You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 269



Fatih membawa pujaan hatinya ke taman yang terdapat di area sisi kanan rumah sakit. Di sana berjejer bangku-bangku panjang dari besi bercat putih, dipadu pohon-pohonan rimbun serta berbagai macam bunga membuat udara begitu segar serta sejuk di mata. Sore itu langit begitu cerah dengan warna jingga yang sedikit demi sedikit mulai bermunculan. Si calon dokter mendaratkan bokongnya di salah satu bangku taman, sedangkan Freya masih berdiri kebingungan.


“Duduk Frey.” Faith menepuk-nepuk bangku tersebut meminta Freya untuk duduk di sebelahnya. Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya Freya bergerak mengenyakkan diri di samping Fatih masih dengan raut wajah penuh tanya.


“Ngapain kamu ngajakin aku ke sini?” freya mengedarkan pandangannya ke sekitar lalu kembali fokus menatap Fatih.


“Buat jawab pertanyaan kamu.Tadi nanyain penyebab aku ngelamun kan? jadi aku ngajak kamu ke sini.”


“Terus?” Freya memicingkan mata masih tak mengerti.


“Aku jadi begini juga ada hubungannya denganmu,” cicit Fatih pelan dengan pandangan lurus ke depan tak berani balas menatap gadis yang duduk bersisian dengannya, sementara Freya terus memaku pandangnnya tanpa berpaling.


“Denganku?” Freya mengerutkan kening. “Tunggu… tunggu, maksudnya mukamu jadi kusut kayak taplak meja belum disetrika semuanya gara-gara aku begitu!” jawabnya sengit. Freya merengut tak suka disertai tatapan tajam juga bibir mencebik.


Fatih menarik napas kemudian mengembuskannya penuh beban, laksana seorang suami yang kebingungan dan tak bisa pulang karena diomeli istrinya lantaran tidak mendapatkan uang untuk membayar cicilan kredit panci.


“Mulai awal bulan aku harus praktek di rumah sakit lain yang berada di pedalaman selama satu tahun, program dari kampus untuk melengkapi nilai akhirku. Itulah penyebab aku jadi seprti ini,” keluhnya.


“Oh, rupanya itu penyebanya. Tapi tadi kamu bilang ada hubungannya denganku? Jangan ngibul! Bikin orang ngerasa bersalah tahu nggak!” Freya bersungut-sungut tak terima.


“Tapi memang benar semua ini ada hubungannya denganmu Frey. Jika aku tak di sini lagi maka kita pasti akan sangat jarang bertemu.”


“Ya… ya itu su-sudah pasti. Tapi, lagian buat apa juga kita sering ketemu, bu-bukan masalah besar iya nggak?” ucapnya tergeragap.


Freya merasa ada yang aneh dengan dirinya, seperti ada gelombang frekuensi asing yang muncul di radarnya ketika Fatih menyebutkan perihal mereka yang akan jarang bertemu. Terselip rasa tak rela di hatinya, apalagi beberapa waktu lalu saat Freya bolak-balik ke rumah sakit, dengan setia Fatih menjemput dan mengantarnya pulang setiap kali jadwal kotrol ke rumah sakit hinga pulih, entah mengapa hatinya tiba-tiba merasa hampa saat membayangkan tak bisa sering-sering bertatap muka dengan Fatih.


“Tapi bagiku masalah besar. Maka dari itu sebelum berangkat aku ingin mengatakan sesuatu padamu agar aku bisa merasa tenang.” Air muka Fatih tampak serius tak seperti sebelumnya, ia memberanikan diri menatap langsung ke mata gadis yang ditaksirnya meskipun degupan jatungnya menghantam serupa angin ribut di dalam sana.


“Me-memangnya, ka-kamu mau ngomomg apa?” Freya menelan ludahnya gugup efek ditatap dalam oleh Fatih, padahal dia sudah terbiasa berinteraksi dengan lelaki terutama teman-teman komunitas trailnya, akan tetapi dengan si calon dokter ini ada suatu rasa berbeda yang belum mampu dipahaminya, ia kadang tersipu bahkan merona jika Fatih berada disekitarnya.


Suasana seketika hening, mungkin jika ada burung gagak di sana mereka akan mengejek dengan suara khasnya untuk memecah bentangan keheningan di antara dua insan yang saling menatap satu sama lain. “Frey….” Fatih setengah meremas tangan gadis di hadapannya.


“Ka-kamu ngeprank kan, wah pasti ini prank iya kan ahahaha?” sahut Freya dengan tawa canggung.


“Nggak Frey, aku serius.”


Freya memalingkan pandangannya ke sekitar untuk mencairkan kecanggungan yang terasa menghujam kalbu, hanya ada mereka berdua di sana, ditemani semilir angin lembut juga sinar mentari nan hangat yang ikut menjadi saksi.


“Coba kamu perhatikan ponselku ini, ada masalah tidak?” Fatih mengeluarkan gawai dari sakunya dan menyodorkannya kepada Freya.


Freya mengamati dengan seksama kemudian kembali fokus menatap Fatih. “Baterainya hampir habis.”


“Seperti itulah aku tanpa dirimu. Untuk itu kuberanikan diri mengungkapkan rasa yang sudah lama kupendam. Aku udah lama suka sama kamu, sejak pertama kali kamu nolongin aku gantiin ban mobil. Freya, bersediakah kamu menerimaku menjadi kekasihmu?” tanya Fatih sekali lagi dengan intonasi lebih jelas dibandingkan tadi.


Rona merah tampak merebak di wajah Freya, sungguh sial, pernyataan Fatih membuatnya berdebar tak karuan. Otaknya Ingin menolak demi menjaga image agar tidak terkesan murahan meskipun dadanya mulai merasakan getaran yang sama, tetapi hatinya membantah isi kepalanya dan malah berseru untuk segera mengiyakan. Ditengah kebingungan yang melandanya, refleks ia mengangguk, otaknya masih berdebat dengan hatinya, tetapi tubuhnya lebih condong kepada si segumpal daging yang bersemayam di rongga raganya.


Fatih tersenyum lebar melihat reaksi Freya, inginya dia berteriak dan berlari mengelilingi Senayan sekarang juga. ‘’Bisakah kamu menjawabku dengan kata-kata agar aku lebih yakin?” pinta Fatih yang tak bisa menyembunyikan kegembiraanya.


"Ehm… aku… aku mau,” sahutnya malu-malu laksana embusan angin lalu.


Saking senangnya Fatih tak mampu mengontrol diri, ia meraih wajah Freya dan mengecup sekilas bibir gadis pujaaanya. Sontak Freya membulatkan mata, lantaran terkejut, spontan tangannya mengepal dan sebuah tinju medarat mulus di sisi kepala Fatih hingga membuatnya pingsan.


Freya terkesiap, menangkupkan telapak tangan di mulutnya yang menganga karena kaget dengan gerakan tubuhnya sendiri yang diluar kendalinya, ia mencoba menepuk-nepuk pipi Fatih berharap lelaki itu terbangun.


"Duuuh... bagaimana ini. Hei Fatih! Sadarlah!”