You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 165



**Halo my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak kalian setelah membaca berupa like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like, vote poin serta koinnya dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis.


Follow juga akun Instagramku @Senjahari2412 untuk mendapatkan kabar seputar novel yang kutulis.


Terima kasih, selamat membaca....


With Love


Senjahari_ID24**


*****


Para polisi dan penyidik segera bergerak memperluas pencarian, Wira juga menghubungi ayahnya dan mereka menyewa detektif swasta untuk melacak keberadaan Michelia. Tak lupa ia juga mengabari Dara tentang kaburnya Michelia, meminta istri tercintanya itu untuk berhati-hati dan tetap berada di rumah.


Baru saja Wira mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya selepas mengantarkan para polisi dan penyidik ke lobi rumah sakit, ponselnya berbunyi nyaring menandakan ada panggilan yang masuk. Dilihatnya tertera nama ayahnya di layar, ia mengangkat panggilan tersebut dan menempelkan gawai berbentuk kotak persegi panjang itu di telinganya.


"Halo Yah, para polisi dan penyidik baru saja undur diri. Apa ada kabar baru tentang buronan yang kita cari?" tanya Wira penasaran.


"Belum Nak, tapi Ayah ada kabar yang lebih penting. Sopir pribadi Ibumu baru saja mengabari. Ibumu... ibumu pingsan di toko perhiasan dan sekarang sopir sedang dalam perjalanan membawanya ke rumah sakit. Ayah ini masih di perusahaan dan akan langsung menyusul ke sana," jelas Haris, terdengar nada kecemasan yang membalut kalimatnya.


"Apa? kenapa... kenapa tiba-tiba ibu pingsan." Wira terkejut dan langsung bangkit dari duduknya.


"Ayah juga tidak tahu. Tolong kamu bersiap di situ untuk kedatangan ibumu. Ayah usahakan cepat tiba di rumah sakit," ucap pria tua itu khawatir. Bagaimanapun juga Ratih adalah istrinya, wanita yang sudah berbagi hidup dengannya sedari muda, yang mengandung dan melahirkan putra kesayangannya.


"Ayah akan berhati-hati. Tolong tangani ibumu dengan Baik," pesan Haris kepada Wira.


"Iya Yah."


Wira menutup panggilan teleponnya dan segera berlari ke luar ruangan untuk menunggu kedatangan ibunya. Tak berselang lama mobil mewah berwarna silver itu tiba di rumah sakit, di lobi Wira beserta para perawat sudah bersiap dengan segala kelengkapannya.


Sopir membukakan pintu mobil. Wira menghambur lalu membopong tubuh Ratih, kemudian dibaringkannya di ranjang pesakitan dan segera membawanya ke unit gawat darurat.


Wira memeriksa dengan teliti semua tanda-tanda vital ibunya dengan cemas. Setelah memastikan semuanya dengan seksama, ia bernapas lega karena Ratih sepertinya hanya mengalami shock dan juga mungkin efek karena melewatkan sarapan sehingga asam lambungnya naik.


"Ceritakan padaku penyebab ibuku bisa sampai seperti ini, sebetulnya apa yang membuatnya begitu terkejut?" tanya Wira pada si sopir setelah Ratih dipindahkan ke kamar perawatan walaupun sampai saat ini ibunya itu masih belum sadarkan diri.


"Saya juga tidak tahu pasti Tuan Muda, tetapi seharian ini Nyonya terus menerus mengunjungi beberapa toko perhiasan. Beliau mengatakan hendak menguji keaslian berlian," jelas si sopir dengan wajah memucat karena takut disalahkan atas pingsannya sang nyonya besar.


"Berlian?" Sorot mata Wira penuh tanya.


"Iya Tuan Muda, nyonya membawa sekotak berlian dan sekarang kotak tersebut ada di dalam mobil. Saat keluar dari toko ketiga, nyonya langsung ambruk dan jatuh pingsan. Maka dari itu saya menghubungi Tuan Haris dan beliau meminta saya untuk langsung membawa nyonya ke rumah sakit," tuturnya.


"Ya sudah, terima kasih karena sudah bergerak cepat membawa ibuku kemari. Sekarang istirahatlah dulu, jika ada yang kuperlukan aku akan memanggilmu." Wira mengulas senyumnya meskipun tubuhnya luar biasa lelah hari ini.


Si sopir tersebut mengangguk dan segera undur diri dari sana sesuai titah Tuan mudanya.