
"A-Anandara?" Ucapan wanita itu mengambang di udara.
"Saya datang ke sini untuk bertanya perihal orang tua kandung istri saya. Dulu dia diadopsi dari sebuah panti asuhan, namanya Anandara, dan saya mendapat alamat ini dari kepala panti yang merawat Dara dulu yang menyatakan bahwa kerabatnya tinggal di sini. Apakah Anda mengenalnya?" tanya Wira untuk memastikan bahwasanya orang ini memang mengenal Dara.
"Di-dia sudah me-nikah?" tanyanya. Dia malah menjawab pertanyaan Wira dengan pertanyaan lain.
Wira mengangguk masih dengan raut wajah serius. "Ya, dan saya adalah suaminya."
Wanita tua itu menelungkupkan kedua tangannya membekap mulutnya sendiri karena dilanda keterkejutan yang teramat sangat, kemudian matanya mencari-cari berharap ada sosok lain di belakang tubuh tinggi Wira.
"Kamu... datang bersamanya, Nak?" tanyanya.
"Tidak. Saya datang datang sendiri," jawab Wira singkat. "Bolehkah saya masuk? Ada banyak hal yang ingin saya tanyakan kepada Anda."
"Oh iya maaf. Silakan... silakan masuk." Wanita tua itu membuka pintunya lebih lebar dan menggeser posisinya di ambang pintu memberi akses kepada Wira untuk masuk.
"Silakan duduk," ucapnya. Ia mendudukkan tubuh kurus keringnya di kursi tua yang jahitannya sudah amburadul juga kayunya yang sudah tampak lapuk.
"Maaf sebelumnya jika kedatangan saya ke sini terlalu mendadak. Perkenalkan, nama saya Wira Aryasatya, suaminya Anandara. Ini foto pernikahan kami." Wira menunjukkan foto diponselnya yang diambil saat resepsi di hotel waktu itu.
Ragu- ragu wanita itu mengarahkan pandangannya pada foto tersebut, memperhatikannya secara seksama dengan tatapan sendu masih terdiam membisu tak bersuara. Matanya berkaca-kaca, sepertinya wanita tua itu berusaha mengontrol berbagai macam luapan yang berkecamuk di dadanya, terlihat dari bagaimana cara dia menarik dan mengembuskan napasnya begitu dalam serta berat.
Setelah beberapa saat ia kembali mengalihkan matanya menatap Wira. "Dia tumbuh begitu cantik... dan wajahnya sangat mirip dengan ayahnya," ujarnya dengan suara lemah serta raut wajah yang dipenuhi guratan kesedihan.
"Jadi benar, Anda adalah kerabat Dara?" Wira begitu antusias mendengar respons wanita tersebut yang sepertinya sangat mengenal orang tua kandung Dara.
Ia mengangguk pelan sembari tersenyum getir. "Saya... saya adalah bibinya," jelasnya.
*****
Gerbang rumah mewah itu segera dibuka oleh satpam ketika melihat mobil majikannya hampir mendekat. Mobil sport hitam itu langsung masuk dengan mulus dan si satpam kembali menutup pagar tinggi tersebut dengan cekatan.
Wira tiba di kediamannya kira-kira sekitar pukul delapan malam. Mesin mobil dimatikan, tetapi setelah beberapa saat si empunya tak kunjung keluar. Satpam yang telah selesai mengunci gerbang celingak-celinguk di garasi karena sejak tadi tak melihat sosok tuannya turun dari kendaraannya.
Wira ternyata masih menyandarkan dirinya di dalam sana dengan mata terpejam. Kaca mobilnya diturunkan separuh kemudian tangannya bergerak memijat pangkal hidung mancungnya lalu menggeser jemarinya mengusap wajahnya gusar seolah kebingungan.
Lima belas menit berlalu Wira masih terdiam di sana. Terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah menuju garasi dan itu adalah Dara. Langkah kaki Dara yang mendekati mobilnya membuyarkan pikirannya yang tengah menerawang. Dengan cepat Wira segera mengkondisikan air mukanya agar tampak normal padahal dirinya tengah dirundung kebimbangan.
"Dari tadi aku denger suara mobil masuk ke garasi tapi Mas tak kunjung muncul. Kok kayak lagi ngelamun, ngelamunin apaan sih?" protes Dara yang mengerucutkan bibirnya di dekat pintu mobil Wira.
Wira segera turun dan memasang senyum tampannya yang memesona kemudian merangkul Dara ke dalam pelukannya.
"Aku cuma lagi beresin berkas pekerjaanku biar gak berceceran. Tadi sangat sibuk jadi baru sempat kurapikan barusan. Ini berkasnya." Wira menunjukkan beberapa map yang dipegangnya sebagai alasan, padahal sebenarnya ada sesuatu yang tengah membebani pikirannya.
"Kukira ada apa, abisnya lama banget. Mama kangen sama Papa," desah Dara manja.
"Beneran? kalau betulan kangen berarti aku dapat hadiah dong malam ini," goda Wira dengan mata menyipit.
"Dih, dasar Papa mesum," umpat Dara yang kemudian mendaratkan cubitannya di perut berotot Wira yang malah disambut gelak tawa dari pria yang merangkulnya itu.
"Ayo kita masuk. Di luar dingin, nanti kamu masuk angin." Wira segera menghela Dara melangkah memasuki rumah bersama-sama.