You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 205



Fatih adalah anak bungsu dari seorang kepala desa di daerah Kuningan. Selain menjabat sebagai kepala desa, Bapaknya Fatih adalah juragan pemilik peternakan sapi yang cukup besar, perkebunan karet yang luas, dan juga memiliki berhektar-hektar sawah warisan keluarga.


Putra bungsunya itu adalah salah satu siswa berprestasi di daerahnya, dan cita-cita Fatih ingin menjadi dokter sangat didukung oleh bapak serta ibunya. Fatih mempunyai kakak laki-laki, dia seorang sarjana pendidikan. Kakaknya sudah menikah dan bekerja sebagai guru di salah satu SMA di Kuningan.


Fatih mencari-cari kontak bapaknya dan segera menyambungkan panggilannya.


"Halo?" sahut sang bapak diseberang sana.


"Pak, aku kepengen dibelikan motor trail. Boleh ya Pak," semburnya lugas tanpa basa-basi.


"Motor trail... buat apa?" tanya bapaknya keheranan.


"Pokoknya aku pengen motor trail sekarang juga... kumohon Pak, boleh ya ya ya...." Fatih mulai merengek.


"Kau pikir motor trail itu murah? minta kok seenaknya! Lagipula untuk apa, kamu itu kan kuliah kedokteran, bukannya mau jadi pembalap!" tegasnya.


"Pak, aku pokoknya kepengen banget. Demi kelangsungan masa depanku, tolonglah anakmu ini Pak. Gimana kalau Bapak jual sapi beberapa ekor, jadi uangnya bisa kupakai untuk membeli motor. Gampang kan," ucapnya asal.


"Belajar yang bener! Jangan aneh-aneh. Sekolahmu itu biayanya udah mahal banget, ini ditambah pengen motor pula. Kamu kan sudah punya mobil yang Bapak belikan untuk dipakai bepergian. Minta motor kok kesannya genting banget kayak yang belum bayar biaya semesteran."


"Pokoknya Nggak boleh! Lagian, sejak kapan kamu tertarik dengan hal-hal begini? biasanya kalau dibawa ngebut sama kakakmu, kamu langsung mules-mules," ejek si bapak dengan sengaja karena kenyataannya memang begitu adanya.


"Aduh Pak... motor trail ini menyangkut tentang gadis yang ingin kunikahi," gerutu Fatih sembari menendang-nendangkan kakinya ke udara kemudian berguling-guling di atas ranjangnya.


"Apa! Kuliah aja belum lulus udah kepengen nikah. Ya ampun Fatih, kebanyakan makan makanan kota kamu jadi begini."


"Ya nikahnya nggak sekarang. Cuma butuh usahanya dimulai dari saat ini, nanti keburu diembat orang. Lalu bagaimana dengan nasib cikal bakal cucu Bapak yang bersemayam di tubuhku, apakah harus kusalurkan pada guling yang kupeluk tiap malam? guling tak mempunyai wadah cetakan untuk mengembang biakkan benihku, hanya dia yang paling cocok dan sempurna untukku. Pokoknya aku gak bakalan mau nikah sama gadis manapun nantinya kalau bukan sama dia!" Fatih merajuk seperti bocah demi motor trail yang dimaksudkan untuk memikat si tomboi Freya.


Terdengar helaan napas jengkel sang bapak di seberang sana. Putra bungsunya ini adalah spesies ajaib yang kadang berperilaku absurd. Entah apa yang merasuki anaknya kali ini, merengek meminta sebuah motor trail tak ubahnya seperti wanita ngidam yang menginginkan sesuatu.


"Begini saja, kuliahmu itu kan tinggal satu tahun lagi. Jika tahun depan kamu bisa lulus dengan hasil yang memuaskan, Bapak akan belikan motor trail yang kamu inginkan dan melamarkan gadis yang membuatmu gila itu."


"Tahun depan terlalu lama Pak. Aku keburu lumutan kalo motornya baru dibelikan tahun depan," protesnya.


"Pokoknya keputusan bapak tidak akan berubah. Belajar yang bener. Titik!"