You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 68



Keduanya sama-sama dilanda kecemburuan, yang satu tak mau mengakui, sedangkan yang satunya lagi masih polos belum terlalu memahami, bahwa rasa tidak menyenangkan yang sangat mengganggu di hatinya itu bernama cemburu.


Sebelum perlombaan dimulai, panitia memberikan waktu lima menit untuk berlatih sebentar. Wira melirik ke arah Dara begitupun sebaliknya hingga mata mereka bersirobok. Air muka Dara sangat kentara bahwa dirinya sedang cemburu saat ini, Wira yang berpengalaman dapat menangkap ekspresi Dara yang terlihat tidak suka melihat dirinya berdekatan dengan Anggi. Pria tampan itu menyeringai, kemungkinan Dara juga merasakan hal yang sama seperti dirinya.


Seolah sengaja, Wira hampir merapatkan tubuhnya kepada Anggi karena ingin melihat reaksi istri kecilnya. Anggi yang merasa mendapatkan kesempatan langka, justru menyambut apa yang dilakukan Wira dan malah sedikit menyandarkan punggungnya kepada pria dibelakangnya itu.


Dara mengigit bibirnya yang hampir cemberut dan melempar tatapan mautnya karena melihat pemandangan yang semakin membuatnya merasa terbakar, Rifki yang berada di belakang Dara tidak menyadari, bahwa raut wajah gadis itu sudah berubah seperti induk ayam yang siap mencakar. Wira tersenyum penuh kemenangan dalam hatinya, sepertinya apa yang dilakukannya berhasil membuat Dara semakin kesal.


Dara merasa tidak rela, melihat Wira berdekatan dengan wanita lain, seolah ada kekuatan tak kasat mata yang meremas jantungnya hingga terasa ngilu dan mencekik dirinya. Otaknya terus memberi komando supaya mencari cara untuk menghentikan apa yang sedang terjadi di depan matanya, agar dirinya terbebas dari rasa mencekik yang makin menyiksanya.


Akhirnya, Dara berpura-pura terjatuh, menghempaskan dirinya ke tanah memekik dan mengaduh untuk menarik perhatian Wira. Rifki yang ada di belakangnya terkejut melihat Dara yang tiba-tiba terjatuh, begitu pula dengan Wira. Dia langsung melepaskan tangannya dari pinggang Anggi dan menghambur mendekati Dara.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Rifki khawatir.


"Kenapa kamu ceroboh sekali! Bisa-bisanya terjatuh di tanah lapang yang datar seperti ini," cecar Wira dengan wajah cemasnya.


Wajah Dara memerah menahan tangis, sebenarnya dia ingin menangis bukan karena tubuhnya yang sakit, melainkan karena segumpal daging yang bersemayam di dalam tubuhnya terasa nyeri. Wira semakin terkejut melihat Dara yang sudah hampir menangis dengan bibir mencebik.


"Mana yang sakit?" tanyanya. Matanya memindai keseluruhan tubuh Dara.


"Ini, kakiku," sahut Dara sambil mengusap-usap pergelangan kakinya, padahal kakinya baik-baik saja.


"Biar saya yang membawa Dara ke tenda panitia, Anda silahkan lanjutkan kembali perlombaannya," ujar Rifki. Dia tidak tahu situasi yang sedang terjadi di antara dua orang itu.


"Tapi, saya sebagai dosen pembimbingnya bertanggung jawab penuh terhadap mahasiswa saya," jelas Rifki.


"Saya adalah walinya, terlebih lagi saya juga seorang dokter, jadi lebih paham bagaimana untuk menangani ini, permisi." Wira meraup Dara ke dalam gendongannya, apapun yang terjadi dia tidak akan membiarkan Dara berdekatan dengan Rifki.


Rifki hanya menghela napasnya berat, sebenarnya dia agak keheranan. Wira hanyalah kakak ipar Dara, lebih tepatnya mantan kakak ipar, tetapi, kenapa perhatian Wira lebih terlihat layaknya seorang pria kepada wanita yang disukai? Pikirnya.


*****


Dibawanya Dara ke dalam mobilnya, lalu menurunkan gadis itu di kursi bagian belakang yang disusul olehnya duduk di samping Dara. Air mata yang sejak tadi mendesak ingin keluar akhirnya merebak berderai di wajah cantiknya.


"Apakah sakit sekali?" Wira terlihat panik karena Dara menangis meraung tersedu-sedu. Padahal gadis itu menangis meluapkan segala rasa marah yang bercokol di hatinya.


Wira mengambil kotak obat yang tersimpan di belakang jok, meraih kaki Dara ke pangkuannya dan memeriksanya.


"Yang terkilir waktu itu juga kaki yang ini kan? lain kali harus lebih berhati-hati." Wira fokus mengoleskan salep pereda nyeri di pergelangan kaki gadis yang menangis itu.


"Sebaiknya kita pulang saja, kamu tidak mungkin bisa melanjutkan kegiatan di sini dengan kaki yang sakit, aku akan meminta izin kepada panitia. Tunggu sebentar, aku segera kembali." Wira mengusap puncak kepala Dara dan bergegas menuju tenda panitia.


Dara tidak membantah ataupun menolak saat Wira mengusulkan dan mengajaknya pulang terlebih dahulu. Dara merasa aneh kepada dirinya sendiri, seolah ada kekuatan yang mendorong jiwanya untuk melakukan hal tadi, dari berpura-pura terjatuh hingga berbohong tentang rasa sakit di kakinya.


Gadis itu menendang-nendangkan kakinya ke udara dan mengacak rambutnya frustasi, karena merasa kewarasannya tiba-tiba berkurang ketika melihat Wira berdekatan dengan wanita lain.