You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 118



"Ini wedangnya Yah."


Ratih menaruh secangkir wedang jahe yang masih mengepulkan uap panasnya di atas meja yang terdapat di taman belakang kediaman Aryasatya kemudian duduk berdampingan dengan Haris. Selepas makan malam kedua orang tua Wira itu paling suka bersantai di sana.


"Bu, Ayah ingin bicara sesuatu. Tentang putra kita." Haris membuka pembicaraan setelah menyesap kopinya.


"Ibu juga ingin berbicara perihal Wira. Ini tak bisa dibiarkan berlarut-larut, bahkan membuatku tak bisa tidur nyenyak. Ibu tak habis pikir dengan jalan pikiran Wira, kenapa dia menikahi gadis seperti Dara," keluhnya masih dengan keras hati.


"Memangnya apa yang salah dengan Dara Bu? Ayah perhatikan Dara adalah gadis yang baik dan juga sekarang dia sedang mengandung benih dari Wira. Cucu kita, penerus keluarga Aryasatya yang sudah lama kita nantikan. Bukankah Ibu sudah tak sabar ingin segera menimang cucu?" bujuknya tetap lembut meskipun istrinya itu berbicara dengan nada keras kepala.


"Ibu sangat menginginkannya Yah, tetapi kenapa harus anak pungut itu yang mengandung cucu berharga kita. Bukankah masih banyak para gadis dari kalangan yang setara dengan kita untuk dijadikan istri? Ibu sangat yakin bahwa Dara yang lebih dulu merayu Wira dan menghalalkan segala cara hingga akhirnya Wira menikahinya," tuduhnya tetap pada pendiriannya.


"Bu, tidak baik menuduh orang seperti itu, apalagi Dara hanya seorang gadis lugu. Apakah ibu tidak kasihan dengannya yang hanya sebatang kara sekarang? sebagai wanita yang melahirkan Wira tidak bisakah Ibu merasakan dan mengetahui? coba lihat dan perhatikan putramu dengan baik, dia sangat mencintai Dara dan matanya berbinar bahagia saat bersamanya," ucapnya sedikit menekankan kalimat terakhirnya karena Ratih masih tetap tak melunak.


"Sayang." Haris masih tetap berbicara dengan nada rendah, karena bagaimanapun juga Ratih adalah wanita yang telah mengandung dan melahirkan putranya.


"Apakah perkataan rekan-rekanmu lebih penting dari kebahagiaan putramu? Salahkah jika mereka saling jatuh cinta? kadang rasa itu datang dan bersemi tanpa sengaja kepada orang yang tak terduga tidak memandang status dan kasta. Mungkin Tuhan memang memilih Dara untuk melahirkan penerus keluarga kita, coba pikirkan betapa lucunya akan lahir seorang bayi yang memiliki kemiripan dengan putra kita? bukankah baru membayangkannya saja terasa begitu membahagiakan," bujuknya kepada Ratih.


Tak dipungkiri setelah mendengar perkataan suaminya Ratih sedikit tersentuh, baru membicarakannya saja terasa begitu senang, seorang bayi mungil yang diidamkannya kini sedang bertumbuh di rahim Dara. Namun, ketika mengingat kembali nama Dara bayangan indahnya seketika buyar.


"Ibu tetap tidak bisa menerima semua ini. Ibu hanya akan menerima dan mengakui bayinya saja sebagai bagian keluarga kita, tetapi tidak dengan Dara. Pokoknya tidak!"


Ratih beranjak pergi dari sana meninggalkan Haris dan pria tua itu mengembuskan napasnya kasar. Tetapi Haris tidak akan menyerah, sebagai seorang ayah kebahagiaan putranya selalu menjadi yang utama dan masih ada hari esok untuk meyakinkan ibu dari anaknya itu.


Haris berdo'a dalam hati, semoga Tuhan memberikan jalan kemudahan untuk melunakkan hati istrinya yang keras bagaikan batu.