
"Aku akan kembali ke rumah sakit untuk memeriksa sesuatu. Tidurlah, jangan menungguku." Wira bangkit dari duduknya dan mengambil jaketnya.
"Tapi ini sudah malam, kenapa tidak besok pagi saja kembali ke sana? lagipula Mas pasti lelah kan karena baru saja sampai."
Dara menahan kepergian suaminya karena khawatir melihat Wira yang hendak pergi di saat suasana hatinya sedang tak baik.
"Sayang, aku harus ke rumah sakit sekarang juga untuk mencari tahu siapa dalang dari semua ini. Hatiku takkan tenang jika belum memastikannya. Jangan khawatir, aku akan berhati-hati." Wira mengulas senyuman menenangkan agar Dara yakin bahwa dirinya baik-baik saja.
"Kalau begitu, aku ikut. Kuizinkan Mas pergi tapi aku ingin ikut menemani. Kumohon," pinta Dara memelas.
"Apa tidak sebaiknya menunggu saja? aku takut kamu kelelahan, ini sudah waktunya untukmu beristirahat. Kumohon sayang jagalah kondisimu, demi aku, demi anak kita."
Wira membujuk sebisa mungkin agar Dara tetap di rumah, karena tak ingin mengambil resiko akan kondisi istri dan anaknya.
"Baiklah, tapi Mas jangan pergi sendirian. Ajaklah Pak Jono untuk menemani agar aku merasa lebih tenang," saran Dara.
"Iya sayang. Akan kuminta Pak Jono menemaniku. Aku berangkat sekarang, tidurlah." Wira mengelus puncak kepala Dara penuh sayang dan bergegas kembali ke rumah sakit.
*****
"Aku ingin memeriksa rekaman CCTV rumah sakit tadi siang, tepatnya di sekitar ruang lingkup apotek dan juga rekaman di ruang apoteker. Ada hal penting yang harus kupastikan."
Wira sudah berada di rumah sakit dan sedang berbincang dengan salah satu staf security yang sedang berjaga di depan ruang kontrol utama keamanan rumah sakit.
"Maaf Dokter, tapi kunci utama ruang rekaman CCTV dipegang oleh kepala security. Kami tidak diberi wewenang untuk mengakses dan dia akan bertugas kembali esok hari" jelasnya.
Wira mengusap tengkuknya gusar karena ingin segera memastikannya untuk meredam rasa penasaran yang menyiksanya.
"Tapi jika Anda ingin memeriksanya sekarang juga, saya akan menghubungi kepala security untuk segera datang," tawar si petugas keamanan tersebut.
"Ya, segera hubungi. Ini menyangkut tindak kejahatan, aku tak bisa membiarkan semua ini berlarut terlalu lama," perintahnya.
"Baik Dokter, tunggu sebentar."
Wira menunggu dengan gusar, bahkan dari detik ke detik terasa berabad lamanya, sedangkan Pak Jono sedari tadi dengan setia menemani tuannya sesuai permintaan sang nyonya yang diam-diam mengirim pesan padanya agar selalu berada di sisi Wira karena khawatir dengan keadaan suaminya itu.
Sekitar lima belas menitan barulah si kepala keamanan tiba dengan menggunakan motornya, dia terlihat kacau karena mungkin berusaha datang secepat mungkin ketika mendengar Wira memangilnya untuk datang.
"Maaf agak lama Dokter, kebetulan jalanan dari arah rumah saya sedang padat."
"Tak masalah. Maaf, meminta datang secara mendadak. Bisakah kita memeriksa rekaman CCTV secepatnya? aku tak ingin membuang waktu." Wira sudah tidak sabar lagi karena rasa penasarannya telah memuncak hingga ke ubun-ubun.
Si kepala security mengangguk dan segera membuka kunci ruang kontrol diikuti Wira di belakangnya, dengan cepat pria itu kembali memutar mundur rekaman ke waktu tadi siang sesuai permintaan Wira terutama di sekitar apotek.
Layar masih menampakkan aktivitas normal seperti biasa, di luar apotek maupun di dalam ruangan apoteker. Setelah beberapa saat kemudian tampaklah Michelia yang masuk ke ruangan apoteker.
Mata Wira terus fokus tertuju pada layar memperhatikan dengan makin serius ketika Michelia duduk menggantikan si apoteker.
"Bisakah diperbesar resolusinya?" pinta Wira.
"Baik Dok."
Setelah diperbesar Wira menyaksikan Michelia yang membuka kemasan obat peluruh dan memasukannya ke dalam plastik rumah sakit. Wira meninju meja kayu di sebelahnya dengan geram disertai amarah yang membakarnya.
"Aku kupastikan dirimu membayar perbuatan kejimu dengan harga yang setimpal. Kali ini kamu mengincar mangsa yang salah. Michelia! Kamu akan menyesal pernah berurusan denganku!"