You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 61



Mobil hitam edisi terbatas itu berhenti di parkiran sebuah toko perhiasan mewah yang berdiri megah. Saat turun Dara malah celingak-celinguk keheranan, kenapa Wira tiba-tiba ingin mampir ke toko perhiasan.


"Ayo," Wira menggedikkan bahunya mengajak Dara untuk masuk ke dalam.


"Kakak mau ngapain ke sini?" Gadis itu masih terdiam di tempatnya berdiri.


"Nanti juga kamu tahu. Cepatlah, nanti keburu tutup," ajaknya sambil mengulurkan tangannya pada Dara.


Gadis itu masih terpaku, ragu-ragu dia menerima uluran tangan itu dan Wira langsung menyambutnya dengan menggenggam tangan Dara dan menariknya lembut masuk ke dalam toko.


"Selamat datang di toko kami, ada yang bisa kami bantu?"


Seorang pelayan wanita di toko itu menyambut mereka dengan ramah. Dia tersenyum tersipu salah tingkah, melihat sosok Wira yang tampan tinggi menjulang memesona, dengan dibalut barang-barang mewah bermerek dari ujung kepala hingga kaki, mulai dari pakaian, sepatu hingga jam tangan yang dikenakannya, sudah pasti membuat kaum hawa manapun yang memandangnya akan tersihir ingin memasrahkan diri kepadanya.


"Saya mencari cincin pernikahan, tolong rekomendasikan cincin terbaik yang ada di sini," ucap Wira kepada si pelayan itu.


"Apakah Anda akan menikah Tuan? wah, sungguh iri pada wanita beruntung yang akan menjadi istri anda," sahut si wanita itu dengan suara manja yang di buat-buat. Dia juga melihat ke arah Dara dan mengira gadis muda nan cantik itu adalah adik Wira.


"Ah, Anda salah Nona, saya sudah menikah. Hanya saja belum sempat membeli cincin pernikahan karena kesibukan yang menyita waktu, dan ini istri saya." Wira melepaskan genggaman tangannya dan meraih pinggang Dara hingga merapat kepadanya, membuat gadis itu berjengit kaget.


Si wanita itu langsung terperangah karena tidak menyangka bahwa pria matang seperti Wira mempunyai istri seorang gadis muda. Tetapi kemudian dia tersenyum malu-malu saat melihat sesuatu di bawah dagu Dara.


"Ternyata masih pengantin baru rupanya. Pantas saja, pasti sedang hangat-hangatnya. Tunggu sebentar, akan saya ambilkan beberapa cincin terbaik dari toko kami," ujarnya kemudian segera berlalu memilihkan cincin untuk mereka.


"Apa maksudnya sedang hangat-hangatnya." Dara bersungut-sungut.


Wira tersenyum penuh arti, ia bangga memamerkan stempel bibirnya di khalayak ramai, sementara Dara hanya sibuk berusaha melepaskan diri dari rengkuhan lengan kokoh yang melingkar di pinggangnya.


Dara menoleh ke kanan dan ke kiri, memang benar beberapa pasang mata tertuju kepada mereka, hanya saja tiba-tiba dia merasa kesal ketika mendapati beberapa pekerja wanita melihat Wira dengan tatapan lapar.


"Silahkan Tuan, ada tiga pasang cincin pernikahan terbaik yang kami pilihkan. Cincin dengan permata Swarovski ungu ini salah satu yang terbaik di antara ketiganya, ini adalah edisi terbatas dan juga desainnya baru saja diluncurkan," jelas si pelayan itu panjang lebar.


"Kenapa tiba-tiba membeli cincin?" seru Dara keheranan.


"Karena aku ingin membelinya," jawab Wira santai.


"Tapi untuk apa?"


"Tentu saja untuk dipakai, mana mungkin untuk dimakan," ucapnya sambil tetap fokus memilih cincin yang hendak dibelinya.


"Kamu suka yang mana?" tanyanya pada Dara.


"Terserah! Yang mana saja, tapi cepatlah, aku ingin pulang," sahutnya. Dara merasa tidak nyaman berlama-lama di situ, apalagi sudut matanya menangkap beberapa pelayan toko tengah melihat ke arahnya sambil berbisik-bisik.


Wira menimbang-nimbang, setelah beberapa saat berpikir akhirnya ia memilih cincin yang direkomendasikan oleh si pelayan tadi. Tak lupa ia juga meminta untuk diambilkan ukuran yang sesuai dengan jarinya dan juga Dara.


Mereka berdua segera pulang setelah membayar dan membawa barang yang dibelinya. Sementara sepeninggal pengantin baru itu terjadi kehebohan di dalam toko.


"Pasti suaminya itu ganas di ranjang, kalian lihat kan, stempel di dagu istrinya?" ujar salah satu pelayan yang berkerumun itu.


"Kalian tahu, cincin pernikahan yang dibelinya tadi harganya hampir setara dengan satu buah mobil mewah keluaran Eropa lho," sambung yang satunya lagi.


"Duuuh, bikin iri, sudah tampan, kaya, perkasa pula. Aku juga mau suami yang seperti itu," timpal yang lainnya.