You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 191



Michelia berlari kencang seperti orang kesurupan, dia bahkan menabrak beberapa orang yang tengah berlalu lalang hingga mereka terjatuh dan terus berlari tanpa meminta maaf kepada orang-orang yang tertabrak olehnya.


Akan tetapi, bagaimanapun juga dia itu hanyalah seorang wanita sedangkan postur Wira yang tinggi sudah pasti langkahnya lebih lebar serta mampu menyusulnya meskipun Michelia sudah mengerahkan semua kemampuannya untuk berlari.


Tampak wanita lusuh itu berlarian mengarah ke sebuah gang sempit di ujung jalan buntu. Tepat ketika Michelia hendak berbelok masuk, Wira berhasil menyusulnya dan menjegal langkahnya walaupun tetap berusaha menjaga jarak karena wanita itu masih memegang pisau di tangannya.


"Mau lari kemana lagi hah? kamu tidak akan bisa terus menerus melarikan diri dan mangkir dari kewajibanmu menebus semua kesalahanmu!" seru Wira yang menghalangi akses jalan Michelia dengan dada tersengal naik turun.


Michelia panik dan kebingungan, pikirannya buntu. Bayangan diborgol polisi serta mendekam di penjara terus berkelebatan di benaknya, sampai kapanpun ia tidak mau jika harus menginjakkan kaki di hotel prodeo.


"Aku... aku lebih baik mati daripada harus digiring ke penjara!" pekiknya masih dengan deru napas yang tak beraturan seraya menghunuskan pisau lipat tersebut ke lehernya sendiri.


Pria tinggi itu membulatkan matanya karena ternyata Michelia sudah tidak waras, dia memutar otak mencari cara untuk menghentikan kenekatan si buronan gila di hadapannya. Bagaimanapun juga Wira tidak mau jika wanita ular itu mati begitu saja tanpa menebus kesalahannya terlebih dahulu, dan jika Michelia sampai meregang nyawa ketika dikejar olehnya, sudah pasti permasalahan akan menjadi rumit dan pelik kedepannya.


"Benarkah? aku tidak yakin. Jika kamu ingin mati, lantas kenapa terus menerus berlelah diri untuk kabur," cibir Wira sembari tersenyum miring mengejek.


"Diam kamu Wira! Aku jadi begini juga karenamu," teriaknya. Terselip nada ketakutan dan putus asa di dalamnya.


"Jangan memakaiku sebagai alasan atas keserakahanmu. Kamu menuai apa yang telah kau tanam, jangan mencari kambing hitam untuk melimpahkan perbuatan salah yang kau lakukan!" bentak Wira.


Michelia tampak gusar seperti orang linglung, dia tidak benar-benar ingin mati. Kalimat semacam itu tersembur dari mulutnya hanya untuk menakut-nakuti, berharap Wira goyah serta lengah sehingga dia mempunyai kesempatan untuk kembali lolos dari jeratan hukum.


"Lepaskan aku... lepaskan aku! lebih baik aku mati!"


*****


Pukul delapan malam, tampak sebuah kegiatan kecil tengah berlangsung di ruang makan rumah besar Haris Aryasatya. Kepulan uap air panas yang baru dituang terlihat menguar dari sebuah gelas, kemudian isi gelas itu dicampur air dingin agar menciptakan suhu hangat yang pas.


Dara menuangkan beberapa sendok susu bubuk khusus untuk ibu hamil ke dalam gelas berisi air yang telah diraciknya menjadi suam-suam kuku, mengaduknya perlahan hingga padu memastikan air dan susu berperisa vanilla itu tercampur sempurna menjadi satu.


Setelah dirasa susunya siap diminum, Dara menarik sendok yang digunakannya untuk mengaduk, meletakkannya di meja lalu mengangkat gelasnya. Saat gelas hampir menyentuh bibirnya, matanya teralih ke tempat di mana jam dinding bertengger manis.


"Kenapa sudah jam segini Mas Wira masih belum sampai?" gumamnya.


Rasa cemas mulai merayapi dirinya, pukul tiga sore tadi Wira mengirim pesan singkat padanya bahwa dia sudah dalam perjalanan pulang, perkiraannya sampai di rumah sekitar jam enam atau tujuh malam.


Dara mengambil ponsel yang ditaruhnya di meja makan menggunakan tangan kanannya, sementara tangan kirinya masih memegang gelas. Ia membuka kontak dengan nama Big Baby yang tidak lain adalah Wira lalu menyambungkan panggilan dan menempelkannya ditelinga menunggu sang suami mengangkat teleponnya.


"Halo...."