya. Obat untuk meredakan mual muntah sesuai keterangan yang tertera di kemasannya. Aku juga bisa baca tahu! Memangnya aku ini buta hurup!" serunya galak.


"Ya maaf, cuma mastiin aja. Makasih ya." Fatih segera meminum obatnya dan menghabiskan air minumnya hingga tandas.


"Sekarang cepat berbaring lagi. Aku akan mengoleskan kayu putih di perut dan punggungmu," ucap Freya dengan santainya.


"Ap-apa? kamu mau apa?" Fatih tergagap, ini adalah pertama kalinya ada seorang gadis yang akan melakukan itu untuknya membuatnya luar biasa salah tingkah, terlebih lagi gadis ini adalah Freya.


"Aku mau bantu ngobatin kamu biar cepet sembuh. Ayo cepetan, jangan membantah!" perintahnya.