
Halo my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak kalian setelah membaca berupa like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like, vote poin serta koinnya dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis.
Jangan lupa Ikuti juga give away hingga cerita ini end dengan vote sebanyak-banyaknya. Lima vote teratas akan mendapatkan kenang-kenangan tumbler dari author.
Follow juga Instagramku @senjahari2412 untuk mengetahui informasi seputar cerita-cerita yang kutulis.
Selamat membaca....
*****
“Istriku, tolong selamatkan istriku.” Nada suara Wira mengalun pilu.
Setelah mendapat jawaban Wira, Raisa kembali masuk ke ruangan gawat darurat. Tak berlama-lama ranjang pesakitan dengan Dara yang terbaring di atasnya dibawa keluar oleh para perawat dan dokter untuk segera dipindahkan ke ruang bedah. Kondisinya semakin kritis dengan kesadaran yang mulai menipis. Wira dan semua yang sejak tadi menunggu di luar ruangan dengan sigap segera mengikuti di belakang.
Sebelum masuk ke ruang bedah Raisa menghentikan langkahnya sejenak. “Semuanya silakan menunggu di luar, do’akan Dara dan juga kami yang menangani. Kecuali kamu Wira, bersihkan diri juga gantilah pakaianmu, bersiaplah dan masuklah untuk mendampingi istrimu.”
Wira mengangguk, segera berlari menuju ruangan samping ruang bedah untuk membersihkan diri secepat mungkin dan berganti pakaian dengan pakaian khusus yang biasa dipakai para dokter ketika hendak mengoperasi pasiennya.
Tubuh Dara sudah diangkat ke atas dinginnya meja operasi. Pakaiannya sudah diganti dengan pakaian khusus dilengkapi penutup rambut. Tangannya direntangkan, kemudian berbagai macam peralatan medis dipasangkan di tubuhnya. Meskipun lemah, tetapi Dara masih direngkuh kesadarannya kendati semakin mengabur dan dia juga sempat mencuri dengar obrolan Raisa dengan para dokter lainnya di unit gawat darurat tadi
“Dok… dokter….” panggilnya setengah berbisik.
Raisa yang sedang memerikasa kondisi vital Dara di monitor langsung menoleh dan mendekatkan wajahnya. “Ya,” sahutnya.
Raisa menghela napas berat, ingin rasanya dia menangis dihadapkan dengan situasi sekarang ini. Kondisi denyut jantung si bayi semakin melemah, bahkan nyaris tak bergerak saat Raisa mencoba mencari pergerakan janin di dalam Rahim Dara. Ia tak tega untuk mengatakan tidak walaupun suami dan keluarga pasien sudah memutuskan memilih ibu si bayi. “Tentu. Aku akan berusaha semampuku.”
Dara tersenyum tipis sebelum akhirnya obat bius bekerja melumpuhkan keasadarannya sepenuhnya, memeluknya dalam tidur lelap nan dalam.
Wira masuk ke ruang bedah dan semuanya sudah bersiap di posisi masing-masing. Ia berdiri di sisi ranjang dekat kepala Dara, membungkukkan tubuh jangkungnya semakin dalam dan melabuhkan kecupannya di kening istrinya yang sudah terbius sempurna. “Kuatlah sayang, dan berjuanglah,” bisiknya seraya terisak.
Sebelum memulai semuanya berdo’a sepenuh hati, memohon pertolongan kepada Sang Pencipta pemilik seluruh alam agar diberikan yang terbaik. “Kita mulai.” Raisa memberi instruksi dan proses pembedahan pun dilaksanakan.
Selama operasi berlangsung, telapak tangan Wira terus berada di kepala kepala Dara. Ditatapnya wajah cantik istri tersayangnya yang matanya memejam rapat. Dalam diam hanya do’a yang dirapalkan Wira dalam hatinya, memohon dan meminta agar keduanya diselamatkan, tak peduli jika do’anya serakah dan tetap percaya bahwa keajaiban itu ada.
Empat puluh lima menit berlalu akhirnya Raisa berhasil mengeluarkan si jabang bayi, operasi pembedahan kali ini berlangsung lebih lama dari biasanya dikarenakan kodisi kehamilan Dara yang mengalami gangguan, sebisa mungkin dia ingin ibu dan bayinya tetap selamat meskipun denyut jantung si bayi sudah semakin melemah.
Raisa dan dokter lainnya memeriksa monitor dan bernapas lega mendapati tanda-tanda vital Dara tetap stabil. Hanya saja kondisi si jabang bayi ketika dikeluarkan tak bergerak sama sekali, dengan hati-hati Raisa membuka selubung yang masih membungkus si bayi, diiringi untaian do’a yang tak henti semoga masih ada harapan. Lalu saat selubung pembungkusnya terbuka sempurna, tanpa diduga bayi lemah itu menggeliat kemudian menangis kencang.
Sontak Wira yang masih terpaku menatap istrinya langsung memalingkan pandangannya ke arah Raisa ketika mendengar suara tangisan. Raisa langsung meraup bayi itu ke dalam gendongannya disertai raut haru yang tak bisa disembunyikan dengan air mata berderai yang sejak tadi mendesak di pelupuk matanya.
“Dia anak yang kuat. Bersyukurlah Wira, anak dan istrimu... keduanya... selamat,” ucap Raisa serak terisak.
WIra merasa seluruh tubuhnya lunglai, luapan rasa syukur membuatnya lega tak terkira. Raisa menggendong bayi merah yang menangis itu mendekat kapada ayahnya. Wira menerimanya hati-hati dengan tangan gemetaran merengkuh bayi mungilnya dipangkuan.
“Terima kasih… terima kasih telah berjuang untuk bertahan, permata hatiku,” bisiknya parau penuh haru. Punggungnya berguncang dan air matanya tumpah ruah tak terbendung lagi.