
Siang ini, dua sejoli itu kembali ke kediaman mereka. Pak Jono datang ke rumah besar atas perintah Wira untuk membawakan mobilnya karena dia masih kesulitan untuk mengemudi. Wira mengambil cuti kerja selama beberapa hari ke depan untuk memulihkan lukanya, sementara Dara masih dalam masa tenangnya dan akan kembali ke kampus sekitar dua hari lagi.
Pak Jono duduk di kursi kemudi, melajukan kendaraan mewah tuannya dengan hati-hati, sedangkan Wira dan Dara berada di kursi penumpang, mereka duduk berdampingan menempel satu sama lain dengan mesra.
Wira menggunakan remote control untuk mengaktifkan salah satu fitur canggih di mobil mahalnya yaitu penutup sekat antara kursi penumpang dan ruang kemudi. Ia sedang ingin duduk berduaan saja dengan istrinya tanpa merasa terganggu.
"Aku tak menyangka, ternyata istriku semakin hebat saja di atas ranjang," bisiknya sensual menggoda ke telinga Dara dan dengan sengaja meniupkan napas hangatnya di sana.
Embusan napas hangat Wira menggelitiknya, mengirimkan gelenyar menyengat ke seluruh tubuhnya. Ditambah dengan kalimat yang dibisikkan ke telinganya membuat Dara kembali merona.
"Karena aku mengikuti les privat khusus dari seorang guru yang sangat handal dalam bidang itu," jawab Dara membalas godaan Wira padanya sembari menyipitkan matanya.
Wira tergelak pelan kemudian merengkuh Dara ke dalam pelukannya dan mengecup puncak kepalanya, sejak dari bangun tidur senyuman tak henti-hentinya tersungging di wajah tampannya, menyiratkan kelegaan dan juga rasa bahagia yang menyeruak jelas ke permukaan.
Dara menenggelamkan wajah meronanya di dada Wira, ia juga tertawa kecil kemudian menutupi wajahnya sendiri menggunakan telapak tangannya karena merasa malu ketika mengingat kembali bagaimana dirinya yang amatir berusaha memanjakan suaminya tadi malam.
Flashback
Dara bergerak menjiplak seperti yang sering dilakukan Wira kepadanya. Dia bahkan sudah berani membuat tanda kepemilikan di dada suaminya itu, membuat pria di bawahnya mengerang nikmat merasakan senyar yang tercipta.
Deru napasnya memburu diiringi dada naik turun seirama, wanita muda itu memimpin percintaan kali ini meskipun dengan gerakan lembut dan kaku. Di tengah-tengah peleburan, sesekali secara refleks kedua tangan Wira bergerak hendak meremas gemas bongkahan belakang seksi milik istrinya, tetapi Dara segera menghentikan pergerakannya dan mengingatkan bahwa tangan kanannya yang terluka sebaiknya diam saja.
Si cantik berambut coklat itu kembali mendayung dan setelah beberapa saat berlalu sampailah di ambang batasnya ketika gelombang surga dunia yang dikayuhnya sejak tadi menerjang dan membanjiri raga keduanya tanpa ampun.
Tubuhnya langsung luruh terkulai lemas di atas raga kokoh Wira yang berada di bawahnya, tetapi ia tetap memposisikan dirinya agar bagian perutnya yang mulai membuncit tidak terlalu menekan mengingat si jabang bayi sedang bertumbuh di dalam sana.
Tangan kiri Wira mengusap-usap punggung Dara yang lembab karena keringat membanjiri lalu mengecup puncak kepalanya. "I love you, my wife," bisiknya mesra sembari berusaha menetralkan napasnya yang berkejaran.
Dara mengangkat wajahnya yang asalnya terbenam di dada bidang Wira, menangkup kedua sisi wajah tampan itu dan mengecup lembut bibirnya sekilas, "I love you more, my big baby."
Sekujur tubuh Wira yang tadinya tersiksa karena rasa nyeri dari pemberontakan di pusat tubuhnya, langsung terasa begitu lega dan rileks. Akhirnya dia bisa tertidur lelap setelahnya dengan lengan kiri memeluk istri tercinta dalam dekapan hangatnya.