
Permintaan Aruna disetujui Dokter pada akhirnya, segala macam obat, operasi dan juga kemoterapi sudah diusahkan semaksimal mungkin, tetapi kanker ganasnya tak mau berhenti menggerogoti. Aruna paham betul akan kondisinya sekarang seperti apa, untuk itu dia memilih ingin dirawat di rumah saja agar merasa seperti orang sehat, ia sudah jenuh dengan rumah sakit.
Dara membujuk agar ibunya pulang ke kediamannya. Aruna tak hentinya berterima kasih akan kemurahan hati anak dan menantunya, tetapi dia lebih memilih pulang ke rumah kecilnya. Meskipun dengan berat hati Dara menyetujuinya setelah dokter berbicara secara pribadi dengannya, dokter mengatakan mungkin saja ini adalah keinginan terakhir ibunya.
Rumah kecil Aruna terletak di pinggiran kota Jakarta di sebuah komplek perumahan sederhana, meskipun kecil, rumah itu cukup nyaman, bersih dan asri dengan beberapa tanaman hijau di halaman depan. Pelayan setianya selalu membersihkan rumah secara berkala disela-sela pekerjaannya merawat majikannya di rumah sakit.
“Senangnya bisa kembali ke rumah,” ucap Aruna sambil mengulas senyum. Dara mendorong kursi roda Aruna memasuki rumah tersebut.
Aruna meminta Dara membawanya menuju kamar utama yang keseluruhannya bernuansa putih, juga meminta dibukakan jendela membiarkan udara serta sinar sang surya menerjang masuk berpesta pora.
“Selamat datang di rumah Ibu, Anakku.”
Dara tak menjawab, hanya menunduk dalam diam berdiri di dekat jendela, berusaha menahan desakan hebat yang mencari-cari celah ingin menari dan merebak keluar dari sudut matanya.
“Dara, kemarilah Nak,” panggilnya.
Dara melangkah menghampiri dan bersimpuh di hadapan ibunya. “Kenapa Bu, ada yang Ibu inginkan? biar kuambilkan,” ucap Dara sambil mengulas senyum dipaksakan.
“Kapan-kapan, bolehkan Ibu bertemu Selena? bisakah kamu membawanya kemari?” pintanya penuh harap. “Hanya melihatnya di layar ponsel rasanya tak cukup. Ibu ingin bertemu cucu cantik Ibu.”
Dara mengangguk. “Akhir pekan… akan kubawa Selena ke sini.”
*****
Dua hari berikutnya bertepatan dengan akhir pekan, Dara membawa Selena di temani Wira, tak lupa Ratih, Haris dan Bu Rina juga ikut serta. Dokter berpesan kepada Dara agar suasana rumah selalu dipenuhi keceriaan, tak boleh menunjukkan raut sedih, dan perlakukanlah ibunya seperti orang sehat pada umumnya agar suasana hatinya bahagia.
Si pelayan segera mendorong kursi roda keluar dari kamar menuju ruang tamu, kemudian Aruna meminta pelayan tersebut untuk membuatkan minum.
Ternyata yang datang bukan hanya anak, menantu dan cucunya, tetapi juga besannya ikut serta, membawa beberapa buket bunga, parsel buah berukuran besar juga berbagai tanaman indah dalam pot.
Ratih menghampiri dan menyalami Aruna. “Bagaimana kabar Anda?”
“Rumah membuat saya merasa lebih baik dari sebelumnya,” sahutnya sambil mengulas senyum bahagia.
“Syukurlah, saya sengaja membawa beberapa tanaman untuk menghiasi rumah, tanaman indah mampu membuat suasana hati menjadi lebih baik,” ucap Ratih tulus.
“Terima kasih Nyonya Ratih, atas perhatian Anda.”
“Jangan sungkan, kita adalah besan. Lain kali kita harus mengobrol berdua untuk minum teh dan memanggang kue, pasti menyenangkan,” hiburnya pada Aruna. “Saya akan membantu menata tanaman dulu.” Ratih dan Haris beranjak ke halaman bersama dengan Bu Rina.
“Halo Nenek.” Dara berjongkok di hadapan Aruna dengan Selena di gendongannya, sedangkan Wira berbincang dengan dokter juga perawat dari rumah sakit yang baru saja datang untuk memeriksa kondisi Aruna.
Aruna mengulurkan tangannya menyentuh pipi gembul Selena, bayi lucu itu tersenyum senang dan bergerak lincah berceloteh menggemaskan.
“Bolehkah Ibu menggendongnya?” Aruna menatap Dara penuh harap.
“Gendonglah Bu.” Dara memberikan Selena ke pangkuan ibunya. Aruna menatap lamat-lamat cucunya yang begitu cantik dan lucu, hatinya membuncah bahagia kala tubuh hangat bercampur aroma khas bayi berada di pelukannya. Lalu, ingatan masa lalu mendatangi benaknya, ingatan tentang Dara yang masih bayi. Air mata seketika luruh di wajahnya. Dulu, harusnya dia selalu memeluk bayinya, bukan meninggalkannya.