You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 274



Tangis kencang Selena melengking memecah keheningan malam. Bayi gembul nan lucu itu terbangun meminta jatah makanannya. Orang tuanya yang tengah menggagahi dan digagahi dalam pacuan panas bergelora seketika tersedot dari pusaran gairah.


Dara tersentak kaget begitu juga Wira. Tanpa aba-aba Dara mendorong tubuh suaminya yang masih mengayuh di atasnya hingga nyaris terjungkal dari sofa. Memungut bathrobe di lantai, memakainya serampangan dan berlari bergegas menuju anaknya yang menangis.


Pria tampan yang hampir mencapai ujung arena dayungannya itu melongo dan mengerjap. Padahal tinggal sedikit lagi hinggga ledakan kenikmatannya tiba, tetapi dia ditinggalkan begitu saja, seolah dirinya yang sedang berada di awang-awang dan hampir meraih puncak dilemparkan begitu saja hingga terjun bebas ke tanah. Pesona mematikannya telah kalah oleh makhluk kecil menggemaskan yang tidak lain adalah darah dagingnya sendiri.


Kepalanya terasa berdenyut lantaran tubuhnya belum mendapatkan reward dari arena pacuan panasnya tadi. Wira benar-benar tersiksa saat ini, dia sudah sepenuhnya memanas dan hanya siraman kenikmatan madu asmara yang bisa mendinginkannya. Ia Memijat pelipisnya sembari menyandarkan punggung ke bantalan empuk sofa. Namun, sesaat kemudian ia malah terkekeh kecil.


Jadi, begini rupanya rasanya mempunyai anak, batinnya.


Kendati dengan desah napas frustrasi Wira bangkit dan mengambil handuk bersih yang terlipat berjejer rapi di ruang ganti, memakainya untuk menutupi tubuh polosnya dengan bukti gairahnya yang masih tegak menantang merengek meminta dilemaskan. Ia menunduk dan tertawa miring sambil menatap pusat tubuhnya sendiri. “Mulai sekarang kau harus banyak bersabar!" gumamnya.


Kakinya melangkah keluar dari ruang ganti menuju kamar mandi. Mengguyur diri dengan air dingin itulah yang hendak dilakukannya saat ini atau menggunakan cara lain mungkin?


Saat melewati ranjang besar peraduannya langkahnya terhenti, nampaklah di sana Dara berbaring miring membelakangi yang sudah pasti sedang menyusui Selena. Bathrobe yang dipakai Dara tersingkap menampilkan paha mulusnya, Wira menelan ludahnya dan jujur saja pemandangan itu membuat sesuatu dalam dirinya yang sempat menyerah kini kembali meronta melonjak-lonjak.


Wira tertegun sejenak di tempatnya berdiri, tiba-tiba ia mengurungkan niatnya ke kamar mandi. Terbersit niat nakalnya dan sorot matanya yang tadi kusut berubah cabul sambil menyeringai. Ia berbelok arah menuju ranjang. Merangkak pelan naik ke ranjang, merebahkan diri dan merapatkan tubuhnya memeluk Dara dari belakang.


Dara yang baru selesai menyusui Selena terkesiap saat lengan kekar Wira melingkari perutnya. Putrinya baru kembali jatuh dalam tidurnya dan melepaskan hisapannya dari sumber makanannya, tetapi biasanya butuh beberapa saat hingga Selena benar-benar terlelap.


Wira mengintip dan melihat buah cintanya dengan Dara yang ternyata sudah selesai dipenuhi asupan nutrisinya. Mata Selena terpejam dibingkai wajah lucu mengemaskan. Membuat seringai di wajah Wira semakin melebar.


Pria yang memeluknya dengan erat itu kembali bergerak, Dara bahkan membekap mulutnya sendiri agar desahan tak lolos dari bibirnya takut suara berisiknya membangunkan Selena yang masih berbaring di sebelahnya. Ranjang besar itu bergoyang diserang gempa darurat, Dara kembali dilanda desiran-desiran panas merambati seluruh tubuhnya.


Sesekali Dara memperhatikan bayi kecilnya, khawatir Selena terbangun karena ranjang yang bergoyang, tetapi bayi lucu itu tetap terlelap, sepertinya guncangan yang disebabkan kedua orang tuanya membuat Selena merasa diayun-ayun hingga tidurnya semakin pulas.


Dara mencengkeram lengan suaminya yang melingkari perutnya dan mengatupkan bibirnya kuat-kuat kala gelombang itu menghantamnya lagi. Wira mempercepat pacuannya lantaran tak ingin tertinggal lagi, tak lama kemudian ia menyusul bergetar hebat pertanda puncak yang didakinya tercapai sudah.


Keduanya menetralkan napas setelah pacuan yang penuh perjuangan. Wira menyerukkan wajahnya di perpotongan leher Dara masih dalam keadaan terengah-engah. Untuk beberapa saat mereka tetap dalam posisi itu.


Dara memukul kecil lengan suaminya yang masih memeluk perutnya. “Ih, Mas nekat banget sih! Gimana kalo Selena bangun,” protesnya dengan suara pelan.


“Aku tersiksa setengah mati karena tadi belum tertuntaskan. Tapi Selena nggak bangun kan? malah tidurnya makin pulas.” Wira berbisik disusul kekehan.


“Tapi tadi ranjangnya bergoyang!” Dara mengerucutkan bibirnya.


“Tapi Selena sepertinya suka ranjang ini bergoyang. Apalagi Mamanya iya kan?” godanya sambil membelai sekilas bukit kembar favoritnya yang kini sepenuhnya diboikot buah hatinya.


Dara merasakan wajahnya memanas, kemudian menoleh ke arah Wira. Prianya ini memang sangat ahli menyeretnya ke dalam kubangan gelora memabukkan yang selalu membuatnya menyerahkan diri tanpa syarat. “Ya, Mama menyukainya,” sahutnya menggoda kemudian mengecup bibir suaminya penuh cinta.