
Hari mulai beranjak gelap, ditambah dengan cuaca mendung membuat suasana di jalanan sepi itu semakin mencekam. Sejak tadi Michelia belum beranjak dari sana, ia masih terisak duduk di rerumputan kering di pinggir jalanan yang berdebu.
Wanita itu tampak semakin lusuh dan kumal, ia sekarang kebingungan harus bagaimana. Bersamanya sekarang hanya tersisa motor butut yang hampir kehabisan bensin, dompet dengan isi dua lembar rupiah berwarna merah dan ponselnya yang dimatikan sejak menjadi buronan.
Matanya melihat sekitar mengedarkan pandangannya berharap menemukan tempat beristirahat, tetapi yang terlihat sejauh mata memandang hanyalah hutan lebat tanpa ada satu rumah pun yang terlihat.
Ia bangun dari duduknya. Memutuskan untuk kembali memacu motor yang sudah renta dengan bahan bakar tersisa untuk mencari tempat berteduh sementara karena hari semakin gelap dan juga mencari makanan untuk mengisi perutnya yang semakin perih melilit.
Sudah satu jam berkendara yang dilaluinya hanyalah deretan pepohonan tinggi tanpa ada satu pun pemukiman warga, bahan bakarnya semakin menipis hingga akhirnya motornya benar-benar mati total.
"Dasar motor sialan!" umpatnya.
Ia turun dan menendang-nendang motornya dengan perasaan kesal luar biasa. Michelia mau tak mau mendorong motor tersebut karena sekarang hanya itulah yang dimilikinya.
Tiga puluh menit berlalu, dari kejauhan matanya melihat penjual bahan bakar eceran di pinggir jalan. Ia segera mendorong motornya sekuat tenaga dengan susah payah agar cepat sampai di tempat penjual tersebut.
"Pak, beli bensinnya. Dipenuhin aja tangkinya," pinta Michelia dengan napas yang masih tak beraturan karena kelelahan.
"Semuanya jadi seratus lima puluh ribu," ucap si bapak penjual setelah selesai menuang bensinnya.
"Kok mahal banget Pak? itu kan cuma lima literan paling kalau sampai penuh," protesnya dengan suara meninggi dan angkuh seperti biasa.
"Ya memang di sini harganya segitu karena ini daerah terpencil. Pom bensin sangat jauh dari sini dan tidak ada lagi penjual bahan bakar di dekat sini selain saya. Kalau tidak mau bayar segitu saya sedot lagi aja bensinnya pakai selang," jawab si bapak santai masa bodo.
Michelia berdecak kesal, kemudian menyerahkan uang dua ratus ribu yang tersisa di dompetnya hingga kini isinya hanya tinggal satu lembar berwarna biru.
"Sekitar lima kilo, ikuti saja terus jalan ini nanti juga sampai," sahut si bapak yang tengah sibuk menutup kembali botol-botol bekas bensin yang dibeli Michelia.
Tanpa mengucapkan terima kasih dia langsung melesat meninggalkan tempat tersebut, membuat si penjual geleng-geleng kepala.
"Penampilannya kayak gembel tapi angkuhnya minta ampun."
*****
Setelah membeli makanan dengan sisa uang tadi, ragu-ragu Michelia memarkirkan motornya ke depan mesin ATM dekat sebuah minimarket. Dia tengah menimbang-nimbang untuk menarik uang atau tidak. Jika menarik uang tunai maka keberadaannya pasti akan terlacak polisi, tapi jika tidak ia sudah tidak punya bekal lagi untuk menyambung hidupnya yang kini terlunta-lunta.
Michelia masuk ke dalam dan masa bodo dengan pelacakan polisi, tanpa uang sepeser pun otaknya buntu dan sudah tak peduli lagi tentang semua resiko dari keputusannya.
Namun, sayang seribu sayang. Ternyata rekeningnya dibekukan dan sudah pasti polisi yang melakukannya. Ia memukul-mukul mesin ATM dan mengeluarkan sumpah serapah dengan kata-kata kasar.
Sekarang dia benar-benar sudah tak tahu lagi harus berbuat apa. Michelia duduk di pinggiran minimarket dengan air mata yang kembali merebak. Sudah tak tahan lagi dengan keadaan ini ia pun akhirnya menghidupkan ponselnya dan menghubungi ibunya.
"Bu, aku ingin segera pulang Bu... kenapa sekarang ayah jadi tidak becus mengurus masalah kecil seperti ini," teriaknya sambil menangis putus asa.
"Chelia, ayahmu sudah kebingungan harus bagaimana. Keluarga Aryasatya sudah memblokir semua akses yang memungkinkan kita untuk cuci tangan," sahut ibunya diseberang telepon.
"Aku sudah kehabisan uang Bu, rekeningku juga diblokir. Aku nekat menyalakan ponsel karena sudah tak tahan lagi dengan hidupku sekarang. Suruh ayah berusaha secepatnya agar aku bisa pulang. Aku tak peduli seperti apapun cara yang Ayah gunakan!" titahnya memaksa.
Belum sempat ibunya menjawab ponselnya telah mati karena kehabisan baterai, kini Michelia hanya bisa menangis menyedihkan meratapi nasib buah dari perbuatannya sendiri.