You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 196



Dara memberanikan diri memberi usulan semacam itu meskipun terasa malu luar biasa. Ia hanya ingin memastikan suaminya terpenuhi kebutuhan batinnya karena itu adalah salah satu kewajibannya sebagai seorang istri.


Jika dirinya tak dapat memenuhi dan melayani dengan baik, terbersit sedikit rasa takut dan khawatir jika sang suami malah mencari kepuasan di luar sana meskipun ia percaya seratus persen bahwa Wira bukanlah pria semacam itu.


Wira memicingkan mata, mengubah posisinya menjadi duduk lalu meraih dagu Dara. "Maksudnya bagaimana?"


"I-itu ak-aku... aku akan membantu untuk me-meredakannya agar Mas bisa beristirahat." Tunjuk Dara malu-malu ke arah pusat tubuh suaminya.


Ini adalah pertama kalinya Dara menawarkan diri terlebih dahulu, Wira terkekeh pelan lalu mengecup sekilas bibir ranum Dara. "Jangan dipaksakan, aku baik-baik saja. Ayo, tidur lagi," ajak Wira sembari menepuk-nepuk bantal di sampingnya.


"A-aku sunguh ingin membantu, itu pasti rasanya tidak nyaman kan?" Matanya bergulir berkilauan menatap Wira, penuh cinta dan ketulusan dari sorot netra indahnya.


"Sayang, sejujurnya aku ingin menyatu denganmu, sekarang juga. Akan tetapi kondisiku saat ini tak leluasa untuk bergerak aktif memesrai dan mencumbuimu. Aku ingin saat kita melebur bukan hanya aku yang merasakan kelegaan tapi kamu juga harus merasakan hal yang sama." Wira mengusap-usap lembut sisi wajah Dara penuh sayang.


"Ba-bagaimana k-kalau untuk kali ini biarkan aku mencoba? aku percaya Mas bisa membimbingku agar kita bisa meraih rasa lega bersama-sama."


Wajah Dara benar-benar sudah memerah seperti tomat saat ini, berusaha memukul mundur rasa malunya karena membahas topik yang sangat intim walaupun ia membicarakannya dengan suaminya, seseorang yang berhak atas dirinya.


Walaupun dengan tersipu-sipu malu, tetapi istrinya itu benar-benar tulus ketika menawarkan diri. Pasti tak mudah bagi Dara mengusulkan hal tersebut kepadanya, butuh keberanian serta menekan rasa canggungnya untuk mengutarakan hal seintim ini.


Wira tersenyum lebar. Rasa bahagia membuncah tak tertahankan, merasa dirinya begitu dicintai, disayangi, dihargai, dijadikan prioritas dan juga diperhatikan kebutuhan lahir serta batinnya oleh istrinya.


Dara mengangguk pelan sebagai tanggapan bahwa bahwa dirinya benar-benar yakin dengan ucapannya. Ia bergerak memagut bibir Wira terlebih dahulu, mencicipinya sejenak lalu melepaskannya kembali.


Wira menempelkan keningnya di kening Dara diikuti deru napas yang mulai memburu. "Aku menginginkanmu, sangat," desisnya penuh hasrat dengan mata terpejam tepat di depan bibir Dara yang basah dan merekah.


"Biarkan aku melayanimu, Mas," pintanya dengan dada naik turun seirama.


"Lakukanlah. Aku milikmu, sayang." Wira berkata dengan nada serak kemudian menyatukan bibir mereka sebagai awal menuju peleburan gelora cinta dalam pemenuhan kebutuhan batin satu sama lain.


*****


Pagi ini, atmosfer ruang makan rumah besar Aryasatya terasa begitu hangat. Mereka berempat berkumpul duduk bersama untuk menikmati sarapan.


"Semalam, Ayah dan Ibu sudah sepakat untuk mengatur ulang pesta pengumuman pernikahan kalian. Situasi memanas sudah teratasi, jadi kita bisa fokus dalam mempersiapkannya," ucap Haris di sela-sela menikmati kopi premium tanpa gula di cangkir putih bermotif ukiran tinta emas.


"Aku serahkan dan percayakan semuanya pada Ayah dan Ibu," sahut Wira riang dan ringan.


"Bagaimana kalau minggu depan saja, lebih cepat lebih baik bukan?" Ratih menimpali penuh semangat.


"Kami setuju," jawab Dara dan Wira serempak.