
Di gelapnya malam yang semakin kelam, rintik gerimis membasahi semesta alam, serupa lagu tidur yang membuai setiap insan, bak dayang pengiring pengantar jiwa-jiwa yang lelah ke peraduan.
Wira dan Dara tertidur begitu lelap dengan damainya, tanpa mereka sadari sebetulnya keduanya saling membutuhkan, seolah diciptakan untuk mempunyai kecocokan satu sama lain.
Dara yang masih belia dengan tubuh rapuhnya, membutuhkan seseorang seperti Wira. Seseorang yang dewasa, yang bisa menopang dan membimbingnya serta mampu melindunginya. Seperti halnya saat kaki Dara terkilir, ia membutuhkan seseorang untuk membantunya di sisinya.
Sementara Wira yang terluka dengan mimpi buruk yang selalu menghantuinya, ternyata secara tidak langsung dirinya membutuhkan Dara. Sentuhan lembut gadis kurus itu berefek sangat besar terhadapnya, tak disangka mampu menenangkan jiwanya yang dirundung duka. Juga alam mimpinya yang dirampas oleh sang mimpi buruk, kembali bersemi indah saat Dara berada didekatnya.
*****
Pagi itu Wira terjaga lebih dulu ketika sang surya masih belum menyapa bumi untuk menghangatkan dan menerangi. Kepalanya yang semalam berdenyut dengan hebatnya, kini terasa lebih ringan meskipun belum sepenuhnya hilang. Netra tajam dengan iris coklat memesona itu terbuka perlahan, tangan kanannya menyentuh keningnya dan ternyata demamnya sudah mulai membaik.
Wira hendak bangun, tetapi ia merasakan ada beban berat yang menindih separuh dadanya, pria itu menundukkan pandangannya dan melebarkan matanya mendapati Dara yang tertidur pulas di atas dadanya, mendesakkan merapatkan diri dan memeluknya seolah mencari kehangatan di sana.
Wira terkejut, sejak kapan Dara tidur didekatnya? Batinnya. Ia memutar otak dan mencoba mengingat-ingat, kemudian kepingan-kepingan kejadian semalam mulai berlalu lalang. Hal pertama yang diingatnya adalah ketika meminta Dara untuk menemaninya tidur, disusul ingatan-ingatan lain yang satu persatu mulai berkumpul dengan utuh di kepalanya. Lalu saat dia bisa mengingat dengan baik apa yang terjadi semalam, kejadian dirinya mencium Dara dengan kasar terpampang jelas di benaknya.
"Haish, apa yang kulakukan." Wira mengumpat kepada dirinya sendiri, mengusap wajahnya kasar dan menjambak rambutnya frustasi.
Lalu tangannya terulur hendak menepuk pipi Dara untuk membangunkannya. Namun, dia mengurungkannya karena tidak tega melihat gadis kurus itu tertidur begitu pulas. Wira bangun sepelan mungkin dengan tangan menahan tubuh Dara agar pergerakannya tidak mengusik gadis itu dari tidurnya.
Setelah Wira berada di posisi duduk di atas ranjang, dengan hati-hati dan pasti ia meraup tubuh kurus itu dan membaringkannya di atas tempat tidur. Mata Dara masih terpejam tetapi tangannya menggapai-gapai seperti mencari sesuatu untuk dipeluknya, Wira secepat mungkin meraih guling terdekat lalu merapatkannya ke sisi tubuh Dara dan gadis itu langsung memeluk guling tersebut dengan posesif. Wira menyelimutinya, ditatapnya si polos yang tertidur itu. Ia sama sekali tak menyangka, ternyata sentuhan tangan Dara secara ajaib mampu menenangkan kegelisahannya.
Dirapikannya rambut-rambut berantakan yang menutupi pelipis Dara, tanpa di suruh telapak tangannya membelai lembut pipi gadis itu hingga dagu dan tak sengaja jemarinya menyentuh bibir ranum berwarna pink tersebut.
Wira merasa dirinya disengat oleh kekuatan tak kasat mata, apalagi ketika ia mengingat kembali ciumannya tadi malam. Pantas saja rasanya agak berbeda, ternyata yang dicicipinya adalah bibir Dara bukan Almira. Kelembutan bibir ranum merekah itu memenuhi isi kepalanya, ada desiran berbeda yang sulit diartikan olehnya. Dengan cepat Wira menepisnya, kemudian segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh serta pikirannya.