You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 146



"Pak, ambil lajur kiri ke kawasan pemakaman. Apa mobil ini tidak bisa lebih cepat lagi?" keluh Wira dengan tak sabaran.


"Maaf Tuan. Ini sudah kecepatan maksimal yang saya bisa. Jika dipacu lebih dari ini khawatir terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Sabar ya Tuan, saya akan berusaha yang terbaik agar segera sampai di sana," sahut Pak Jono mencoba menenangkan Wira yang sejak tadi tak henti-hentinya gusar serta gelisah.


Berpuluh-puluh kali Wira menghubungi ponsel Dara, tetapi sepertinya gawai milik istrinya itu dimatikan atau entah kehabisan baterai.


Wira mencoba menenangkan diri dengan menghirup napas dalam-dalam dan menyandarkan punggungnya di sandaran empuk kursi mobil mewah itu.


Ia seperti sedang berolahraga jantung, ketika kembali mengingat Dara yang tengah hamil muda dan masih rentan malah mengendarai motor hingga sejauh ini. Hatinya tak henti-hentinya berdo'a, agar istri dan anaknya selalu dalam lindungan Tuhan.


Tak lupa, ia juga mengubungi pihak kampus untuk menanyakan dan memastikan apa saja yang ibunya lakukan saat berkunjung tadi siang.


*****


Suasana semakin gelap. Dara melirik jam tangan yang melingkar manis di pergelangan tangannya dan waktu menunjukkan pukul delapan malam. Ia mencoba berdiri sambil berpegangan pada pohon Flamboyan di dekatnya karena kakinya terasa keram efek terlalu lama bersimpuh. Lalu tangannya bergerak menepuk-nepuk lututnya membersihkan tanah dan daun kering yang menempel di sana.


Dara belum menyadari bahwa mobil Wira baru saja tiba. Pria tampan itu turun dengan tidak sabaran dan langsung berlari memasuki area pemakaman. Netra tajamnya mencari letak pohon Flamboyan di mana istri pertamanya itu di makamkan. Sudah pasti Dara datang ke sini untuk mengunjungi Almira dan juga Arif.


Dara terkesiap. Ia terkejut tiba-tiba ada yang merengkuh tubuhnya. Tetapi kemudian seberkas senyuman terukir di wajah sembabnya, ia mengenali wangi tubuh seseorang yang sedang memeluknya dari belakang itu. Aroma pria pemilik hatinya.


"Jangan pernah begini lagi. Jangan pergi sendirian lagi. Aku hampir putus asa memikirkan kemungkinan dirimu pergi meninggalkanku," ucap Wira serak dengan suara berat tersendat.


Dara mengurai pelukan erat Wira dan membalikkan badannya. Tampilan suaminya tampak acak-acakan, bahkan kini buliran bening terjun bebas dari sudut matanya. Dara menangkupkan kedua tangannya di wajah tampan itu, ia berjinjit dan mengecupi mata suami tercintanya.


"Maaf, aku salah Mas. Aku takkan pernah begini lagi. Jangan menangis sayang, hmm." Dara menatap netra kelam milik Wira dengan penuh cinta.


Wira merengkuh kembali tubuh mungil itu ke dalam dekapan hangatnya yang menentramkan jiwa. Ia menghidu aroma istri tercintanya dengan rakus untuk memuaskan jiwanya yang kelaparan.


"Jangan pernah berani-beraninya kamu berpikir untuk pergi dariku. Bila perlu, aku akan merantai kakimu agar kamu selalu berada di sisiku. Ini perintah, tak bisa di ganggu gugat. Kamulah binar hidupku. Tanpamu jiwaku tersesat dalam gelap, kemudian layu dan mati," desah Wira lirih.


Dara balas memeluk dan melingkarkan lengannya di punggung kokoh itu.


"Tidak akan. Hukum saja aku bila itu terjadi. Bahkan jika suatu saat Mas mengusirku pergi, aku akan tetap teguh berdiri di sampingmu. Kamulah tempatku bernaung. Aku dan anak kita membutuhkanmu. Sangat," sahut Dara lembut dalam dekapan hangat suaminya.