You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 188



Ratih dan kepala pelayan sudah berada di halaman belakang, terlihat di sana wanita itu berlutut di hadapan Ratih sambil menangis.


"Nyonya, ampunilah saya karena telah lancang bertindak tanpa bertanya terlebih dahulu. Saya berbuat begitu semata-mata karena perintah yang pernah Anda tugaskan beberapa waktu yang lalu. Saya mohon ampuni saya, Nyonya. Pekerjaan di sini adalah segalanya bagi saya," mohon si kepala pelayan yang kini sedang bersimpuh di hadapan Ratih.


Bekerja sebagai pelayan di kediaman Aryasatya adalah adalah keinginan terbesarnya, tidak ada majikan yang seloyal dan sepeduli Tuan Haris yang sangat memperhatikan kesejahteraan para pekerjanya.


Ratih duduk di kursi antik halaman belakang, memijat-mijat pelipisnya dengan mata terpejam dan menghela napasnya dalam-dalam. Apa yang dikatakan kepala pelayan memang benar adanya, perintah jeleknya dulu kini jadi bumerang baginya.


Kejadian tadi pagi tidak sepenuhnya salah si pelayan karena dia juga ikut andil di dalamnya, hanya saja Ratih tetap merasa sangat kecewa, orang kepercayaannya di rumah itu lancang mengambil keputusan sendiri tanpa bertanya terlebih dahulu kepadanya.


"Kenapa kamu tidak bertanya dulu padaku huh? aku memang menjadikanmu sebagai tangan kananku di rumah ini, tapi bukan berarti bisa semena-mena menyalah gunakan kepercayaan yang kuberi tanpa meminta persetujuan dariku sebelum bertindak. Aku sangat-sangat kecewa," ucap Ratih dengan suara rendah, dia berusaha menjinakkan emosinya yang sangat mudah meledak.


"Tolong maafkan kebodohan dan kecerobohan saya Nyonya. bekerja di sini adalah harapan saya sejak lama dan pekerjaan ini sangat saya butuhkan untuk menghidupi keluarga di desa," mohonnya kembali.


Ratih terdiam tak bersuara. Tindakan buruknya dulu satu persatu mulai berimbas padanya secara perlahan, seolah berusaha menyadarkan sepenuhnya bahwa semua keputusan dan pemikirannya yang lalu adalah salah. Akibat dirinya sering menulikan pendengaran dari saran Haris dan lebih mengedepankan ego serta pemikiran sempit kaum sosialitanya.


"Kali ini kuterimu permintaan maafmu, tapi untuk sementara jabatanmu kuturunkan sebagai pelayan biasa. Posisi kepala pelayan mungkin bisa kau dapatkan kembali jika kamu memperhatikan serta memperbaiki sikapmu dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Kedepannya jangan pernah memutuskan apapun di rumah ini tanpa memastikannya dulu padaku. Dalam hal ini aku juga ikut bersalah, kita berdua harus banyak merenung dan berusaha memperbaiki diri," sahut Ratih panjang lebar.


Si wanita yang bersimpuh itu langsung mengangkat wajahnya yang tertunduk, rasa lega tampak kentara dari air mukanya.


"Terima kasih... terima kasih banyak, Nyonya. Saya akan bekerja sebaik mungkin dan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang telah Anda berikan," ucapnya sambil menyeka air matanya yang sejak tadi berderai. Meskipun jabatannya diturunkan ia tak peduli, yang terpenting masih tetap bisa bekerja di sana.


"Baik... baik Nyonya. Saya akan meminta maaf kepada Nona sekarang juga."


Ratih mengangguk. Si wanita itu membungkuk memberi hormat dan segera berlalu dari sana mencari Dara.


Dara tengah berada di taman bunga samping rumah sedang ikut menyiram bunga-bungaan yang terhampar dengan indah, beberapa pelayan juga ada yang memetik bunga untuk dirangkai dan disimpan ke dalam vas yang terpajang di setiap sudut kediaman itu.


Wanita tadi tergopoh-gopoh menghampiri dan langsung berlutut di hadapan Dara, membuat si cantik bersurai coklat itu terkejut melihat reaksinya yang tiba-tiba.


"Nona, ditolong ampuni saya atas kelancangan saya tadi, semua itu semata-mata karena kebodohan saya," pintanya.


"Tolong jangan begini, bangunlah." Dara merasa risih, bagaimanapun juga wanita itu lebih tua darinya.


"Maafkan, maafkan kebodohan saya Nona. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi," mohonnya kembali sambil menangkupkan kedua tangannya.


Dara termenung sejenak. Sejujurnya dia juga merasa tersinggung dengan sikap wanita itu, tetapi melihatnya yang memohon dengan tulus kepadanya kemudian ia berkata. "Karena Anda sudah meminta maaf, tentu saja kumaafkan. Tapi tolong berdirilah, jika Anda berlutut, aku merasa tidak nyaman."


Wanita itu tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih dan Dara tersenyum penuh pemakluman. Tanpa Dara sadari sejak tadi Ratih memperhatikan dari kejauhan, sepertinya dia harus banyak belajar dari gadis muda itu agar mampu mengontrol emosi dan kesabarannya.